Tag: pertanian

  • Perubahan Iklim dan Lonjakan Jumlah Penduduk Membuat Pertanian Vertikal Makin Dilirik

    Perubahan Iklim dan Lonjakan Jumlah Penduduk Membuat Pertanian Vertikal Makin Dilirik

    7cloud.asia – Metode produksi pangan atau pertanian modern yang ada saat ini pada akhirnya akan menjadi tidak berkelanjutan seiring dengan bertambahnya populasi dunia.

    Pada saat yang sama, perubahan iklim mempersulit bercocok tanam, beternak, dan menangkap ikan dengan cara yang sama dan di tempat yang sama.

    Kekeringan dan banjir menjadi semakin sering dan parah akibat perubahan iklim menimbulkan ancaman terhadap ketahanan pangan global, serta tekanan bagi petani dan peternak.

    Suhu laut yang lebih hangat diperkirakan akan menyebabkan perubahan wilayah jelajah banyak spesies ikan dan kerang, sehingga berpotensi mengganggu ekosistem.

    Kekeringan parah saat ini melanda sejumlah wilayah di dunia seperti India, Pakistan, dan Afrika, dan curah hujan di wilayah tersebut juga semakin berkurang.

    Baca: Pertanian regeneratif sukses ubah daerah gersang di Portugal

    Di Afrika, antara 75 juta hingga 250 juta orang diperkirakan akan kehilangan air untuk keperluan rumah tangga dan budidaya pada tahun akhir dekade 2020an

    Kondisi ini bisa mengakibatkan penurunan produksi pertanian di benua tersebut sebesar 50 persen.

    Tren penurunan ini diperkirakan akan terus berlanjut selama beberapa dekade mendatang, menurut laporan terbaru Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC)

    Akibatnya, semua mata beralih ke pertanian vertikal untuk menghasilkan lebih banyak hasil panen setiap tahun dan mengurangi tekanan pada pertanian dan lahan subur yang masih tersisa.

    Meskipun ada banyak cara untuk mendefinisikan praktik pertanian baru ini, secara sederhana, pertanian vertikal adalah praktik di mana tanaman pangan diproduksi di daerah yang cenderung miring.

    Baca: Perubahan iklim mendorong pengembangan pertanian regeneratif

    Tidak seperti pertanian tradisional, yang menanam tanaman dalam satu lapisan, cara inovatif bernama pertanian vertikal ini memproduksi pangan dalam lapisan vertikal dan bertumpuk.

    Pertanian vertikal ini dapat digunakan dengan baik pada berbagai struktur seperti peti pengiriman atau gedung pencakar langit dan memiliki potensi besar dalam hal output dan pengurangan emisi terkait pangan.

    Selain itu, pertanian vertikal juga bisa menghemat atau mengatr penggunaan sumber daya secara optimal.

    Ambil selada misalnya. Jika Anda menanamnya di lahan dengan metode pertanian konvensional, Anda akan menggunakan sekitar 259 liter air lebih banyak dibandingkan menggunakan metode pertanian vertikal hemat air.

    Manfaat lainnya, karena umumnya berada di dalam ruangan maka pertanian vertikal cenderung lebih tahan dalam beragam cuaca.

  • Pertanian Tradisional yang Lebih Ramah Lingkungan Makin Dilirik

    Pertanian Tradisional yang Lebih Ramah Lingkungan Makin Dilirik

    7cloud.asia – Metode bercocoktanam tradisional yang ramah lingkungan mulai kembali dilirik dunia. Salah satunya dilakukan petani di negara bagian Maharashtra India, Rafik Danwade.

    Setelah bertahun-tahun tergantung pada pestisida, Danwade yang saat ini berumur 56 tahun merasakan efektifitasnya berkurang.

    Dia harus menyemprotkan lebih banyak pestisida di ladangnya seluas satu hektar di desa Jambhali, namun bahan kimia tersebut menjadi kurang efektif dalam melindungi 3.200 tanaman cabainya dari serangan hama

    Akhirnya Danwade, beralih ke praktik yang diajarkan kakeknya pada tahun 1970-an: Ia menanam 1.000 bunga marigold di perbatasan dan di baris-baris ladang secara bergantian.

    “Kadang-kadang Anda harus melihat ke masa lalu untuk menemukan solusi bagi masalah saat ini dan masa depan,” kata Danwade dilansir earth.org.

    Baca: Melawan penggurunan dengan pertanian biogeneratif

    Danwade dan petani lain di seluruh dunia mempelajari kembali kearifan kuno tentang menanam tanaman yang dikenal sebagai tanaman perangkap untuk melindungi panen mereka dari hama.

    Pelajaran harus dipelajari kembali sekarang karena perubahan iklim telah meningkatkan suhu dan kelembapan, yang menyebabkan meningkatnya serangan hama di banyak wilayah di dunia.

    Tanaman marigold menghasilkan senyawa yang dapat menekan nematoda simpul akar, sehingga dapat membunuh hama yang memasuki sistem akar atau bersentuhan dengan tanah yang mengandung senyawa bioaktif tanaman marigold.

    Bunga-bunga berwarna kuning dan oranye cerah juga mengeluarkan senyawa yang mengusir kutu daun dan lalat putih. Bagi Danwade, marigold juga berfungsi sebagai penghalang alami yang membingungkan hama yang mengincar tanaman cabainya.

