Tag: lingkungan

  • Disayangkan! COP 28 Tak Secara Tegas Hentikan Deforestasi

    Disayangkan! COP 28 Tak Secara Tegas Hentikan Deforestasi

    7cloud.asia – Pada sektor kehutanan, Konferensi iklim global Dubai atau COP 28 yang berakhir pekan lalu menyepakati perlu adanya penguatan upaya melawan deforestasi dan penggundulan hutan pada 2030.

    Selain upaya mengurangi deforestasi, COP 28 juga menyepakati langkah untuk melestarikan keanekaragaman hayati pada lanskap darat dan ekosistem laut.

    COP 28 juga menolak permintaan negosiasi perdagangan emisi karbon secara murah. Ini seharusnya menjadi peringatan bagi para promotor dan pelaku perdagangan karbon–yang merupakan solusi palsu penurunan emisi.

    Namun, organisasi lingkungan Greenpeace seperti dilansir di laman resminya menyayangkan, dari kesepakatan COP 28 tahun 2023 ini, tak ada komitmen tegas untuk menghentikan deforestasi.

    Baca: Krisis iklim kian nyata, tapi solusi yang ditawarkan masih basa-basi

    COP 28 sudah menolak negosiasi perdagangan karbon dan menyepakati pendekatan nonpasar dalam isu karbon.

    Menurut Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, Ini membuka harapan akan adanya alternatif kerja sama yang menciptakan sinergi antara mitigasi iklim, adaptasi, pembangunan berkelanjutan, serta pelindungan dan restorasi ekosistem.

    “Namun, kami kecewa karena tak ada komitmen tegas menghentikan deforestasi. Di tingkat nasional, pemerintah seharusnya bisa lebih progresif untuk menurunkan emisi karbon dari sektor kehutanan,” katanya.

    Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan FOLU Net Sink 2030 untuk menurunkan emisi karbon dari sektor kehutanan dan alih fungsi lahan.

    Baca: COP 28 gagal hasilkan mandat pengurangan bahan bakar fosil

    Dengan kebijakan ini, pemerintah menargetkan hutan Indonesia tidak lagi berkontribusi terhadap pelepasan emisi gas rumah kaca.

    Hutan akan diarahkan agar lebih banyak berperan menyerap karbon atau berfungsi sebagai carbon sink pada akhir dekade ini.

    Analisis Greenpeace Indonesia justru menemukan sebaliknya. Bukannya menurunkan emisi, strategi FOLU Net Sink 2030 justru berpotensi melanggengkan deforestasi dan kerusakan hutan alam.

    Pemetaan Greenpeace Indonesia menunjukkan deforestasi masih berisiko terjadi hingga puluhan juta hektare.

    Baca: Aktivis desak aksi iklim yang nyata di COP 28

    Pasalnya, kebijakan FOLU Net Sink 2030 tak dilengkapi aturan operasional pelindungan hutan dan gambut yang tegas, terutama di kawasan hutan produksi.

    Pemerintah juga membuat klaim menyesatkan bahwa pelepasan karbon dari deforestasi hutan alam dapat diganti (offset) dengan penyerapan karbon jangka pendek dari pembangunan hutan tanaman industri.

    “Pemerintah Indonesia harus merombak target FOLU Net Sink 2030, mencegah deforestasi dan mengurangi lajunya hingga ke titik nol,” tandas Iqbal

    Pemerintah juga didesak tak lagi menerbitkan perizinan di lanskap gambut, memulihkan hutan dan gambut yang rusak

    Baca: Food estate dinilai ancam kelestarian hutan

    “Yang tak kalah penting, pemerintah harus melibatkan masyarakat adat dan masyarakat lokal dalam pelindungan dan pengelolaan hutan berkelanjutan,” ujar Iqbal.

  • Pengiriman Barang di Belanja Online Dorong Kenaikan Emisi Karbon yang Berdampak ke Lingkungan

    Pengiriman Barang di Belanja Online Dorong Kenaikan Emisi Karbon yang Berdampak ke Lingkungan

    7cloud.asia – Belanja online kini makin dilirik banyak orang, tak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

    Namun, belanja online juga memicu sederet dampak yang mengancam kelestarian lingkungan akibat emisi karbon yang dihasilkannya.

    Masalah pertama yang dipicu belanja online adalah soal sampah atau limbah dari packaging yang sebagian besar tidak bisa didaur-ulang sehingga memicu naiknya emisi karbon.

    Masalah lain yang ditimbulkan belanja online adalah emisi karbon yang dipicu dari pengiriman merupakan dampak lingkungan belanja online lainnya yang perlu dipertimbangkan.

    Dilansir earth.org, pengangkutan barang di seluruh dunia bertanggung jawab atas sebagian besar emisi karbon yang dihasilkan oleh e-commerce.

    Baca: Dampak yang dipicu packaging belanja online 

    Pada tahun 2020, pengiriman dan pengembalian produk menyumbang 37% dari total emisi karbon. Masalah terbesarnya, sekali lagi, disebabkan oleh selera konsumen akan kenyamanan.

    Diperkirakan pada tahun 2030, jumlah kendaraan pengantar barang akan meningkat sebesar 36%, mencapai sekitar 7,2 juta kendaraan.

    Hal ini tidak hanya akan mengakibatkan peningkatan sekitar 6 juta ton emisi karbon, namun juga akan meningkatkan jumlah perjalanan sebesar 21%.

    Pasalnya, kendaraan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan perjalanan karena kemacetan lalu lintas yang semakin tinggi.

    Namun, menurut earth.org masalah sebenarnya dari belanja online terletak pada pengiriman cepat.

    Baca: 10 aplikasi belanja online yang paling banyak diunduh

    Ketika teknologi baru meningkatkan transportasi barang dan menjadikannya lebih cepat dari sebelumnya, semakin banyak konsumen yang meminta pengiriman pada hari yang sama dan instan.

    “Dua opsi yang masing-masing tumbuh sebesar 36% dan 17% per tahun,” tulis Martini Igini di earth.org.

    Kedua opsi ini, seperti yang dilaporkan oleh Forum Ekonomi Dunia, sangat populer di China dan menyumbang lebih dari 10% dari total jumlah paket yang dikirim setiap hari, yang rata-rata berjumlah hampir 3 juta.

