Tag: UNEP

  • Menunggu Kabar Baik dari Perundingan Plastik di Jenewa: Akankah Ada Pembatasan Produksi Plastik Global?

    Menunggu Kabar Baik dari Perundingan Plastik di Jenewa: Akankah Ada Pembatasan Produksi Plastik Global?

    7cloud.asia – Program Lingkungan PBB (UNEP) mengingatkan, jika tak ada perjanjian internasional yang disepakati bersama, sampah plastik diproyeksikan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2060.

    Ledakan sampah plastik ini akan menyebabkan kerusakan yang signifikan, baik pada lingkungan maupun terhadap kesehatan manusia.

    UNEP telah memfasilitasi perundingan internasional terkait penanganan sampah plastik, yang dihelat di Jenewa, Swiss pada 5 hingga 14 Agustus 2025. Perundingan ini merupakan lanjutan dari serangkaian perundingan yang dimulai pada tahun 2022.

    Saat itu, negara-negara anggota sepakat untuk mengembangkan instrumen internasional yang mengikat guna mengakhiri krisis polusi plastik, dalam waktu tiga tahun atau harus terealisasi tahun 2025

    “Mendaur ulang bukanlah jalan keluar dari krisis polusi plastik: Dunia membutuhkan transformasi sistemik untuk mencapai transisi menuju ekonomi sirkular,” tegas Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen saat membuka perundingan plastik tersebut.

    Menurut draft yang digunakan untuk memandu perundingan Komite Negosiasi Antarpemerintah (INC) Jenewa tersebut, tujuan kesepakatan ini mencakup pengaturan seluruh siklus hidup plastik, mulai dari desain hingga produksi dan pembuangan.

    Baca: INC Jenewa diharapkan mampu mengerem produksi plastik global

    “Untuk mendorong sirkularitas plastik dan mencegah kebocoran plastik ke lingkungan,” demikian dikutip un.org.

    Draft setebal 22 halaman ini berisi 32 draf pasal yang membahas secara rinci pengelolaan siklus plastik global. Teks ini dirancang untuk membentuk instrumen masa depan dan akan berfungsi sebagai titik awal negosiasi.

    Delegasi dari 179 negara akan mempelajari teks tersebut bersama lebih dari 1.900 peserta lain dari 618 organisasi pengamat termasuk ilmuwan, pemerhati lingkungan, dan perwakilan industri.

    Tujuan utama pertemuan ini adalah untuk mencapai kesepakatan akhir mengenai pembatasan produksi plastik dunia. Tujuan yang lebih luas adalah untuk memperkuat cara-cara yang telah teruji dan terbukti untuk mengurangi polusi plastik di seluruh dunia.

    Menjelang perundingan di Jenewa, jurnal medis ternama The Lancet menerbitkan peringatan bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam plastik menyebabkan penyakit yang luas “di setiap tahap siklus hidup plastik dan di setiap tahap kehidupan manusia”.

    Mengutip puluhan pakar kesehatan dari seluruh dunia, laporan itu menyebut bayi dan anak-anak sangat rentanvterhadap polusi plastik.

    Baca: Perjalanan panjang menuju lahirnya perjanjian plastik global

    “Plastik merupakan bahaya yang serius, terus berkembang, dan kurang disadari bagi kesehatan manusia dan planet ini” dan bertanggung jawab atas kerugian ekonomi terkait kesehatan yang melebihi 1,5 triliun dolar per tahun,” catat jurnal tersebut.

    Perundingan plastik di Jenewa ini dipimpin adalah Jyoti Mathur-Filipp, Sekretaris Eksekutif Komite Negosiasi Antarpemerintah (atau INC) tentang Polusi Plastik, dan Kepala Sekretariat INC.

    “Pada tahun 2024 saja, umat manusia diproyeksikan akan mengonsumsi lebih dari 500 juta ton plastik. Dari jumlah tersebut, 399 juta ton akan menjadi sampah,” ujarnya.

    Prakiraan terbaru menunjukkan bahwa kebocoran plastik ke lingkungan akan meningkat 50 persen pada tahun 2040.

    “Biaya kerusakan akibat polusi plastik dapat meningkat hingga mencapai 281 triliun dolar kumulatif antara tahun 2016 dan 2040,” ujarnya.