    Percobaan yang dilakukan antara tahun 1990 dan 1993 di India menemukan bahwa marigold Afrika juga efektif mengendalikan hama ulat kapas pada tomat.

    Metode ramah lingkungan ini sangat mengurangi kebutuhan penggunaan pestisida pada saat beberapa wilayah di India dan dunia melaporkan peningkatan serangan hama.

    Baca: Mengenal pertanian vertikal dan manfaatnya untuk lingkungan

    Metode ini jauh lebih menyehatkan bagi petani yang bekerja di ladang, orang yang mengonsumsi hasil panen, dan kualitas tanah karena bebas dari zat kimia

    Pemanasan global dapat memperluas jangkauan geografis hama, meningkatkan jumlah generasi, dan memudahkan spesies serangga invasif bertahan hidup di musim dingin.

    Hama telah menghancurkan 20 hingga 40 persen produksi tanaman di seluruh dunia setiap tahun. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, serangan serangga menyebabkan kerugian sebesar 70 miliar dolar setiap tahunnya.

    Sementara penyakit tanaman menyebabkan kerugian yang sangat besar sebesar 220 miliar dolar setahun.

    Tanaman perangkap dapat menurunkan kerugian ini sekaligus mengurangi kebutuhan penggunaan pestisida kimia berlebihan, yang selain membahayakan kesehatan, juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.

  • Waktu Penanaman Jadi Kunci Keberhasilan Penerapan Tanaman Perangkap

    Waktu Penanaman Jadi Kunci Keberhasilan Penerapan Tanaman Perangkap

    7cloud.asia – Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian antara lain dirasakan dengan semakin ganasnya serangan hama.

    Sebuah laporan menunjukkan bahwa 23 negara bagian di India menyaksikan serangan hama antara tahun 2015-2016 dan 2021-2022.

    Kabar baiknya, pemanfaatan tanaman perangkap merupakan bagian penting dari respons terhadap serangan hama ini.

    Petani umumnya menggunakan kacang hijau dan kacang hitam atau kacang eceng gondok sebagai tanaman perangkap untuk sorgum, sedangkan kacang gude dan kacang eceng gondok lebih disukai untuk kacang tanah.

    Sementara tanaman perangkap seperti jewawut atau kacang panjang umumnya digunakan untuk menanam padi.

    Baca: Pertanian tradisional yang lebih ramah lingkungan kembali dilirik

    “Ada beberapa kombinasi seperti itu yang digunakan petani sebelumnya,” kata Shailaja Gaikwad, seorang petani di India.

    Dia berjuang melawan hama yang menyerang tanaman sorgumnya pada tahun 2022. Mengikuti saran ayah mertuanya untuk membudidayakan kacang eceng gondok atau kacang India sebagai tanaman perangkap.

    Sebuah studi tinjauan yang diterbitkan dalam Applied Soil Ecology pada tahun 2019 mengamati tanaman perangkap yang potensial untuk mengurangi risiko dari spesies nematoda parasit tanaman yang menyebabkan kerusakan signifikan pada berbagai tanaman di seluruh dunia.

    Di Eropa Utara, serangan hama mengakibatkan kehilangan hasil panen mencapai 40 hingga 80 persen untuk sayuran seperti wortel, selada, bawang, dan bit gula.

    Penelitian tersebut menyatakan bahwa tanaman perangkap seperti lobak pakan ternak dapat mengurangi populasi nematoda apabila dilakukan mulsa lebih awal, yaitu proses pemotongan tanaman perangkap sebelum hama yang terperangkap di akar mulai berkembang biak.

    Baca: Tanaman perangkap jadi solusi alternatif pengganti pestisida

    Penelitian itu juga mengungkapkan waktu penanaman memainkan peranan penting dalam penanaman perangkap.

    Uji coba lapangan telah menunjukkan bahwa jika tanaman penutup rumput-polong ditanam pada musim gugur dan dibuat mulsa pada akhir musim semi atau awal musim panas, hal tersebut membantu mengurangi populasi nematoda hingga 90 persen.

    Namun, penundaan dalam menanam tanaman perangkap atau pemberian mulsa dapat meningkatkan jumlah nematoda karena mereka mencapai ambang batas suhu dan berkembang biak.

    Selain itu, kacang-kacangan juga memberikan manfaat tambahan dengan memperkaya tanah dengan nitrogen, yang membantu meningkatkan kesuburan tanah.

    “Tantangan utama dalam merancang sistem tanaman perangkap yang membutuhkan pengetahuan intensif meliputi pemahaman perilaku hama, optimalisasi pemilihan spesies tanaman, dan pengintegrasian sistem ini ke dalam praktik pertanian yang ada,” kata Sarkar.

    Baca: Mengenal teknik pertanian regeneratif untuk memulihkan lahan yang rusak

    Tanaman perangkap yang efektif, katanya, memerlukan pengetahuan mendalam tentang interaksi hama-inang, ekologi kimia senyawa pemikat, dan teknik manipulasi habitat.

    Untuk mengatasi hal ini, ia menyarankan mengidentifikasi makanan tambahan, warna tanaman perangkap, dan bahan kimia pemikat untuk mengembangkan pemikat yang andal bagi hama dan musuh alaminya.