    Sebuah studi dari MIT menemukan bahwa belanja tradisional memiliki jejak karbon dua kali lipat jika dibandingkan dengan belanja online. Namun wacana ini hanya berlaku jika seseorang tidak mempertimbangkan belanja online yang terburu-buru.

    Memang benar, ketika konsumen memilih pengiriman cepat, emisi yang dihasilkan jauh melebihi emisi yang dihasilkan dari belanja langsung.

    Baca: Gen Z lebih suka TikTok Shop, ini alasannya

    Alasan utamanya adalah perusahaan pengiriman tidak bisa menunggu sampai semua produk tiba sebelum mengirimkannya.

    Ketika berhadapan dengan jangka waktu pengiriman satu atau dua hari, mereka sering kali terpaksa mengirimkan truk yang terisi setengah kapasitasnya, sehingga menghasilkan lebih banyak lalu lintas dan juga menghasilkan emisi.

    Namun pengiriman bukanlah satu-satunya masalah lingkunganyang dipicu belanja online.

    Karena semakin banyak pengecer online,  yang menawarkan opsi untuk mengirim kembali barang dengan mudah dan seringkali gratis, tingkat pengembalian, terutama barang fashion, telah meroket, melebihi 30% dari seluruh barang yang dibeli.

    Sebuah studi tentang perilaku konsumen menunjukkan bahwa 79% konsumen menginginkan pengiriman pengembalian gratis dan 92% dari mereka cenderung membeli lagi jika barang yang mereka beli mudah untuk dikembalikan.

    Baca: Lima prinsip utama jalani frugal living

    Statistik seperti inilah yang memberi insentif kepada perusahaan untuk menawarkan opsi tersebut, karena pada akhirnya akan menguntungkan mereka.

    Tidak ada keraguan bahwa revolusi e-commerce telah membawa manfaat yang sangat besar. Namun, belanja online dan dampaknya terhadap lingkungan tidak boleh diabaikan.

    Saat ini, sebagian besar konsumen lebih memilih kenyamanan daripada kelestarian lingkungan.

    Meskipun upaya perusahaan untuk menjadi lebih berkelanjutan merupakan langkah yang baik menuju arah yang benar, perubahan ini saja tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah.

    Konsumen adalah pihak yang mempunyai keputusan akhir, dan perilaku serta keputusan merekalah yang pada akhirnya menentukan dampak dari industri ini.

    Baca: Meski kaya raya aktor ini jalani hidup sederhana

    Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk membalikkan tren berbahaya yang terjadi pada e-commerce adalah dengan adanya perubahan pola pikir baik dari pihak produsen maupun konsumen.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, penulis: Martina Igini

  • Ini Manfaat yang Bisa Dipetik Indonesia Jika Ada Komitmen untuk Transisi ke Ekonomi Hijau di Pemilu 2024

    Ini Manfaat yang Bisa Dipetik Indonesia Jika Ada Komitmen untuk Transisi ke Ekonomi Hijau di Pemilu 2024

    7cloud.asia – Transisi ke ekonomi hijau diperkirakan dapat memberikan dampak hingga Rp 4.376 triliun ke output ekonomi nasional.

    Peralihan ke ekonomi hijau juga diprediksi memberikan tambahan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp 2.943 triliun dalam 10 tahun ke depan, atau setara 14,3% PDB Indonesia pada tahun 2024. 

    Efek berganda ekonomi hijau dari sisi PDB jauh melebihi struktur ekonomi saat ini yang masih bergantung pada sektor industri ekstraktif, salah satunya pertambangan

    Demikian hasil temuan studi yang dilakukan Center of Economics and Law Studies (CELIOS) dan Greenpeace Indonesia dalam Policy Brief: Dampak Transisi Ekonomi Hijau terhadap Perekonomian, Pemerataan, dan Kesejahteraan Indonesia

    Hasil studi tentang ekonomi hijau ini dirilis di Jakarta pada Selasa (19/12/2023) lalu.

    Baca: Ekonomi hijau justru janjikan pendapatan yang lebih besar

    Direktur Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak mengatakan, momentum Pemilu 2024 dapat digunakan sebagai katalis untuk mempercepat transisi ekonomi hijau di Indonesia.

    Krisis iklim yang timbul akibat ketergantungan Indonesia dan dunia terhadap industri ekstraktif semakin memperparah dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial.

    Ia pun menekankan perlunya komitmen politik untuk bisa mengimplementasikan transformasi dari ekonomi ekstraktif ke ekonomi hijau yang berkelanjutan.

    Perlu ada komitmen politik yang kuat dari pemerintah serta calon presiden dan wakil presiden agar Indonesia mampu mengurangi ketergantungannya terhadap industri ekstraktif dan segera mengimplementasikan peralihan ke ekonomi hijau.

    “Tanpa komitmen yang kuat, hasil temuan ini hanya akan menjadi pajangan lain di rak buku semata dan masyarakat harus terus menanggung dampak krisis iklim yang semakin parah,” pungkas Leo.

    Baca: Pengembangan energi terbarukan di Indonesia berjalan lamban

    Studi hasil kerja sama CELIOS dan Greenpeace ini juga menemukan bahwa dampak positif ekonomi hijau terhadap PDB turut meningkatkan jumlah lapangan kerja dan pendapatan pekerja.

    Dalam pemaparannya, Direktur CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan peralihan ke ekonomi hijau berkelanjutan diramal mampu membuka hingga 19,4 juta lapangan kerja baru yang muncul dari berbagai sektor

    Lapangan kerja baru ini terutama berkaitan dengan pengembangan energi terbarukan, pertanian, kehutanan, perikanan dan jenis-jenis industri ramah lingkungan lainnya.

    Sementara itu, pendapatan pekerja secara total dapat bertambah hingga Rp 902,2 triliun berkat transformasi ke ekonomi hijau ini.

    Pelaku usaha pun diuntungkan dengan peralihan ke ekonomi hijau berkat munculnya berbagai industri baru di sektor ekonomi sirkular dan transisi energi.