    Baca: Daur ulang tak akan mampu mengatasi ledakan polusi plastik global

  • UNEP: Sudah Saatnya Dunia Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya

    UNEP: Sudah Saatnya Dunia Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya

    7cloud.asia – Laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) memperkirakan sampah kota di dunia bakal meningkat dua pertiga dan biayanya hampir dua kali lipat dalam satu generasi.

    Karena itu butuh upaya pengurangan drastis produksi sampah untuk menjamin masa depan planet Bumi yang layak huni dan terjangkau.

    Berjudul “Beyond an age of waste: Turning rubbish into a resource” the UNEP Global Waste Management Outlook 2024 (GWMO 2024), laporan ini memberikan pembaruan paling substansial tentang jumlah sampah global dan biaya sampah serta pengelolaannya sejak 2018.

    Analisis ini menggunakan penilaian siklus hidup untuk mengeksplorasi apa yang bisa diperoleh atau hilang dengan melanjutkan bisnis seperti biasa, mengadopsi langkah-langkah setengah jalan, atau berkomitmen penuh pada masyarakat tanpa sampah dan ekonomi sirkular.

     

     

    Baca: Saatnya mengonsumsi secara bertanggung jawab untuk mengurangi sampah

    Menurut laporan tersebut, jumlah sampah kota diperkirakan akan tumbuh dari 2,3 miliar ton pada tahun 2023 menjadi 3,8 miliar ton pada tahun 2050.

    Pada tahun 2020, biaya langsung global untuk pengelolaan sampah diperkirakan mencapai 252 miliar dolar atau sekitar Rp4.183 triliun.

    Namun, jika memperhitungkan biaya tersembunyi berupa polusi, kesehatan yang buruk, dan perubahan iklim akibat praktik pembuangan sampah yang buruk, biayanya meningkat menjadi 361 miliar dolar atau sekitar Rp5.995 triliun.

    Tanpa tindakan segera dalam pengelolaan sampah, pada tahun 2050 biaya tahunan global ini dapat meningkat hampir dua kali lipat menjadi 640,3 miliar dolar atau sekitar Rp10.633 triliun. Jumlah yang sangat besar bukan?

    Pemodelan dalam laporan ini menunjukkan, pengendalian sampah dengan mengambil langkah-langkah pencegahan dan pengelolaan sampah dapat membatasi biaya tahunan bersih hingga 270,2 miliar dolar pada tahun 2050.

    Baca: Perjanjian global untuk cegah migrasi sampah plastik sering disalah-gunakan

    Namun, proyeksi menunjukkan bahwa model ekonomi sirkular, di mana produksi sampah dan pertumbuhan ekonomi dipisahkan melalui penerapan penghindaran sampah, praktik bisnis berkelanjutan, dan pengelolaan sampah secara menyeluruh, justru dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar 108,5 miliar dolar per tahun.

    Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen mengatakan, timbulnya sampah secara intrinsik terkait dengan PDB, dan banyak negara dengan pertumbuhan pesat sedang berjuang melawan beban pertumbuhan sampah yang pesat.

    Dia menekankan pentingnya mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti menuju masa depan yang lebih berdaya dan menekankan peran penting para pengambil keputusan di sektor publik dan swasta untuk bergerak menuju nol sampah.

    Dengan prospek Pengelolaan Sampah Global ini dapat mendukung upaya mencegah hilangnya peluang untuk menciptakan masyarakat yang lebih berkelanjutan.

    ”Upaya ini sekaligus mengamankan planet Bumi yang lebih layak huni bagi generasi mendatang,” kata Inger Andersen.

    Baca: Ledakan sampah plastik memicu penjajahan gaya baru

    GWMO 2024 adalah panduan dan ajakan bertindak untuk mengkatalisasi upaya kolektif dalam mendukung solusi yang berani dan transformatif, membalikkan dampak buruk dari praktik pengelolaan sampah saat ini, dan memberikan manfaat nyata bagi setiap individu yang hidup di planet ini.

    “Tindakan-tindakan ini berperan penting dalam mempercepat pencapaian Agenda 2030. Sebagai mitra dan pendukung GWMO sejak awal, ISWA akan memastikan GWMO disebarluaskan dan diimplementasikan di lapangan dengan memberikan dukungan yang dibutuhkan untuk mengatasi tantangan yang saat ini diamati,” ujar Carlos Silva Filho, Presiden ISWA.