    Yang juga penting adalah “membangun kemitraan dengan pemerintah dan organisasi penelitian untuk memastikan dukungan yang memadai bagi petani dalam mengintegrasikan strategi ini,” tambahnya.

    Banyak petani di Jambhali dan beberapa desa lainnya di India, terutama yang lebih muda, enggan menggunakan tanaman perangkap dan tetap menggunakan pestisida.

    Mereka berharap dapat memaksimalkan hasil panen satu jenis tanaman saja tanpa harus menyediakan lahan untuk tanaman perangkap.

  • Sistem Pertanian Handil: Kearifan Lokal Suku Dayak Ngaju Kelola Lahan Gambut

    Sistem Pertanian Handil: Kearifan Lokal Suku Dayak Ngaju Kelola Lahan Gambut

    7cloud.asia – Di wilayah bantaran Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah, masyarakat suku Dayak Ngaju pernah berjaya dengan sistem pertanian lokal berbasis “handil”.

    Handil adalah sebutan penduduk suku Dayak Ngaju untuk anak-anak sungai buatan yang menghubungkan Sungai Kahayan dengan lahan gambut desa.

    Secara harfiah, handil berarti parit atau saluran air. Namun, bagi masyarakat suku Dayak Ngaju, handil tak hanya berfungsi fisik, tapi juga mencerminkan sistem kepemilikan dan pengelolaan lahan bersama yang diwariskan turun-temurun.

    Handil menjadi penyangga ekosistem gambut serta fondasi ketahanan pangan masyarakat suku Dayak Ngaju.

    Dengan saluran ini, warga bisa mengatur aliran air untuk mencegah kekeringan dan kebakaran lahan, sekaligus memastikan suplai air untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari. Riset yang penulis lakukan menunjukkan, saat sistem handil masih berjaya, masyarakat bahkan bisa swasembada beras.

    “Saat tanah-tanah di handil masih bisa ditanami padi, saya tidak pernah beli beras mungkin selama lima puluh tahun,” ujar Ambronsyah (75 tahun), Ketua Handil Kakawang di Desa Gohong, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, saat menceritakan pengalaman pertanian handilnya yang masih berjaya sekitar awal 1980-an.

    Namun, masa keemasan itu perlahan sirna saat pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Suharto memulai Proyek Lahan Gambut (PLG) 1995 dan kebakaran hebat pada 2014.

    Pada 2015, alih-alih memulihkan pertanian handil, pemerintah justru menerbitkan regulasi yang melarang total pembakaran lahan gambut. Padahal, pertanian lahan handil dilakukan di tanah mineral dan bergantung pada praktik tebas-bakar.

    Baca: Pengelolaan lahan gambut jadi isu lingkungan yang strategis 

    Sampai sekarang, berbagai program pemulihan lahan gambut yang dilakukan pemerintah belum berhasil menghidupkan kembali fungsi handil.

    Sejarah sistem handil
    Handil dikelola oleh keluarga atau kelompok adat tertentu dan memiliki struktur yang ajek. Ada ketua, kepala lapangan, dan pengurus teknis.

    Pengurus handil akan menentukan siapa yang berhak mengakses dan mengelola tanah, tapi mereka tidak bisa mengalihkan kepemilikan. Pengelolaan handil berpedoman pada aturan adat yang disepakati bersama.

    Pembagian tanah handil tidak semata-mata berdasarkan hubungan darah, tapi juga kemampuan mengelola. Semua dilakukan melalui musyawarah.

    Uniknya, batas lahan hanya ditentukan dari lebarnya saja. Sementara panjang lahan tidak dibatasi. Penerima lahan bebas menentukan sejauh mana lahan yang mereka sanggup kelola. Batas kepemilikan antarlahan biasanya ditandai dengan parit-parit kecil.

    Jarak antara dua kanal sekitar 400 meter. Setiap kanal handil biasanya bisa melayani sekitar 40 hektare lahan atau 2–4 kilometer dari tepi sungai.

    Semakin panjang lahan yang ingin digarap, makin banyak akses saluran air yang dibutuhkan. Oleh karena itu, hanya mereka yang punya modal besar yang mampu membuka lahan lebih luas.

    Meski begitu, masyarakat lebih mengandalkan modal sosial seperti gotong royong ketimbang kekuatan finansial.

    Baca: Indonesia masuk empat besar negara dengan lahan gambut terluas

    Tidak semua lahan handil bisa ditanami. Lahan produktif hanya berada di pematang, ditandai dengan tumbuhnya pohon mahang (Macaranga triloba).

    Sementara lahan berair yang tidak bisa ditanami (disebut baruh) biasanya ditumbuhi pohon galam (Melaleuca leucadendron).

    Masyarakat mengelola lahan handil bersama-sama. Menjelang musim tanam padi sekitar Agustus atau September, mereka menjalankan tradisi tebas-tebang-bakar, yakni membersihkan lahan dari semak dan tanaman dengan cara menebas/menebang lalu membakarnya.

    Cara ini cocok di tanah Kalimantan karena abu hasil bakaran bisa menyuburkan dan menyeimbangkan keasaman tanah hutan hujan tropis.

    Warga juga bersama-sama mengontrol proses pembakaran, baik dari sisi teknis (seperti membuat batas bakar, menyediakan pompa air, memperhitungkan cuaca dan arah angin), maupun sosial (semua warga terlibat, ada tanggung jawab dan sanksi jika lalai, serta ada ritual minta izin ke leluhur dan alam sebelum membuka lahan).