    Baca: Menimbang keseriusan negara tinggalkan energi fosil

    “Surplus usaha nasional dari transisi ekonomi hijau diprediksi menembus Rp 1.517 triliun dalam 10 tahun transisi dilakukan,” terang Bhima.

    Hasil studi tersebut juga menemukan bahwa ekonomi hijau mampu mempersempit ketimpangan pendapatan antar provinsi di Indonesia.

    Indeks Williamson Indonesia diperkirakan dapat turun ke angka 0,65 di tahun ke-10 transisi ekonomi hijau dari 0,74 di tahun pertama transisi.

    Tak hanya masyarakat dan pelaku usaha, negara pun dapat meraih manfaat dari ekonomi hijau.

    Pajak bersih atau penerimaan pajak setelah dikurangi oleh subsidi dari ekonomi hijau dapat menyumbang Rp 80 triliun dari sebelumnya Rp 34,8 triliun yang berasal dari ekonomi ekstraktif.

    Baca: Emisi karbon Indonesia masuk 10 besar dunia

    Peralihan ke ekonomi berkelanjutan pun mampu memberikan efek positif dari berbagai sisi, yaitu:

    • Pencegahan korupsi dari sektor ekstraktif dengan tata kelola (good governance) yang lebih baik
    • Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam upaya transisi energi terbarukan
    • Berkurangnya belanja kesehatan dari berkurangnya polusi udara
    • Meningkatnya kebahagiaan masyarakat berkat keseimbangan alam yang terjaga
    • Memperkuat daya tahan ekonomi dari fluktuasi harga bahan bakar fosil

     

     

  • Nggak Cuma Korporasi, UMKM Bisa Berperan Besar Atasi Dampak Perubahan Iklim

    Nggak Cuma Korporasi, UMKM Bisa Berperan Besar Atasi Dampak Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) mengakui bahwa selama tiga dekade terakhir, upaya mengatasi perubahan iklim dari sisi bisnis masih berfokus kepada peran korporasi besar.

    Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Iklim Global ke-28 atau COP 28, UNFCCC mendorong transformasi juga dilakukan untuk meningkatkan kemampuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mengatasi perubahan iklim.

    Sejauh ini, kajian global menggarisbawahi kebijakan lingkungan belum berhasil mengoptimalkan peran UMKM dalam mengatasi perubahan iklim.

    Dengan asumsi skala ekonomi korporasi yang jauh lebih besar, pemerintah cenderung lebih berfokus terhadap korporasi besar.

    Padahal, UMKM tak hanya menyumbang sekitar separuh dari total emisi gas rumah kaca dunia bisnis, tapi juga lebih terdampak terhadap perubahan iklim dan lonjakan harga energi.

    Baca: Manfaat yang bisa dipetik jika beralih ke ekonomi hijau

    Di sisi lain, rezim penguasa di negara yang kaya akan sumber daya alam cukup lunak dalam menegakkan aturan lingkungan kepada korporasi besar karena memberikan kontribusi pajak dan penyerapan tenaga kerja yang signifikan.

    Upaya menuntut korporasi memperbaiki manajemen lingkungan mereka mungkin lebih dipandang sebagai risiko kehilangan potensi ekonomi bagi para konservatif dan populis di konteks negara tersebut.

    Di Indonesia, sebuah studi menunjukkan bahwa transformasi UMKM mengatasi perubahan iklim masih menjadi retorika saja.

    Masalah yang mengemuka adalah tidak terhubungnya rantai nilai antara korporasi besar dan UMKM dalam mengatasi perubahan iklim.

    Ini tidak lepas dari tidak jelasnya instrumen kebijakan untuk kolaborasi korporasi dan UMKM mengatasi perubahan iklim.

    Baca: Ekonomi hijau janjikan 19,4 juta lapangan kerja baru

    Menurut laporan Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada 2022, negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia memang masih memprioritaskan pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berisiko merusak lingkungan.

    Kebijakan manajemen lingkungan di Indonesia terlalu terfokus kepada korporasi besar karena kontribusi korporasi terhadap PDB jauh lebih signifikan dibandingkan UMKM.

    Padahal, UMKM adalah aktor sentral dalam pengolahan limbah plastik. Produksi plastik berkontribusi melepaskan gas rumah kaca karena mengandalkan bahan bakar fosil.

    Limbah plastik–yang tidak bisa diurai di alam–turut menyumbang emisi ketika mereka terkena radiasi matahari atau terpecah menjadi mikro-plastik di lautan.

    Baca: Mendulang cuan dari pengolahan sampah

    Di Indonesia, berdasarkan analisis data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 80% struktur ekonomi PDB lima tahun terakhir ditopang konsumsi masyarakat.

    Industri makanan dan minuman adalah industri penting yang menyuplai konsumsi masyarakat ini. Berdasarkan kajian dari McKinsey pada 2022, pelaku industri makanan dan minuman ini dikuasai segelintir korporasi besar.

    Jumlah perusahaan besar tersebut kurang dari 20%, tapi menguasai lebih dari 50% pangsa pasar Indonesia.

    Banyak dari produk makanan dan minuman ini dikemas dengan plastik.

    Ketika sampai kepada limbah plastik, sebagian korporasi besar enggan berpartisipasi mendaur ulang plastik yang mereka hasilkan.

    Sebab, mereka menganggap industri daur ulang memiliki potensi konsumen yang kecil dan keuntungannya tidak besar biar gampang dicerna.

    Baca: Pengembangan energi terbarukan di Indonesia berjalan lamban

    Ditambah lagi, di Indonesia, belum banyak inovasi teknologi daur ulang sampah yang efisien link text.

    Sementara, bagi pelaku UMKM, daur ulang limbah plastik membawa potensi ekonomi yang besar.

    Menurut laporan USAID 2022, para pelaku UMKM di Indonesia justru mendominasi aktivitas pengolahan limbah–tapi kapasitas mereka masih sangat kecil.

    Selama 5 tahun terakhir, PDB industri pengolahan sampah masih jauh tertinggal 100 kali lipat dari industri makanan dan minuman.