    Temuan laporan ini menunjukkan bahwa dunia perlu segera beralih ke pendekatan tanpa sampah, sekaligus meningkatkan pengelolaan sampah untuk mencegah polusi yang signifikan, emisi gas rumah kaca, dan dampak negatif terhadap kesehatan manusia.

    Laporan itu mengingatkan, polusi akibat sampah tidak mengenal batas wilayah, sehingga menjadi kepentingan semua pihak untuk berkomitmen pada pencegahan sampah dan berinvestasi dalam pengelolaan sampah di tempat yang masih kurang.

    “Solusinya tersedia dan siap untuk ditingkatkan. Yang dibutuhkan saat ini adalah kepemimpinan yang kuat untuk menetapkan arah dan langkah yang diperlukan, serta memastikan tidak ada yang tertinggal,” ujar Zoë Lenkiewicz, penulis utama laporan ini.

  • Kerusakan Lingkungan Akibat Perang di Gaza Sangat Parah, Butuh Waktu Puluhan Tahun untuk Pemulihan

    Kerusakan Lingkungan Akibat Perang di Gaza Sangat Parah, Butuh Waktu Puluhan Tahun untuk Pemulihan

    7cloud.asia – Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) baru-baru ini merilis laporan mengenai hasil pemantauan kerusakan akibat konflik di Gaza, Palestina.

    Laporan ini disusun atas permintaan Palestina. Ini merupakan yang kedua kalinya sejak Oktober 2023 UNEP melakukan penilaian lingkungan terhadap kerusakan akibat konflik di Gaza.

    Karena kendala keamanan, staf UNEP tidak dapat melakukan perjalanan ke Gaza. Penilaian dilakukan melalui kombinasi penginderaan jarak jauh, termasuk analisis citra satelit, dan observasi lapangan oleh badan-badan PBB lainnya.

    Hampir dua tahun dilanda konflik, telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sangat parah dan belum pernah terjadi sebelumnya di Jalur Gaza.

    Baca: Hebatnya dampak lingkungan yang dipicu perang Gaza

    Laporan terbaru UNEP ini menyebut, perang di Gaza telah merusak vegetasi, tanah, pasokan air tawar, dan garis pantainya. Pemulihan dari kerusakan lingkungan di Gaza tersebut dapat memakan waktu puluhan tahun.

    Berdasarkan hampir semua ukuran, lingkungan wilayah Gaza telah memburuk secara drastis sejak penilaian terakhir pada Juni 2024.

    Misalnya, jumlah puing telah meningkat 57 persen dan sekarang 20 kali lebih besar daripada total puing yang dihasilkan oleh semua konflik di Gaza sejak 2008.

    “Situasinya semakin memburuk, Jika ini terus berlanjut, akan meninggalkan warisan kerusakan lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan generasi penduduk Gaza.” ujar Direktur Eksekutif UNEP, Inger andersen seperti dikutip di laman resmi UNEP.

    Baca: Greenpeace mendesak dampak lingkungan akibat perang Gaza dibahas di UNEA

    Laporan ini merupakan bagian dari upaya UNEP yang lebih luas untuk membantu negara-negara mengatasi dampak lingkungan akibat bencana dan konflik. Sejak 1999, UNEP telah mendukung lebih dari 40 negara yang terdampak krisis.

    Penilaian tersebut mencakup 30 rekomendasi untuk memulihkan kerusakan lingkungan Gaza. Rekomendasi tersebut meliputi rekonstruksi cepat infrastruktur air dan pembuangan limbah.

    Juga pengujian sistematis tanah Gaza untuk kontaminasi, pembuangan – dan sedapat mungkin didaur ulang – puing-puing, dan pembuangan amunisi yang aman.

    Penilaian tersebut menyatakan bahwa pemulihan lingkungan Gaza akan bergantung pada perencanaan yang cermat, inklusif, dan berbasis sains.

  • UNEP: Kegigihan dan Kesabaran Jadi Kunci Lahirnya Perjanjian Plastik Global

    UNEP: Kegigihan dan Kesabaran Jadi Kunci Lahirnya Perjanjian Plastik Global

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) meminta negara-negara Anggota untuk menunjukkan kegigihan, kesabaran, dan dialog berkelanjutan untuk menemukan jalan terwujudnya perjanjian plastik global.