    Setelah itu, penanaman dilakukan dengan teknik menugal (membuat lubang tanam satu per satu) secara gotong royong oleh para anggota handil.

    Untuk mencegah gagal panen akibat hama seperti burung pipit, mereka sengaja menanam padi dalam jumlah besar (sekitar 100 hektare) dan menyisihkan sebagian (sekitar 20 persen) hasil panen untuk dimakan burung.

    Akhir kejayaan
    Pada 1995, Proyek Lahan Gambut (PLG) Suharto mengubah sejuta hektare lahan gambut dan rawa di Kalimantan Tengah menjadi lahan pertanian demi mencapai swasembada beras.

    Namun, proyek ini gagal total. Alih-alih panen raya padi, PLG justru merusak ekosistem gambut. Lahan yang mengering menjadi sangat rentan terbakar.

    Pada 2014, kebakaran besar melanda Kalimantan Tengah seiring masifnya pembalakan liar. Setahun setelah tragedi itu, pemerintah menerbitkan peraturan larangan total membakar lahan. Kebijakan ini menyamaratakan larangan tebas-bakar terkendali dengan pembakaran liar.

    Imbasnya, sistem pangan tradisional berbasis handil mati, benih unggul lokal hilang, dan rantai produksi pangan lokal habis sudah. Kini, masyarakat terpaksa bergantung pada pasokan beras dari luar daerah.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Budiyanto Dwi Prasetyo (Peneliti Sosiologi Lingkungan pada Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

  • Mengintip Proyek Pertanian UPLAND Project di Malang

    Mengintip Proyek Pertanian UPLAND Project di Malang

    7cloud.asia – Kawasan UPLAND (The Development of Integrated Farming System in UPLAND Areas). Demikian pertanian percontohan di Desa Pujon Kidul, Kabupaten Malang, Jawa Timur itu dinamai.

    UPLAND ini merupakan hasil kerja sama pemerintah Indonesia dengan Islamic Development Bank (IsDB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) memperkuat ketahanan pangan.

    Program UPLAND di sejumlah desa di dua kecamatan di Kabupaten Malang menjadi salah satu upaya mendukung swasembada pangan.

    Country Director IFAD, Hani A Elsadani Salem mengatakan, program ini fokus pada ketahanan pangan. Komoditas seperti padi, bawang merah, dan ternak menjadi prioritas pengembangan.

    Dia juga menyebut, selama ini IFAD mendukung petani miskin untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Bantuan yang diberikan mencakup akses pasar, sarana pertanian, dan pelatihan.

    Baca: Masih banyak petani yang ragu terapkan pertanian regeneratif

    Fokus bantuan ditujukan pada petani di dataran tinggi yang selama ini kurang mendapat perhatian.

    “Selama ini, dataran rendah lebih banyak dibantu, padahal dataran tinggi juga potensial,” kata Hani. Program ini juga bertujuan meningkatkan penghidupan petani dan pelaku pertanian lainnya.

    Resident Representative IsDB, Amer Bukvic, memuji kekayaan alam Indonesia yang berpotensi besar. Dia menyatakan, program ini mendukung visi Indonesia Emas 2045.

    “Kami ingin membantu Indonesia menjadi lebih makmur melalui ketahanan pangan,” ungkap Amer. Program UPLAND juga mendukung pemasaran produk pertanian di pasar lokal dan internasional.

    Fokus utama program UPLAND di Malang adalah bawang merah jenis umbul batu hijau. Hasilnya memenuhi kebutuhan lokal sekaligus berkontribusi pada kebutuhan nasional.

    Baca: Prinsip pertanian regeneratif diperkirakan bakal jadi tren

    Dalam Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) pada Senin (21/7/2025), anggota Komisi IV DPR, I.N. Adi Wiryatama, menyampaikan bahwa program UPLAND merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

    “Program ini menjadi contoh bagaimana pengelolaan sumber daya alam bisa dilakukan secara bijaksana dan berkelanjutan, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat desa,” ujar politisi dari PDI Perjuangan itu.

    Menurutnya, Kabupaten Malang merupakan salah satu dari 14 kabupaten yang dipilih sebagai lokasi pengembangan UPLAND Project, dan menjadi model keberhasilan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat.

    “Kami ingin memastikan program ini berjalan sesuai tujuan, tepat sasaran, dan mampu menjadi percontohan nasional,” lanjutnya.

    Adi Wiryatama menilai keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program UPLAND Project ini.

    Baca: Perubahan iklim dorong penerapan pertanian regeneratif

    “Kami ingin mendapatkan fakta dan masukan langsung dari lapangan sebagai bahan evaluasi dan penguatan fungsi pengawasan kami terhadap pelaksanaan program ini. Apalagi program ini juga didanai dari pinjaman luar negeri, tentu harus dimaksimalkan dampaknya,” tegasnya.

    Ia berharap Pemerintah Daerah (Pemda) terus menjaga keberlanjutan program ini, serta memperluas cakupan manfaatnya bagi petani lain di wilayah dataran tinggi.

    “Dengan pendekatan terintegrasi dan partisipatif, UPLAND bisa menjadi solusi jangka panjang bagi tantangan sektor pertanian kita ke depan,” tutupnya.