    Made with Flourish
    Data tersebut menunjukkan bahwa dengan pertumbuhan dan besarnya skala industri makanan dan minuman, besar pula potensi sampah yang tidak dapat terdaur ulang oleh industri pengolahan limbah yang ada.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem guna ulang

    Kesenjangan kemampuan UMKM vs. industri besar
    Ada kesenjangan antara pelaku UMKM dan korporasi besar dalam mengelola bisnis yang ramah lingkungan.

    Kesenjangan tersebut ada dalam aspek manajemen operasional, sumber daya manusia (SDM), strategi, dan finansial.

    Dalam sisi SDM, para sarjana yang baru lulus lebih memilih berkarir di Fast Moving Consumer Goods (FMCG) atau perusahaan produksi barang konsumsi ketimbang di UMKM daur ulang limbah.

    Akibatnya, di tengah kelangkaah SDM yang terdidik, sulit bagi UMKM untuk meningkatkan produktivitasnya.

    Selain itu, korporasi makanan dan minuman terkemuka menggunakan robot dan kecerdasan buatan untuk mengelola produksi mereka.

    Hal yang sama juga berlaku bagi manajemen finansial dan manajemen strategi mereka.

    Baca: Membangun ekosistem guna ulang

    Sementara, sebagian pengumpul sampah skala kecil di kota-kota besar masih mengandalkan perhitungan manual yang sarat kesalahan.

    Pelaku UMKM dalam industri daur ulang mempunyai modal dan kemampuan terbatas untuk memulai manajemen keuangan berbasis digital dan automasi.

    Pelaku UMKM ini sebenarnya dapat menjadi aktor kunci dalam rantai nilai sampah kemasan.

    Bagi para pebisnis informal pengolahan sampah, pemberdayaan anggota keluarga dan sedikit pembelanjaan modal usaha dapat membantu menekan biaya produksi dan memberikan keuntungan yang optimal dalam memungut dan mengolah limbah sampah.

    Namun, bagi korporasi besar tersebut, mereka akan enggan berkolaborasi jika tidak difasilitasi oleh payung hukum dan insentif aturan yang jelas dari pemerintah kota atau kabupaten dengan kewenangan pengelolaan sampah ada di tangan mereka.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation; Penulis: Albert Hasudungan, Dosen  Universitas Prasetiya Mulya

     

  • Bagaimana UMKM Bisa Didorong untuk Terlibat dalam Menahan Laju Perubahan Iklim

    Bagaimana UMKM Bisa Didorong untuk Terlibat dalam Menahan Laju Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Iklim Global ke-28 atau COP 28, UNFCCC mendorong transformasi juga dilakukan untuk meningkatkan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mengatasi perubahan iklim.

    Sejauh ini, berbagai kajian global menggarisbawahi kebijakan lingkungan belum berhasil mengoptimalkan peran UMKM dalam mengatasi perubahan iklim. 

    Dengan asumsi skala ekonomi korporasi yang jauh lebih besar, dalam mengatasi dampak perubahan iklim pemerintah cenderung lebih berfokus terhadap korporasi besar ketimbang UMKM.

    Padahal, UMKM tak hanya menyumbang sekitar separuh dari total emisi gas rumah kaca dunia bisnis, tapi juga lebih terdampak terhadap perubahan iklim dan lonjakan harga energi.

    Baca: Peran UMKM dalam menahan laju perubahan iklim

    Lantas, pembenahan seperti apa agar UMKM dapat lebih dilibatkan dan berperan dalam menanggulangi dampak perubahan iklim?

    Albert Hasudungan, Dosen  Universitas Prasetiya Mulya dalam tulisannya di The Conversation menyebutkan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mendorong peran UMKM dalam menahan laju perubahan iklim. 

    Albert menyebut kajian kebijakan manajemen dan kebijakan lingkungan terkini menekankan pentingnya unsur 3C (concern, capacity, conditions) dalam mempercepat transformasi UMKM untuk mengatasi persoalan sampah dan perubahan iklim global.

    Concern menggarisbawahi kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk agenda peran UMKM dalam isu sampah dan emisi karbon.

    Baca: Ekonomi hijau dan manfaatnya untuk pendapatan negara

    “Pemerintah di Indonesia perlu lebih banyak memfasilitasi diskusi terpumpun (focus group discussion/FGD) dalam menetapkan peta jalan kebijakan meningkatkan peran UMKM dalam perubahan iklim di Indonesia,” ujarnya.

    Tantangan yang perlu diatasi adalah perubahan persepsi pemerintah dari hanya mencapai pertumbuhan ekonomi menjadi pembangunan yang inklusif, atau melibatkan semua pihak.

    Sedangkan dalam hal capacity, perlu ada peningkatan kapasitas UMKM yang menekankan kolaborasi multipihak dalam meningkatkan kemampuan UMKM mengatasi masalah kebijakan sampah dan perubahan iklim.

    Sebagai contoh, korporasi besar bisa lebih meningkatkan transfer kapabilitas UMKM dalam manajemen lingkungan dan bisnis.

    Baca: Ekonomi hijau bisa ciptakan 19,4 juta lapangan kerja baru

    “Hal ini penting, karena UMKM tersebut ada dalam rantai nilai manajemen lingkungan korporasi tersebut,” imbuhnya.

    Dalam aspek conditions, pengambil kebijakan kunci terkait dapat menciptakan payung hukum yang jelas untuk kemitraan korporasi besar dan UMKM untuk mengatasi perubahan iklim.

    “Kolaborasi tersebut akan terlaksana apabila mereka dijamin dengan payung hukum dan insentif yang tepat,” pungkasnya.

    Disarikan dari tulisan Albert Hasudungan, Dosen  Universitas Prasetiya Mulya yang telah terbit di The Conversation.

  • 10 Ide Kreatif Mendaur-ulang Kantung Plastik Sekali Pakai agar Tak Segera Jadi Sampah Plastik

    10 Ide Kreatif Mendaur-ulang Kantung Plastik Sekali Pakai agar Tak Segera Jadi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Kantung plastik sekali pakai menjadi salah stau penyumbang terbesar sampah plastik yang memicu masalah serius bagi lingkungan. 

    Karena itu penggunaan kantung plastik sekali pakai disarankan untuk dihindari untuk mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan.