    Dilansir di laman resminya, UNEP siap mendukung negara-negara anggotanya menjalani langkah-langkah menuju niat mereka untuk bertemu kembali pada sesi negosiasi perjanjian plastik global.

    ”Dan saat Anda memikirkan langkah selanjutnya, yakinlah bahwa upaya UNEP dalam mengatasi polusi plastik akan terus berlanjut,” ujar Inger saat menyampaikan pidatonya di Sidang Umum PBB ke-80 di New York AS, beberapa waktu lalu.

    Dalam kesempatan itu, Inger menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Kenya dan Norwegia atas komitmen mereka dalam memajukan upaya menyepakati instrumen yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.

    Pada INC-5.2, taruhannya tinggi dan harapan untuk mencapai teks perjanjian semakin tinggi. Namun, ujarnya, dunia tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.

    Kompleksitas geopolitik, tantangan ekonomi, dan ketegangan multilateral menciptakan lingkungan negosiasi yang sulit.

    Baca: Perundingan Perjanjian Plastik Global berakhir tanpa kesepakatan

    Namun, Inger menegaskan bahwa kebuntuan ini bukanlah akhir yang definitif, melainkan hanya akhir dari sesi tersebut. Dan kemajuan penting telah dicapai setelah sepuluh hari diplomasi yang penuh perjuangan.

    ”Delegasi-delegasi membahas lebih mendalam semua aspek teks perjanjian. Kami melihat proposal-proposal yang konstruktif. Posisi-posisi yang semakin jelas. Konvergensi yang semakin meningkat pada elemen-elemen kunci perjanjian,” ujarnya.

    Dia melanjutkan, negara-negara sepakat untuk bersidang kembali pada tanggal yang akan diumumkan. Yang terpenting, setiap negara menunjukkan keinginan mereka untuk mengakhiri dampak lingkungan, ekonomi, dan kesehatan dari polusi plastik.

    Dunia, ujarnya, jauh lebih dekat untuk mewujudkan mandat yang diberikan oleh Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    Mencapai kesepakatan tidak akan mudah. Perpecahan masih terjadi dalam lingkup, produksi, produk plastik, keuangan, dan pengambilan keputusan. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyeimbangkan antara aturan yang mengikat secara global dan langkah-langkah nasional.

    Masyarakat dunia membutuhkan waktu. Perlu diingat bahwa negosiasi serupa membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada tiga tahun yang telah dilalui dalam mewujudkan perjanjian plastik global.

    Baca: 80 Negara dukung proposal Swiss dan Meksiko dalam mengatasi polusi plastik

    Forum di New York ini, menurut Inger, merupakan kesempatan untuk mendengarkan dan membahas langkah selanjutnya.

    Sesi ke-7 Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi momen refleksi penting lainnya. Periode antar-sesi ini harus dimanfaatkan untuk mempersempit kesenjangan.

    Yang terpenting, kita sekarang membutuhkan jalur yang jelas yang memastikan terciptanya kondisi untuk hasil yang bermakna. Ini harus mencakup dialog lebih lanjut antar Negara Anggota untuk mengeksplorasi zona pendaratan yang layak.

    ”Oleh karena itu, saya mendorong negara-negara untuk terus berinteraksi satu sama lain. Tidak hanya dengan kelompok yang mereka setujui. Tetapi juga dengan kelompok yang tidak mereka setujui. Dengan cara inilah garis merah dan kompromi negosiasi dapat ditemukan,” tandansya.

    Keterlibatan pengamat yang berkelanjutan juga penting untuk memastikan legitimasi, transparansi proses, dan efektivitas instrumen.

    Inger mengingatkan, polusi plastik ada di alam, di lautan, dan bahkan telah menyusup ke dalam tubuh manusia. Tantangan lingkungan, ekonomi, dan kesehatan akan terus meningkat. Karena itu masyarakat dunia harus bersama-sama mengatasi polusi plastik.

    Baca: Posisi negara-negara di dunia dalam menangani sampah plastik

  • UNEP: Dana untuk Konservasi Hutan Global Tidak Mencukupi dan Banyak Salah Sasaran

    UNEP: Dana untuk Konservasi Hutan Global Tidak Mencukupi dan Banyak Salah Sasaran

    7cloud.asia – Baru-baru ini Program Lingkungan PBB/UNEP merilis laporan terbarunya, bertajuk “2025 State of Finance for Forests: Unlock. Unleash. Realizing forest potential requires tripling investment in forests by 2030,”.