    Plt. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Dirjen LIP), Hermanto mengatakan, Esensi dari program ini untuk peningkatan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani, yang dibangun secara berintegrasi.

  • Perubahan Iklim Mempengaruhi Produksi Pisang Dunia

    Perubahan Iklim Mempengaruhi Produksi Pisang Dunia

    7cloud.asia – Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim, karena hasil panen berubah seiring dengan interaksi faktor-faktor iklim seperti suhu, pola curah hujan, lamanya musim tanam, serta hama dan penyakit.

    Seiring memburuknya perubahan iklim, pasokan pangan, kualitas pangan, dan mata pencaharian petani pun ikut menurun.

    Dilansir Earth.org, sejumlah komoditas pertanian seperti pisang, kopi dan coklat merasakan dampak perubahan iklim. Dalam artikel ini kita akan ulas bagaimana tanaman pisang terimbas dampak perubahan iklim.

    Pisang (Musa Sp) merupakan tanaman pangan terbesar keempat di dunia setelah gandum, beras, dan jagung, dengan lebih dari 400 juta orang mengandalkannya untuk memenuhi 15-27 persen kebutuhan kalori harian mereka.

    Menurut penelitian terbaru oleh lembaga amal Christian Aid yang berbasis di Inggris, produksi di negara-negara seperti India dan Brasil diperkirakan akan menurun pada pertengahan abad ini akibat dampak perubahan iklim

    Penurunan produksi pisang dunia juga berdampak pada eksportir utama seperti Kolombia dan Kosta Rika.

    Baca: BRIN dorong pemuliaan pisang liar untuk pilar ketahanan pangan

    Para peneliti juga menemukan bahwa hingga 60 persen lahan di Amerika Latin dan Karibia, wilayah penghasil pisang terkemuka di dunia, tidak akan lagi cocok untuk ditanami pisang pada tahun 2080.

    “Perubahan iklim semakin parah setiap hari. Perubahan iklim merusak perkebunan kami dan juga membunuh kami,” ujar Aurelia, seorang petani Guatemala, kepada lembaga nirlaba tersebut.

    Beberapa faktor terkait iklim dapat memengaruhi tanaman pisang, termasuk peristiwa cuaca ekstrem seperti topan dan kekeringan. Namun, menurut Sophia, petani lain dari Guatemala, panas ekstremlah yang menghancurkan lahan-lahan pertanian di negaranya.

    “Masalah terbesar yang kami hadapi di komunitas ini adalah suhu panas yang tinggi, dan bagaimana iklim di sini memengaruhi perkebunan dan tanaman kami. Kami telah mengalami suhu panas tinggi ini selama dua tahun berturut-turut,” ujarnya.

    Menurut Christian Aid, kondisi cuaca yang tidak stabil memengaruhi produksi pisang dalam berbagai cara.

    Pertama, suhu di bawah 12°C dapat menyebabkan kerusakan akibat dingin pada tanaman, sementara suhu di atas 38°C biasanya menghentikan pertumbuhan,

    Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal

    Kedua, angin kencang selama siklon tropis juga menjadi masalah, karena dapat merobek daun, sehingga memengaruhi fotosintesis tanaman.

    Selain itu, banjir yang disebabkan oleh hujan lebat juga dapat mengganggu pertumbuhan pisang karena dapat mengikis tanah.

    Masalah lain yang memengaruhi pisang adalah penyakit seperti Fusarium TR4 dan bercak daun hitam, yang semakin berkembang biak dalam kondisi panas dan basah, sehingga memengaruhi produktivitas tanaman.

    TR4, penyakit mematikan yang lebih dikenal sebagai penyakit Panama, pertama kali terdeteksi di Asia pada tahun 1970-an. Penyakit ini menyebar ke Afrika pada tahun 2013 dan tiba di Amerika Latin tujuh tahun kemudian.

    Sebagai ancaman terbesar dunia bagi produksi pisang, patogen yang berasal dari tanah ini mencemari lahan secara permanen, membuatnya tidak dapat ditanami.

    Sementara itu, garis hitam pada daun diketahui mengganggu pasokan oksigen tanaman, sehingga mengurangi hasil panen pisang hingga 80 persen.

    Baca: Pertanian regeneratif dilirik untuk amankan pasokan pangan

     

  • Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Kopi Dunia

    Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Kopi Dunia

    7cloud.asia – Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim,

    Hal ini karena hasil pertanian berubah seiring dengan interaksi faktor-faktor iklim seperti suhu, pola curah hujan, lamanya musim tanam, serta hama dan penyakit yang dipicu perubahan iklim.

    Seiring memburuknya perubahan iklim, pasokan pangan, kualitas pangan, dan mata pencaharian petani pun ikut memburuk.

    Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya peristiwa cuaca ekstrem akibat perubahan iklim telah menyebabkan anjloknya hasil panen global.

    Perubahan iklim telah memberikan dampak negatif yang substansial terhadap pasokan pangan dunia, meningkatkan harga, dan memengaruhi ketahanan pangan, dan situasinya diperkirakan akan semakin memburuk.

    Baca: Perubahan iklim mengancam produksi pangan global

    Dilansir Earth.org, kenaikan suhu dan perubahan pola cuaca memengaruhi tiga tanaman pangan terpopuler di daerah tropis yakni pisang, kopi dan coklat Dalam artikel sebelumnya telah dibahas soal dampak perubahan iklim pada petani pisang.