    Meskipun berusaha untuk selalu membawa tas belanja guna ulang untuk kurangi sampah plastik, seringkali kita tak bisa benar-benar menghindari kantong plastik sekali pakai.

    Jika ini terjadi, jangan dulu galau. Pasalnya ada banyak cara kreatif untuk mendaur ulang kantong plastik sekali pakai dan membuatnya lebih bermanfaat dan tidak segera menjadi sampah plastik.

    Baca: Anak muda bisa jadi penggerak untuk kurangi sampah plastik

    Berikut ide kreatif untuk mendaur ulang kantung plastik bekas, sebagaimana dilansir Real Simple: 

    1. Tempat Sampah 
    Saat sedang mengupas buah dan sayuran, buang bagian yang tidak digunakan ke dalam kantong plastik terlebih dahulu sebelum membuangnya ke tempat sampah.

    Dengan begitu, kamu bisa mengorganisasi tempat sampah menjadi lebih bersih dan rapi.

    2. Kemasan Kado atau Hadiah
    Kantong plastik ternyata juga bisa digunakan sebagai pengganti kertas kado, lho! Dengan menggunakan sedikit kreativitas, kamu bisa membungkus kado atau hadiah menjadi cantik hanya dengan kantong plastik.

    Gunakan kantong plastik beragam warna agar kado atau hadiah tampak lebih menarik.

    Baca: Sampah plastik menjadi masalah serius bagi lingkungan

     

    3. Pelindung Kepala Darurat saat Hujan
    Di cuaca yang tidak menentu seperti sekarang, penting untuk membawa payung ke mana pun pergi.

    Kamu juga bisa menggunakan kantong plastik sebagai pelindung kepala darurat saat hujan. Selipkan kantong plastik ke dalam saku atau tas untuk digunakan sebagai pelindung kepala darurat.

    4. Pengisi Pot Tanaman
    Kekurangan tanah untuk tanaman dalam pot? Cobalah gunakan kantong plastik dengan memasukkannya ke bagian bawah pot.

    Dengan begitu, kamu bisa mengurangi penggunaan tanah dalam pot.

    Baca: Unilever akan tingkatkan pemrosesan sampah plastik yang dihasilkannya

    5. Pelindung Lutut
    Saat berkebun atau mengganti ban di jalanan, hindari kotoran dan noda di celana dengan mengikatkan kantong plastik di sekitar lutut.

    6. Sarung Tangan Sementara
    Gunakan kantong plastik sebagai sarung tangan untuk menangani hal-hal yang berantakan atau menjijikkan.

    Agar lebih mudah saat ingin dibuang, balikkan kantong plastik sehingga sisi yang kotor berada di dalam.

    7. Penahan Payung Basah

    Agar payung basah tidak mengotori rumah, kamu bisa memasukkannya ke dalam kantong plastik terlebih dahulu sampai kering, lho!

    Baca: Menggunakan tumbler, langkah kecil yang berdampak besar untuk lingkungan

    8. Pelindung Sepatu
    Jaga rumah tetap bersih dengan mengikatkan kantong plastik di sepatu saat masuk atau melindungi sepatu dari kotoran saat di luar rumah.

    9. Pelindung Buku Resep
    Selamatkan buku resep dari percikan bahan masakan dengan membungkusnya dengan kantong plastik saat memasak. Dengan begitu, buku resepmu akan tetap bersih dan dalam kondisi yang baik.

     

    10. Pelindung Kuas Cat
    Kamu juga bisa menggunakan kantong plastik untuk membungkus kuas cat agar tidak tercampur warnanya dengan warna lain.

    Caranya, tempatkan kuas cat ke dalam kantong plastik, ikat atau bungkus dengan karet gelang.

    Demikianlah beragam ide kreatif untuk mendaur ulang kantong plastik bekas menjadi lebih bermanfaat. Dengan sedikit kreativitas, kita bisa mengurangi limbah plastik sekaligus membuatnya bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

     

  • 6 Cara Lebih Ramah Lingkungan dalam Produksi Pangan Tuk Menahan Laju Perubahan Iklim

    6 Cara Lebih Ramah Lingkungan dalam Produksi Pangan Tuk Menahan Laju Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Kesehatan lingkungan kita berada dalam kondisi krisis. Praktik-praktik tak berkelanjutan yang mempercepat dan memperburuk dampak perubahan iklim terus berlangsung.

    Salah satu kontributor utama kerusakan lingkungan akibat pemanasan global dan perubahan iklim yang cepat adalah industri produksi makanan.

    Potensi perubahan positif dalam sektor produksi makanan ini sangat besar.

    Transisi ke metode yang lebih ramah lingkungan dapat membantu mengurangi kerusakan lingkungan dengan berbagai cara.

    Baca: Pertanian Indonesia pengguna pestisida terbesar

    Berikut  berbagai cara ramah lingkungan dalam produksi makanan,sebagaimana dikutip dari earth.org.

    1. Beralih ke Energi Terbarukan
    Metode produksi pangan konvensional bergantung pada bahan bakar fosil. Transisi ke energi alternatif yang lebih ramah lingkungan akan menghentikan kontribusi terhadap emisi karbon.

    Penggunaan sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, jauh lebih ramah lingkungan.

    China adalah negara terdepan dalam hal energi terbarukan, negara dengan energi paling ramah lingkungan, meskipun 55% masih berasal dari batu bara.

    Sebagai perbandingan, Amerika menghasilkan 25% dari seluruh energi dari energi terbarukan pada paruh pertama tahun 2023.

    Uni Eropa juga telah membuat kemajuan besar baru-baru ini, dengan 39% listrik di 27 negara tersebut saat ini dihasilkan dari energi terbarukan.

    Meskipun terdapat ketidakpastian mengenai sumber energi baru, peralihan bukanlah suatu pilihan.

    Dunia tak bisa berlama-lama tergantung pada sumber daya yang terbatas seperti bahan bakar fosil. Menipisnya pasokan berarti saatnya untuk bertindak ramah lingkungan dengan teknologi kita.

    Baca: BRIN kembangkan pestisida ramah lingkungan

    2. Kurangi Penggunaan Air
    Air adalah sumber daya berharga yang sering kali diabaikan dalam produksi pangan. Dibutuhkan sejumlah besar air untuk bercocok tanam dan beternak.