    Laporan ini mengkaji bagaimana mewujudkan potensi hutan yang membutuhkan investasi hutan tiga kali lipat pada tahun 2030.

    Dalam laporan itu UNEP mengidentifikasi untuk pertama kalinya skala kesenjangan keuangan yang menghambat pengelolaan hutan lestari, meskipun terdapat komitmen yang dibuat berdasarkan perjanjian internasional seperti Konvensi Rio, Perjanjian Paris, dan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal.

    Temuan utama laporan Keadaan Keuangan Hutan meliputi adanya Pendanaan tahunan saat ini (2023): Total sebesar 84 miliar dolar yang terdiri dari:
    – 75 miliar dolar dari sumber publik domestik (88 persen)
    – 3 miliar dolar dari sumber publik internasional (3 persen)
    – 7,5 miliar dolar dari pendanaan swasta (9 persen)

    Sedangkan pendanaan tahunan yang dibutuhkan dari sumber publik dan swasta:
    – 300 miliar dolar pada tahun 2030
    – 498 miliar dolar pada tahun 2050

    Baca: UNEP dorong peningkatan investasi pelestarian hutan global

    Laporan ini menemukan kesenjangan pendanaan hutan tahunan sebesar 216 miliar dolar antara arus keuangan saat ini dan investasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kehutanan global pada tahun 2030.

    Laporan ini memperingatkan, modal yang ada yang diarahkan untuk konservasi, restorasi, dan pemanfaatan hutan berkelanjutan tidak hanya tidak mencukupi tetapi juga salah sasaran.

    Lebih lanjut, insentif yang menyimpang mengerdilkan investasi positif: subsidi yang berpotensi merusak lingkungan di bidang pertanian melebihi 400 miliar dolar per tahun, berkontribusi pada hilangnya 2,2 juta hektare hutan setiap tahun

    Angka ini setara dengan area yang lebih dari 30 kali luas Nairobi, kota tuan rumah kantor pusat UNEP.

    Laporan tersebut menekankan bahwa menyelaraskan pembangunan ekonomi dengan perlindungan hutan akan membutuhkan pengalihan modal dari kegiatan yang berkaitan dengan deforestasi dan menyelaraskan kembali insentif fiskal dan kebijakan dengan tujuan ketahanan pangan dan keberlanjutan.

    Baca: Bagaimana dunia seharusnya memahami dana ‘loss and damage’

    Investasi masih minim
    Sementara itu, meskipun ratusan perusahaan telah berjanji untuk mencapai nol deforestasi pada tahun 2030, investasi dalam rantai pasokan berkelanjutan masih minim.

    Laporan tersebut menguraikan sumber-sumber potensial untuk mengisi kesenjangan pendanaan. Laporan tersebut juga merekomendasikan untuk memprioritaskan pendanaan untuk perlindungan hutan sebagai pendekatan yang sangat hemat biaya.

    Dibandingkan dengan restorasi hutan atau kegiatan positif lainnya untuk hutan, perlindungan hutan hanya membutuhkan 32 miliar dolar dari total pendanaan tahunan tambahan yang dibutuhkan pada tahun 2030, sementara mencakup 80 persen dari total luas lahan yang dibutuhkan.

    UNEP berkomitmen untuk mengintegrasikan aksi kehutanan ke dalam rencana nasional, termasuk strategi mitigasi dan adaptasi iklim, memberikan insentif bagi pengelolaan hutan oleh masyarakat lokal.

    UNEP juga bekerja sama dengan pemerintah, bisnis, dan lembaga keuangan untuk menutup kesenjangan investasi kehutanan dan mengalihkan modal dari kegiatan terkait deforestasi.

    Baca: Risiko besar di balik ‘gula-gula’ pasar karbon dunia

  • UNEP Merilis Program Senilai 100 Juta Dolar untuk Mendorong Aksi Iklim Dunia

    UNEP Merilis Program Senilai 100 Juta Dolar untuk Mendorong Aksi Iklim Dunia

    7cloud.asia – Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) dan Fasilitas Lingkungan Hidup Global (GEF), bersama dengan Bank Pembangunan Amerika Latin (CAF) dan Bank Pembangunan Asia (ADB), baru-baru ini meluncurkan Net-Zero Nature-Positive Accelerator Integrated Programme.