    Dalam artikel ini, kita akan mengulas tentang dampak perubahan iklim pada petani kopi.

    Brasil dan Vietnam adalah produsen kopi terbesar di dunia, masing-masing menyumbang 39 persen dan 16 persen dari total produksi kopi dunia.

    Namun, dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara tersebut telah terdampak oleh peristiwa cuaca ekstrem yang parah akibat perubahan iklim, begitu pula panen kopi mereka.

    Tahun lalu, Brasil mengalami tahun terkeringnya sejak pencatatan dimulai pada tahun 1950, dengan ketinggian air di banyak sungai di Lembah Amazon turun ke titik terendah sepanjang sejarah.

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi produksi pisang dunia

    Penelitian yang diterbitkan pada bulan April menunjukkan bahwa Brasil mengalami embun beku yang dahsyat pada tahun 2021, diikuti oleh kekeringan parah pada tahun 2023, yang berdampak parah pada panen kopi, terutama Arabika.

    Kopi Arabika merupakan salah satu dari dua jenis biji kopi utama yang dikonsumsi di seluruh dunia bersama Robusta.

    Di negara bagian Minas Gerais, Brasil, misalnya, kekeringan yang berlebihan akibat kondisi kekeringan yang tidak normal telah mengurangi pertumbuhan vegetatif cabang, yang sangat penting bagi pohon untuk menghasilkan buah dalam jumlah besar.

    Sebaliknya, pada tahun 2024, hujan lebat yang tidak normal akibat Badai Tropis Trami memengaruhi provinsi-provinsi utama penghasil kopi di Vietnam tepat di awal musim panen.

    Ini menjadi dilema bagi para petai, karena jika dibiarkan terlalu lama setelah matang, kualitas biji kopi akan terpengaruh.

    Baca: Perubahan iklim dan anomali cuaca pengaruhi produksi kopi Indonesia

    Serupa dengan pisang, kopi juga terganggu oleh hama dan penyakit, yang menyebar seperti api akibat peningkatan suhu dan kelembapan.

    Misalnya, karat daun kopi, salah satu ancaman terbesar bagi tanaman kopi di daerah-daerah penghasil kopi utama di dunia, lebih mungkin menyebar dengan cepat di lingkungan yang hangat dan lembap, sehingga merusak pohon kopi.

    Pada tahun 2020, para peneliti menemukan bahwa perubahan iklim akan mengurangi area yang cocok untuk menanam kopi – baik Arabika maupun Robusta – sekitar 50 persen pada pertengahan abad ini.

    Tanpa intervensi, Vietnam diperkirakan dapat kehilangan setengah dari area produksi kopi Robusta saat ini pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.

    Kondisi ini akan berdampak khususnya pada petani kecil, yang memasok sekitar 95 persen kopi nasional Vietnam.

    Baca: Penerapan pertanian cerdas iklim bagus untuk lingkungan

  • Agar Transisi Energi Tak Mengorbankan Kelompok Rentan

    Agar Transisi Energi Tak Mengorbankan Kelompok Rentan

    7cloud.asia – Sejumlah negara Asia Tenggara dan kawasan ASEAN mulai melakukan langkah efisiensi atau pengurangan energi fosil sebagai bagian dari proses transisi energi untuk menurunkan emisi karbon.

    Tapi langkah ini memunculkan pertanyaan, apakah transisi energi ini bisa memperkuat ekonomi kawasan? Penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa kebijakan efisiensi energi, ternyata tidak selalu membawa dampak positif dalam jangka pendek.

    Di sejumlah negara berkembang, terutama yang masih bertumpu pada sektor pertanian dan perikanan, penghematan energi bisa memperlambat pertumbuhan dan berdampak secara sosial jika dilakukan secara langsung dan menyeluruh tanpa masa adaptasi.

    Tapi kabar baiknya, riset kami juga menunjukkan bahwa dampak ekonomi ini akan berkurang seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita.

    Dengan kata lain, setelah melewati masa transisi, manfaat efisiensi energi bakal terasa ganda: emisi turun, pertumbuhan ekonomi tetap berlanjut. Namun syaratnya, harus diikuti dengan kebijakan pendukung yang tepat sasaran.

    Ekonomi ASEAN masih bertumpu pada sektor primer
    Sebagian besar ekonomi negara-negara di ASEAN masih bertumpu pada sektor pertanian.

    Data World Bank sampai 2023 mencatat, Myanmar menjadi negara ASEAN dengan kontribusi sektor pertanian (termasuk budidaya tanaman dan peternakan, kehutanan, dan perikanan) paling besar bagi pembentukan PDB terbesar di kawasan.

    Sumbangan sektor pertanian untuk Myanmar mencapai 22,72 persen. Diikuti Kamboja (17,08 persen), Laos (16,14 persen), Indonesia (12,53 persen), dan Vietnam (11,96 persen). Sedangkan negara-negara lainnya mencatat angka di bawah 10 persen.

    Baca: Narasi transisi energi bersih pemerintahan Prabowo ambisius namun sarat kontradiksi

    Sektor pertanian menyerap jutaan tenaga kerja. Di Laos, misalnya, 69 persen tenaga kerja bekerja di sektor pertanian, tertinggi di kawasan.