    Pertanian menggunakan 70% dari seluruh air tawar di seluruh dunia. Kelangkaan air dapat dicegah dengan mengutamakan kualitas produk dan menghentikan pertanian berlebihan.

    Perusahaan harus mendapatkan daging dari peternak yang memiliki reputasi baik dibandingkan memilih opsi termurah.

    Dibutuhkan 660 galon air untuk membuat satu hamburger, sedangkan steak 12 ons membutuhkan lebih dari 1,300.

    Permintaan yang berkurang berarti kita tidak bercocok tanam untuk memberi makan ternak, kita bisa menggunakan lahan untuk konsumsi kita sendiri.

    Baca: Biosaka, cara ramah lingkungan petni Klaten

    3. Kemasan yang Dapat Didaur Ulang
    Kemasan yang digunakan untuk produk makanan seringkali tidak dapat didaur ulang dan berakhir di tempat pembuangan sampah.

    Sepertiga dari kemasan plastik global berkontribusi terhadap polusi di seluruh dunia. Penggunaan plastik sekali pakai sudah harus dikurangi dan bahan-bahan yang dapat terbiodegradasi adalah masa depan.

    Konsumen menjadi lebih sadar akan tempat mereka berbelanja saat makan di luar dan dalam perjalanan.

    Kemasan yang dapat didaur ulang untuk wadah makanan untuk dibawa pulang dan cangkir kopi dapat meningkatkan popularitas bisnis.

    Baca: Sawtit, antara ketahanan pangan dan ancaman pada lingkungan

    4. Mendukung Petani Lokal
    Mendukung petanilokal adalah cara lebih ramah lingkungan dalam produksi pangan. Membeli produk lokal membantu mengurangi emisi yang dihasilkan transportasi makanan.

    Sekitar 500 juta orang di seluruh dunia bekerja di pertanian kecil keluarga mereka. Pengetahuan tentang praktik pertanian regeneratif adalah kunci masa depan lingkungan.

    Pertanian regeneratif mempunyai potensi untuk meningkatkan hasil panen dan membangun ketahanan terhadap tantangan lingkungan.

    Mendukung petani lokal juga membantu menjaga usaha kecil tetap berkembang dalam industri yang kompetitif.

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih baik untuk lingkungan

    5. Hindari Bahan Kimia dan Pestisida
    Penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya berdampak buruk pada lingkungan. Pestisida dapat mencemari tanah dan persediaan air setempat, membunuh satwa liar dan menghancurkan seluruh ekosistem.

    Peralihan ke praktik pertanian yang lebih alami akan meningkatkan keanekaragaman hayati dan meminimalkan dampak buruk terhadap spesies lain.

    Hal ini juga mengarah pada produksi pangan yang lebih sehat karena kita tidak mengonsumsi zat beracun.

    Penelitian menunjukkan bahwa menelan residu pestisida dapat menimbulkan efek samping buruk pada tubuh kita.

    Meski belum diketahui secara pasti seberapa berbahayanya makanan tersebut, sebaiknya kita makan dalam keadaan sebersih mungkin.

    Baca: Cara bijak warga Bali olah sampah rumah tangga

    6. Dengarkan Masyarakat
    Tidak dapat disangkal bahwa minat masyarakat terhadap perubahan iklim dan cara melindungi lingkungan semakin meningkat.

    Dengan semakin banyaknya media yang mendokumentasikan kehancuran planet kita, semakin banyak dari kita yang mengambil tindakan untuk melakukan perubahan.

    Seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang mengonsumsi pola makan nabati, semakin banyak orang yang melakukan hal yang sama untuk planet ini.

    Baik karena inflasi, atau keputusan yang disengaja, kebiasaan berbelanja lebih ramah lingkungan.

    Sebagian besar pembeli membawa tas mereka sendiri, dan berbelanja dengan mempertimbangkan perencanaan makan untuk minggu tersebut.

    Rumah tangga yang meminimalkan limbah makanan dan mengurangi pembelian plastik sekali pakai adalah contohnya.

    Masyarakat sedang membuka jalan, memohon agar perusahaan-perusahaan besar mendengarkan dan mengikuti harapan mereka

    Kesimpulannya, Manfaat global dari penerapan ramah lingkungan dalam produksi pangan sangatlah besar. Melakukan perubahan kecil dan mendukung praktik berkelanjutan dapat memberikan dampak yang besar. 

    Diterjemahkan dari tulisan Erin Lorde di earth.org, sarjana sastra yang peduli kepada lingkungan

     

  • Metode 4P untuk Membangun Narasi Kampanye Lingkungan dan Perubahan Iklim

    Metode 4P untuk Membangun Narasi Kampanye Lingkungan dan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Tulisan ini masih tentang pendekatan apa yang paling pas guna memberdayakan politikus dalam mengampanyekan isu lingkungan dan perubahan iklim.

    Penelitian yang dilakukan Monash University mengungkap, sebagian politikus mulai sadar akan pentingnya peran mereka dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat terkait kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

    Tim yang terdiri dari Garnita Mulyani (Research Assistant) Derry Wijaya, (Associate Professor of Data Science) dan Ika Karlina Idris (Associate Professor)mengenalkan metode 4P untuk mengampanyekan isu lingkungan dan perubahan iklim.

    “Kami juga menganggap pendekatan model pemasaran politik 4P layak digunakan dalam mengampanyekan isu lingkungan dan perubahan iklim,” demikian laporan penelitian yang dimuat di The Conversation.

    Baca: Upaya ‘menjual’ isu lingkungan dan perubahan iklim saat kampanye

    Pendekatan 4P ini dicetuskan oleh pakar psikologi sosial dan pemasaran politik dari Maria Curie-Sklodowska University, Wojciech Cwalina, pada 2015.

    Model 4P tersebut mencakup pendekatan produk (product), pemasaran dorong (push marketing), pemasaran tarik (pull marketing), dan jajak pendapat (polling).

    Dalam konteks isu lingkungan dan perubahan iklim, produk dapat berupa komitmen politik, misalnya komitmen politik terkait rencana energi terbarukan.