    Dengan pendanaan sebesar 100 juta dolar AS dari GEF dan pembiayaan bersama sebesar 700 juta dolar AS, program ini akan dipimpin oleh UNEP, dengan CAF dan ADB sebagai pemimpin bersama.

    Inisiatif ini berupaya menyelaraskan pelestarian keanekaragaman hayati dan aksi iklim beserta tujuan-tujuannya, dengan mendorong transformasi sistemik di sektor ekonomi dan keuangan.

    Inisiatif ini akan memobilisasi pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat untuk mengambil tindakan terpadu yang mendesak dilakukan untuk mengatasi krisis iklim.

    Inisiatif ini dimunculkan, karena adanya kesadaran meskipun terdapat konsensus ilmiah yang jelas tentang keterkaitan antara perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, respons global masih terfragmentasi dan kekurangan dana.

    Baca: Dana untuk konservasi hutan global tidak mencukupi dan banyak salah sasaran

    Anggaran publik seringkali tidak selaras dengan tujuan lingkungan, dan sistem fiskal jarang memberikan insentif bagi modal swasta dalam skala yang dibutuhkan. Kurangnya koherensi ini mengancam kemajuan target iklim dunia.

    Program ini bertujuan untuk mendukung negara-negara di dunia dalam menyelaraskan tujuan iklim mereka, termasuk mencapai emisi nol dan upaya mereka untuk melindungi keanekaragaman hayati – dengan mengintegrasikan keduanya ke dalam rencana nasional mereka.

    Program ini mendukung implementasi Perjanjian Paris, Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, dan komitmen global lainnya melalui pendekatan inklusif yang melibatkan semua sektor ekonomi dan masyarakat.

    Program ini akan mendukung 12 negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin, untuk memadukan proyek tingkat nasional dan platform global untuk berbagi pengetahuan, pengembangan kapasitas, dan inovasi terkait aksi iklim.

    Adapun ke-12 negara tersebut adalah Chili, Kosta Rika, Pantai Gading, Indonesia, Mauritius, Meksiko, Maroko, Nigeria, Tanzania, Thailand, Trinidad dan Tobago, dan Vietnam.

    Baca: UNEP dorong peningkatan investasi untuk pelestarian hutan global

    Implementasi program di negara-negara tersebut akan didukung oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO), dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

    “Peluncuran Program Akselerator Terpadu Net-Zero Nature-Positive menandai tonggak penting dalam menyelaraskan pendanaan dengan tujuan iklim dan keanekaragaman hayati,” kata Carlos Manuel Rodríguez, CEO dan Ketua GEF.

    Dia menambahkan, pendanaan GEF membantu negara-negara di seluruh dunia meningkatkan ketahanan, dan mengatasi risiko krisis.

    “Program ini akan membantu negara-negara memobilisasi pendanaan dalam skala besar, mengintegrasikan solusi berbasis alam ke dalam strategi dekarbonisasi, dan mempercepat perubahan sistemik yang diperlukan untuk masa depan yang berkelanjutan,” ujar Carlos.

    Peluncuran inisiatif ini diumumkan pada acara tingkat tinggi yang diselenggarakan di sela-sela Pertemuan Tahunan Grup Bank Dunia/IMF 2025, dengan tema “Mengkatalisasi Keuangan Publik dan Swasta untuk Mempercepat Aksi Positif Net-Zero terhadap Alam”.

    Para Menteri Keuangan dari negara-negara peserta, para pemimpin bank pembangunan multilateral, perwakilan sektor swasta, dan organisasi internasional dipertemukan yang semuanya bersatu dalam tujuan mendorong investasi dan aksi bersama.

    Baca: Jelang COP 30, Brasil dorong inisiatif TFFF untuk pelestarian hutan tropis

    Program Terpadu ini dirancang untuk memberikan hasil yang terukur, termasuk restorasi atau peningkatan pengelolaan 1 juta hektare lahan dan pengurangan sekitar 75 juta ton emisi karbon.

    Langkah ini, diharapkan akan secara langsung mendukung upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati dan semua pihak bekerja sama untuk mengatasi tiga krisis planet: perubahan iklim, hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

    Wakil Ketua Koalisi Menteri Keuangan untuk Aksi Iklim (CFMCA), Dr. Sam Mugume dalam pidatonya menyatakan apresiasinya atas Program Akselerator Net-Zero Nature-Positive sebagai inisiatif yang tepat waktu dan transformatif.