    Jika sektor pertanian memberlakukan otomatisasi dengan tujuan efisiensi, maka ada risiko kehilangan pekerjaan jika tidak disertai langkah antisipasi.

    Di sisi lain, teknologi pertanian di negara-negara ASEAN juga masih didominasi oleh teknologi pertanian yang boros energi.

    Dalam situasi ini, kebijakan penghematan energi yang dilakukan secara cepat dan “memaksa” bisa berdampak langsung terhadap pekerja dan volume produksi, karena tidak semua kegiatan di sektor primer bisa dihemat energinya tanpa mengorbankan hasil.

    Hasil studi
    Kami melakukan studi menggunakan metode stochastic frontier analysis (SFA) dan model panel vector autoregression (PVAR) untuk mengukur efisiensi energi secara menyeluruh. Hasilnya menunjukkan bahwa negara-negara di ASEAN mayoritas masih sangat boros energi.

    Data menunjukkan, sebagian besar negara ASEAN masih boros energi dan punya banyak ruang untuk memperbaiki efisiensinya. Singapura adalah negara paling hemat energi, sedangkan Indonesia termasuk yang paling boros.

    Hitungan kami, negara-negara di Asia Tenggara sebenarnya masih bisa mengurangi konsumsi energi hingga 85,9 persen jika seluruh potensi efisiensi dimaksimalkan. Namun, penghematan besar-besaran bisa berefek menekan pertumbuhan ekonomi.

    Dalam jangka pendek—sekitar dua hingga tiga tahun pertama—Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara ASEAN cenderung mengalami penurunan.

    Baca: Kerusakan lingkungan di balik ambisi transisi energi

    Dampak negatif akan sangat terasa di sektor primer, seperti pertanian. Hal ini terjadi karena dua hal.

    Pertama, minimnya teknologi alternatif. Ketika pasokan bahan bakar fosil dibatasi, pelaku usaha kecil di sektor primer tidak punya akses pada teknologi hemat energi atau sumber energi terbarukan yang terjangkau.

    Kedua, tidak adanya bantalan (buffer) ekonomi bagi kelompok rentan. Petani dan nelayan, misalnya, umumnya tidak memiliki tabungan atau perlindungan sosial yang cukup untuk bertahan selama masa transisi.

    Dua faktor ini membuat kebijakan efisiensi energi yang dilakukan terburu-buru sering kali berujung pada penurunan pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah.

    Sebagai contoh, ketika konsumsi solar nelayan dibatasi tanpa disertai dukungan teknologi kapal hemat energi, hasil tangkapan ikan mereka bisa menurun.

    Atau, jika petani mengurangi penggunaan pompa air untuk menghemat energi, risiko gagal panen akibat kekurangan pasokan air bisa meningkat. Akibatnya, ekonomi daerah ikut tertekan.

    Namun, ini bukan berarti efisiensi energi adalah kebijakan yang salah. Efek negatif ini sifatnya hanya sementara.

    Begitu pendapatan masyarakat meningkat dan teknologi menjadi lebih terjangkau, manfaat efisiensi energi akan mulai terasa, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.

    Artinya, memang ada “biaya transisi” yang harus diantisipasi pada fase-fase awal perubahan. Agar transisi energi berjalan adil, kebijakan efisiensi harus bertahap dan disertai perlindungan sosial.

    Lantas, langkah apa yang bisa dilakukan agar transisi energi tidak mengorbankan kelompok rentan? Jawabannya akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Rishan Adha (Research associate and doctoral student, RWTH Aachen University)

  • Anggaran Sektor Pertanian Naik Rp10 Triliun, DPR Tegaskan Harus Sejahterakan Petani

    Anggaran Sektor Pertanian Naik Rp10 Triliun, DPR Tegaskan Harus Sejahterakan Petani

    7cloud.asia – Di masa yang akan datang, tantangan yang dihadapi sektor pertanian bukan hanya soal produksi, tetapi juga adaptasi terhadap krisis iklim, integrasi teknologi digital, serta keterhubungan dengan regulasi internasional.

    Hal itu terungkap dalam rapat kerja Komisi IV DPR dengan Menteri Pertanian, Rabu (3/9/2025) yang dipimpin oleh Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Soeharto.

    Dalam rapat tersebut, Anggota Komisi IV DPR Rina Sa’adah menyebut aturan anti deforestasi Uni Eropa sangat besar pengaruhnya terhadap ekspor kopi, kakao, dan sawit.

    Dia juga mengingatkan, regenerasi petani juga harus diperhatikan, bukan hanya lewat pendidikan vokasi dan penyuluhan, melainkan juga memastikan pendapatan yang layak, akses pembiayaan murah, serta pengembangan digital farming yang menarik bagi generasi muda.

    ”Dengan langkah-langkah itu, kita tidak hanya menjaga keberlanjutan pangan, tetapi juga memastikan kedaulatan pangan yang modern, inklusif, dan berdaya saing,” tambahnya.

    Baca: Ada kebijakan yang tak adil untuk petani

    Oleh karena itu Rina mendorong Kementerian Pertanian untuk berani mengalokasikan anggaran lebih besar untuk memperkuat rantai dingin pasca panen.