    Sementara itu, push marketing artinya strategi pemasaran yang melibatkan langsung pemilih atau audiens melalui berbagai saluran komunikasi.

    Baca: Program lingkungan tiga pasangan capres dan cawapres

    Bentuk dari push marketing dapat berupa optimalisasi media sosial dalam menyebarluaskan produk atau narasi terkait isu lingkungandan perubahan iklim terkait rencana energi terbarukan tersebut untuk menjaring lebih banyak pemilih di kelompok usia muda.

    Push marketing juga perlu ditunjang oleh pull marketing. Pendekatan ini bertumpu pada strategi untuk menarik minat publik secara organik.

    Misalnya, usaha menarik perhatian media melalui seruan kampanye yang agresif meskipun bertentangan dengan kebijakan pemerintah yang berlaku.

    Elemen penting terakhir adalah polling atau jajak pendapat. Tujuannya untuk mengukur persepsi atau opini publik sebagai acuan dalam merancang narasi kampanye.

    Baca: Agar transisi ke ekonomi hijau berjalan lebih cepat

    Politikus, misalnya, dapat menghelat jajak pendapat secara rutin untuk mengetahui sentimen publik terhadap perubahan iklim dan mengukur efektivitas kampanye yang telah dilakukan.

    Tanggung jawab untuk membangun kesadaran lingkungan dan perubahan iklim perlu dimulai dari sekarang.

    FGD dan riset yang dilakukan timmonash Universiyu bertujuan untuk membuat isu perubahan iklim lebih merakyat sekaligus terakomodasi dalam kebijakan strategis di berbagai lini otoritas di Indonesia.

    Pasalnya, isu perubahan iklim bukan sesuatu yang dapat ditangani hanya dengan satu kebijakan.

    Baca: Berbagai sumber pembiayaan ekonomi hijau

    Kiat-kiat ini pun kami buat bukan hanya menjadi bekal praktis, tapi juga untuk merangsang politikus agar melaksanakan tanggung jawabnya bekerja untuk kepentingan publik.

    Dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungantelah terjadi dan telah dirasakan oleh Indonesia.

    Politikus sebagai pembuat kebijakan memiliki tanggung jawab untuk mencari solusi atas krisis eksistensial yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.

    Disarikan dari artikel di The Conversation.

     

  • Menjual Isu Lingkungan dan Perubahan Iklim di Kampanye Pemilu 2024

    Menjual Isu Lingkungan dan Perubahan Iklim di Kampanye Pemilu 2024

    7cloud.asia – Di Indonesia, pendekatan untuk memberdayakan politikus untuk mengampanyekan isu lingkungan dan perubahan iklim di masyarakat masih minim.

    Gerakan-gerakan membangun kesadaran lingkungan yang bermunculan sejak dua-tiga tahun terakhir masih berkutat pada pembangunan kesadaran masyarakat, khususnya anak muda.

    Padahal, pemberdayaan politikus penting untuk membangun kapasitas kebijakan perubahan iklim dan pro lingkungan di Indonesia.

    Bukan cuma soal cuaca, kerusakan lingkungan dan perubahan iklim berdampak ke segala lini: kebakaran hutan, kenaikan air laut, inflasi pangan, hingga kesehatan mental.

    Terlebih lagi, ketertarikan politikus terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim masih kurang.

    Baca: Program lingkungan tiga pasangan capres cawapres

    Riset yang dilakukan Monash Climate Change Communication (MCCCRH) Indonesia Node menunjukkan bahwa politikus tidak menjadikan isu perubahan iklim sebagai isu utama selama 3,5 tahun terakhir.

    Riset kami, yang sedang dalam tahap penyuntingan, menganalisis posting media sosial akun 157 politikus Indonesia yang berkaitan dengan isu lingkungan dan perubahan iklim.

    Hasilnya, hanya 106 (67,5%) dari total akun yang pernah memosting tentang perubahan iklim.

    Monash University melakukan diskusi grup terpumpun (FGD) pada Februari 2023 kepada kelompok politikus, konsultan politik, dan jurnalis senior di Indonesia

    FGD ini mendapati kesadaran politikus untuk membangun narasi dan mengkampanyekan isu lingkungan dan perubahan iklim terbilang tinggi.

    Baca: Pentingnya memilih pemimpin yang pro lingkungan

    Akan tetapi, mereka tidak tahu bagaimana cara menjual isu perubahan iklim tersebut ke kalangan pemilih.

    Isu perubahan iklim memang tidak mudah dimengerti oleh setiap kalangan, apalagi sebagian besar pemilih kita adalah lulusan SMP dan SMA.

    Nah, kami menganggap Pemilu Serentak 2024 menjadi momen yang pas untuk membangun kesadaran dan kapasitas politikus.

    Dalam ‘pasar’ gagasan politik, kami menganggap politikus adalah pihak yang akan memasok ide, isu, dan gagasan untuk perubahan iklim.

    Merekalah yang seharusnya berperan sebagai penjual ide-ide dan kebijakan terkait perubahan iklim, untuk memenuhi permintaan ide dan kebijakan dari sisi pemilih.

    Baca: Ketidakadilan iklim picu perdagangan orang

    Lantas, bagaimana seharusnya para politikus memulai langkah kampanye perubahan iklim?

    Kenali topiknya
    FGD kami menemukan banyak politikus yang tidak paham mengenai isu perubahan iklim. Terlebih lagi ketika mereka minim terpapar berita mengenai perubahan iklim.

    Minimnya pengetahuan membuat politikus cenderung tidak banyak membuka dialog dan membahas isu perubahan iklim.

    Mereka merasa khawatir pembahasan itu menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri.Riset kami menelaah 983 konten dengan analisis pemodelan topik.

    Sejauh ini, topik perubahan iklim yang dibicarakan para politikus Indonesia masih fokus pada isu kebijakan dan ekonomi makro seperti kepemimpinan Indonesia dalam G20 dan kemitraan ekonomi global.

    Baca: Ganjar usulkan perubahan iklim masuk kurikulum

    Made with Flourish
    Topik yang lebih dekat dan bersentuhan dengan keseharian masyarakat seperti ketahanan pangan, pentingnya air bersih, perubahan iklim, dan keterlibatan generasi muda dalam perubahan iklim justru jarang diperbincangkan oleh politikus di akun sosial media mereka.