    Dia menegaskan, saat dunia menghadapi realitas perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, menyelaraskan sistem keuangan dengan prioritas lingkungan bukan hanya dibutuhkan, tapi mendesak dilakukan.

    Program ini, ujarnya, menawarkan peluang unik untuk memobilisasi pendanaan publik dan swasta, membangun kapasitas kelembagaan, dan mengintegrasikan solusi berbasis alam ke dalam strategi pembangunan nasional kita.

    “Kami bangga dapat berdiri bersama mitra kami dalam memajukan masa depan yang berkelanjutan, tangguh, dan inklusif bagi semua,” ujar Muguma

    Kontribusi tambahan juga disampaikan oleh Menteri Keuangan Chili, Meksiko, Indonesia, dan Nigeria.

    Baca: Kerusakan hutan tropis sudah sangat meresahkan

     

  • UNEP: Emisi Gas Rumah Kaca 2024 Jauh Melampaui Target Perjanjian Paris

    UNEP: Emisi Gas Rumah Kaca 2024 Jauh Melampaui Target Perjanjian Paris

    7cloud.asia – Sebuah laporan PBB yang dirilis Selasa (4/11/2025) menyebut bahwa emisi gas rumah kaca global pada 2024 meningkat sebesar 2,3 persen dan mencatat rekor tertinggi yakni 57,7 miliar ton.

    Emisi gas rumah kaca tersebut jauh melebihi target yang ditetapkan dalam perjanjian iklim Paris 2015 untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius (°C) di atas tingkat pra-industri.

    Laporan tersebut juga memperingatkan suhu global dapat meningkat hingga 2,8°C pada abad ini kecuali ada tindakan cepat untuk mengatasinya.

    Bahkan jika semua negara yang terlibat Perjanjian Paris mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca mereka pada 2035, suhu global diproyeksikan akan naik sebesar 2,3 hingga 2,5°C, menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP).

    “Ini akan sulit untuk dibalikkan –memerlukan pengurangan tambahan yang lebih cepat dan lebih besar untuk emisi gas rumah kaca guna meminimalkan kelebihan emisi– dan mengurangi kerusakan terhadap kehidupan dan perekonomian,” demikian laporan itu memperingatkan.

    Jika Amerika Serikat secara resmi menarik diri dari Perjanjian Paris, suhu global berpotensi naik sebesar 0,1°C tambahan, kata laporan itu

    China tercatat memiliki emisi gas rumah kaca tertinggi pada 2024, yaitu 15,6 miliar ton. Amerika Serikat menyusul dengan 5,9 miliar ton, India dengan 4,4 miliar ton, Uni Eropa dengan 3,2 miliar ton, dan Rusia dengan 2,6 miliar ton.

    Kelompok 20 negara dengan perekonomian besar (G20), tidak termasuk Uni Afrika, menyumbang 77 persen dari total emisi gas rumah kaca dan tindakan yang lebih ambisius dituntut dari negara-negara anggotanya.

    Namun, mengingat skala pengurangan yang diperlukan dan waktu yang tersisa untuk mencapainya, suhu global rata-rata sangat mungkin melebihi 1,5°C dalam dekade berikutnya.

    Untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C pada 2035, dibutuhkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 55 persen dibanding emisi pada tahun 2019.  

    Namun, bahkan meskipun semua negara memenuhi target mereka saat ini, pengurangan tersebut diproyeksikan hanya mencapai sekitar 15 persen, menurut laporan tersebut.

    “Selama 10 tahun Perjanjian Paris, telah terjadi penurunan suhu yang cukup besar.Oleh karena itu, komunitas internasional sebaiknya mempercepat aksi iklim… Namun, kemauan politik untuk melakukannya masih kurang,” kata laporan itu.

    Sekarang, fokus dunia akan beralih ke Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, yang dikenal sebagai COP 30, di Brasil bulan ini, terkait apakah diskusi di sana dapat menghasilkan penguatan aksi iklim dunia.