    Serta melibatkan Koperasi dan UMKM (usaha mikro kecil menengah) pangan dalam hilirisasi produk. Langkah itu penting agar hasil pertanian tidak terbuang dan memiliki nilai tambah.

    Rantai dingin pasca panen merupakan sistem logistik suhu terkontrol untuk menjaga kesegaran dan kualitas produk pertanian, seperti buah, sayur, dan daging, mulai dari proses pasca panen hingga sampai ke tangan konsumen.

    Sistem tersebut termasuk di dalamnya proses penyimpanan berpendingin, transportasi yang sesuai, dan distribusi terintegrasi untuk mencegah kerusakan, mengurangi limbah pangan, dan memperpanjang masa simpan produk.

    Rina menegaskan bahwa pelaksanaan pembangunan di sektor pertanian harus benar-benar berorientasi sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat khususnya petani.

    Baca: Kebijakan ketahanan pangan belum berpihak kepada petani dan nelayan

    Tambahan alokasi anggaran Kementerian Pertanian tahun 2026 mendatang yang mencapai Rp 40 triliun, atau sekitar Rp10,5 triliun dibanding tahun 2025 harus berdampak pada kesejahteraan petani.

    “Dengan adanya tambahan anggaran tersebut, jajaran Kementerian Pertanian tentu harus harus bekerja lebih baik lagi, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat,” ujar Rina.

    Dalam kesempatan itu, Rina juga mempertanyakan target produksi komoditas strategis pada tahun 2026 terkait daging sapi atau kerbau yang sebesar 514 ribu ton.

    Ia menilai perlu strategi konkret untuk mencapai target tersebut. Namun sayangnya dalam paparan Kementerian Pertanian tidak terlihat adanya program bantuan sapi atau kerbau.

    Baca: Cetak sawah baru bukan solusi menuju ketahanan pangan

  • Hari Tani Nasional 2025: Sektor Pertanian Hadapi Krisis Regenerasi Petani

    Hari Tani Nasional 2025: Sektor Pertanian Hadapi Krisis Regenerasi Petani

    7cloud.asia – Di Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September, sektor pertanian di Indonesia dihadapkan pada tantangan serius yakni krisis regenerasi petani.

    Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur Sumrambah mengungkapkan, sangat sedikit anak muda yang bercita-cita melanjutkan profesi orang tuanya bertani di sawah.

    “Hasil keliling saya ke kelompok tani (sekitar Jawa Timur), tidak sampai 10 anak yang bercita-cita menjadi petani. Bahkan anak aktivis tani pun jarang diarahkan ke pertanian,” kata Sumrambah dalam Seminar Nasional Hari Tani 2025 yang digelar DPP PDI Perjuangan di Jakarta, Rabu (24/9/2025).

    Sumrambah menjelaskan bahwa sebagian besar petani yang ia temui dihadapkan pada keterbatasan struktural.

    Data BPS menunjukkan, 65 persen petani memiliki lahan di bawah 0,5 hektare atau 5000 meter persegi, sementara 75 persen petani hanya berpendidikan setingkat sekolah dasar.

    Baca: Anggaran Ketahanan Pangan belum berpihak kepada petani dan nelayan

    “Selain lahan dan pendidikan, modal dan akses pasar juga menjadi hambatan besar bagi para petani. Dengan kondisi ini, petani semakin sulit yakin bahwa pertanian bisa menjamin masa depan,” ujarnya.

    Untuk mengatasi masalah tersebut, Sumrambah mendorong model cooperatif fund yang menggabungkan petani kecil dengan offtaker, universitas, lembaga keuangan dan asuransi.

    Menurut dia, pola itu sudah dijalankan di lima kabupaten Jawa Timur selama empat tahun terakhir dan mulai menunjukkan hasil. Ia menekankan pentingnya membangun kelembagaan petani yang sehat, menyediakan teknologi, serta memastikan informasi pertanian mudah diakses.

    Pemerintah, kata dia, juga harus menjaga harga hasil pertanian agar petani tidak terus merugi.

    Sumrambah mengatakan mayoritas petani Indonesia kini berusia di atas 40 tahun, sehingga krisis regenerasi harus segera diatasi.

    Baca: Upaya adaptasi petani pada perubahan iklim

    “Beban tanggung jawab bukan hanya di petani, tapi pada kita semua sebagai anak bangsa,” ujarnya.

    Ia juga menekankan perlunya percepatan penetapan lahan sawah abadi. Sumrambah menyebutkan hingga saat ini, baru 263 kabupaten/kota yang menetapkan lahan sawah abadi.

    Menurutnya, apabila masalah tersebut tidak diselesakan dengan cepat maka ancaman impor dan hilangnya lahan produktif akan semakin besar.

    Sementara dalam aksi unjuk rasa meperingati Hari Tani Nasional yang berlangsung di depan Gedung DPR/MPR, massa mendesakvPresiden dan DPR segera menjalankan reforma agraria dan mendistribusikan tanah kepada rakyat.

    Pengunjuk rasa juga menuntut agar konflik agraria yang saat ini terjadi di banyak daerah, segera diselesaikan. Pemerintah juga didesak untuk mengembangkan ekonomi rakyat di kawasan pertanian sesuai yang digariskan dalam UU Pokok Agraria 1960.

    Baca: Peredaran pupuk palsu berpotensi rugikan petani