    Padahal, generasi muda justru memiliki kepedulian tinggi terhadap isu perubahan iklim.

    Langkah membangun narasi
    Kabar baiknya, para politikus bersedia diberi pelatihan dan pengetahuan mengenai isu perubahan iklim. Mereka ingin lebih percaya diri ketika berbicara mengenai isu tersebut kepada pemilih.

    Hal tersebut melecut kami untuk menerbitkan buku Navigasi Isu Perubahan Iklim di Pemilu 2024: Panduan Komunikasi untuk Politikus.

    Buku ini menjadi panduan dasar untuk mengetahui fakta mengenai perubahan iklim dan apa manfaatnya mengetahui isu ini bagi politikus.

    Baca: Nepotisme berdampak buruk pada keadilan gender

    Langkah-langkah membangun narasi perubahan iklim. Strategi selengkapnya dapat dibaca dalam buku ‘Navigasi Isu Perubahan Iklim di Pemilu 2024: Panduan Komunikasi untuk Politisi’. MCCCRH Indonesia Node

    Buku kami juga menjelaskan bagaimana membangun narasi perubahan iklim, praktik terbaik komunikasi perubahan iklim di kampanye, serta kebijakan perubahan iklim.

    Untuk membangun narasi perubahan iklim, penting bagi politikus untuk menyesuaikan strategi kampanye perubahan iklim berdasarkan kategori demografi sosial.

    Kampanye perubahan iklim untuk umat Islam, misalnya, memiliki strategi yang berbeda dengan ibu rumah tangga.

    Menetapkan pemilih berdasarkan kategori demografi sosial yang beragam di Indonesia menjadi langkah penting pertama yang akan menentukan langkah-langkah strategis selanjutnya seperti memilih media massa sebagai mitra kunci, ataupun media sosial.

    Artikel ini telah terbit di The Coversation; Penulis: Garnita Mulyani, Research Assistant, Monash University; Derry Wijaya, Associate Professor of Data Science, Monash University; Ika Karlina Idris, Associate Professor, Monash University

     

  • Tahun 2023 Tahun Terpanas, Ini Dampaknya pada Suhu Laut dan Lingkungan

    Tahun 2023 Tahun Terpanas, Ini Dampaknya pada Suhu Laut dan Lingkungan

    7cloud.asia – Pemanasan global menjadi satu ancaman nyata bagi kelestarian lingkungan dan kelangsungan hidup penghuni planet Bumi.

    Suhu ekstrim tidak hanya berdampak pada manusia di seluruh dunia tetapi juga berimbas pada lingkungan dan ekosistem laut.

    Hal ini, karena suhu laut dan samudera mencapai suhu permukaan terpanas yang pernah dicatat para ahli lingkungan.

    Pada bulan Agustus secara keseluruhan terjadi suhu permukaan laut rata-rata bulanan global tertinggi yang pernah tercatat sepanjang bulan.

    Sementara menurut data Copernicus., rekor suhu harian dipecahkan setiap hari dari tanggal 31 Juli hingga 31 Agustus 2023. 

    Baca: Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah

    Di sejumlah tempat seperti Florida Amerika Serikat, suhu laut melampaui angka 38C (100F), menambah peringatan sebelumnya mengenai pemanasan air yang membahayakan kehidupan laut dan ekosistem.

    Sementara itu, suhu permukaan Laut Mediterania mencapai 28,7C (83,7F), rekor median tertinggi setidaknya sejak tahun 1982.

    Menurut penelitian yang didukung Uni Eropa dan diterbitkan Oktober lalu, peningkatan suhu laut dan permukaan air akibat perubahan iklim antropogenik mempunyai dampak luas terhadap kehidupan laut dan sistem cuaca global.

    Melalui pengamatan satelit dan in situ, analisis ulang lautan, dan komputasi berkinerja tinggi yang memungkinkan pengamatan lautan 4D, hampir 100 pakar ilmiah yang mengerjakan laporan ini mampu mengidentifikasi berbagai pola “tidak biasa” di seluruh sistem lautan dunia.

    Baca: Pemanasan global akan memicu lebih banyak bencana 

    Perubahan itu termasuk perubahan yang terjadi, arus sirkulasi, gelombang panas laut yang lebih sering dan intens, dan kejadian tak terduga dalam produksi biologis.

    Secara khusus, kenaikan suhu permukaan dan bawah permukaan laut dapat menimbulkan dampak serius bagi spesies laut, seperti terumbu karang, rumput laut, dan ikan.

    Kondisi ini sering kali mengakibatkan kematian massal dan migrasi yang tentunya berujung pada berkurangnya jumlah tangkapan dan meningkatnya tekanan pada industri perikanan.

    Hal ini juga dapat berdampak pada salinitas dan tingkat air tawar di lautan, mengubah sirkulasi lautan, arus, dan siklus air, serta dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut.

    Baca: Masalah lingkungan yang dipicu pemanasan global

    Lantas seperti apa perkiraan kondisi di masa depan? Hal inisedkit banyak tercermin dari hasil KTT iklim PBB COP28 yang dihelat di Dubai awalDesember lalu.

    Para pemimpin dunia mencapai kesepakatan yang secara eksplisit menyerukan negara-negara di duniauntuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

    Meskipun belum mencapai tahap “penghentian” bahan bakar fosil, kesepakatan akhir ini memberikan terobosan baru.

    Pasalnya, hal ini merupakan pertama kalinya teks COP menyebutkan peralihan dari minyak dan gas alam yang menyebabkan pemanasan global, bahan bakar yang telah mendukung pembangunan ekonomi global selama satu abad terakhir.

    Baca: Dampak naiknya suhu air laut

    Negara-negara peserta COP 28 juga sepakat untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan dan melipatgandakan peningkatan efisiensi energi pada tahun 2030.

    Meskipun para ahli masih mengatakan bahwa komitmen yang dibuat sejauh ini tidak cukup untuk menempatkan dunia pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan Paris.

    Esti Utami, diterjemahkan dari earth.org