    Sumber: Antaranews.com/Kyodo-OANA

  • Hari Tanpa Sampah Sedunia: Mengolah Sampah Organik untuk Kurangi Emisi

    Hari Tanpa Sampah Sedunia: Mengolah Sampah Organik untuk Kurangi Emisi

    7cloud.asia – Memperingati Hari Tanpa Sampah Sedunia (Zero Waste Day) yang jatuh pada 28 Maret setiap tahunnya, Program Lingkungan PBB (UNEP) menyerukan warga dunia untuk mengurangi sampah makanan dan mengolah sampah organik menjadi potensi ekonomi.

    Dilansir di laman resmi unep.org, Direktur Eksekutif UNEP, Inge Andersen mengatakan, Hari Tanpa Sampah Sedunia pertama kali diperingati tiga tahun lalu, dan difasilitasi oleh UNEP dan UN Habitat.

    Dalam kesempatan itu, Inge juga menyoroti kehilangan makanan (food loose)–yang terutama disebabkan oleh kurangnya penyimpanan yang tepat, rantai dingin, penanganan, infrastruktur, pengemasan, atau sistem pemasaran yang efisien.

    Dia mengatakan, semua opsi untuk mengatasi hal ini telah tersedia. Bersama dengan para mitra, UNEP mendukung negara-negara untuk menerapkan sistem rantai dingin berkelanjutan dengan menargetkan tahap awal rantai pasokan.

    UNEP juga mendukung negara-negara di dunia untuk membangun sistem rantai dingin berkelanjutan dan rendah emisi, serta memberdayakan petani kecil.

    Meskipun ada tindakan, beberapa limbah tetap akan terjadi. Namun, kita dapat mengubah limbah ini menjadi sumber daya berharga untuk tanah, energi terbarukan, dan ekonomi lokal.

    Yang semua ini, menurut Inge, dapat menciptakan lapangan kerja dan membuka peluang bisnis lokal.

    Dijelaskannya, sampah organik mewakili antara 30 dan 50 persen dari limbah kota, di beberapa negara bahkan mencapai 60 persen.

    “Tetapi limbah ini tidak perlu dibiarkan membusuk. Ini adalah sumber karbon dan nutrisi penting yang memicu aktivitas mikroba dan memulihkan kesehatan tanah,“ ujarnya

    Setelah diolah dan dikomposkan, sampah organik ini dapat dimasukkan kembali ke dalam sistem pangan – meningkatkan kesuburan tanah yang terdegradasi dan mengurangi ketergantungan petani pada pupuk, yang harga dan ketersediaannya dipengaruhi oleh guncangan global.

    Sampah organik, ujarnya, dapat direvitalisasi melalui Solusi Berbasis Alam seperti budidaya lalat tentara hitam, yang mengubahnya menjadi protein, sekaligus menciptakan lapangan kerja lokal.

    Mengubah sampah organik menjadi sumber daya akan menciptakan peluang bisnis lokal, mengubah biaya bagi pemerintah daerah menjadi pendapatan, dan secara dramatis mengurangi emisi metana.

    “Ini adalah bagian dari rencana percepatan ‘Tanpa Limbah Organik’ COP30, yang dikoordinasikan oleh Koalisi Iklim dan Udara Bersih yang dibentuk oleh UNEP,“ tandasnya.

    Oleh karena itu, Inge mengingatkan, masyarakat global perlu menerapkan pemisahan limbah organik di seluruh rumah tangga, pasar, dan bisnis.

    Menurutnya, menciptakan pasar yang stabil untuk produk dari limbah organik. Menetapkan target untuk larangan bertahap limbah organik dari tempat pembuangan sampah merupakan sinyal politik utama untuk menciptakan pasar ini.

    Inge melanjutkan, perundingan iklim tahun ini menawarkan peluang nyata untuk menanamkan aksi pengurangan sampah organik dan limbah makanan dalam implementasi rencana iklim.

    Untuk memobilisasi pendanaan tingkat kota dan untuk mewujudkan pengurangan metana yang berkelanjutan, Inge mengundang semua negara untuk mendukung pengurangan limbah organik dan limbah makanan di COP31, yang diselenggarakan oleh Turki.

    “Mari kita terapkan solusi ini untuk mewujudkan pengurangan metana yang nyata, memperkuat sistem pangan dan mata pencaharian petani, meningkatkan ketahanan pangan, dan membangun masa depan sirkular, tanpa limbah, dan tanpa emisi,“ pungkasnya.