Tag: lingkungan

  • Puluhan Ikan Paus Pemandu Sirip Pendek Terdampar di Pantai: Bisa Jadi Pertanda Rusaknya Ekosistem

    Puluhan Ikan Paus Pemandu Sirip Pendek Terdampar di Pantai: Bisa Jadi Pertanda Rusaknya Ekosistem

    7cloud.asia – Beberapa pekan lalu, puluhan ikan paus pemandu sirip pendek (short-finned pilot whale) terdampar di pesisir Kecamatan Pureman, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

    Fenomena ini memang bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia, namun hal ini dapat menjadi sebuah pertanda terjadinya gangguan terhadap ekosistem ikan paus pemandu sirip pendek

    Peneliti dari College of Science and Engineering, James Cook University, Australia, Putu Liza Kusuma Mustika menjelaskan terdamparnya puluhan ikan paus pemandu sirip pendek dapat disebabkan oleh faktor alamiah maupun faktor antropogenik.

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, Icha, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ikan paus merupakan mamalia laut yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, seperti penggunaan sonar di bawah laut, pencemaran air, kontaminasi sampah laut, hingga badai matahari yang menyebabkan gangguan elektromagnetik pada kutub-kutub bumi.

    Paus menggunakan sonar untuk sistem navigasinya, sehingga bisa terganggu oleh penggunaan perangkat yang memancarkan gelombang elektromagnetik atau sonar di dalam laut seperti pada kegiatan eksplorasi migas.

    Baca: Kaimana ditetapkan menjadi lokasi konservasi Hiu Paus

    Menurunnya kualitas air juga dapat menurunkan imunitas paus, sedangkan semakin banyaknya sampah laut (terutama plastik) telah menyebabkan lebih banyak paus yang mati karena menelan sampah-sampah tersebut.

    “Fenomena terdamparnya paus, seperti pada paus sperma, dapat juga berkaitan dengan terjadinya badai matahari,” tambah Icha.

    Icha menyebut bahwa faktor alami lain seperti penyakit atau usia tua dapat membuat paus lebih rentan terdampar.

    “Paus yang sakit atau tua sering kali kehilangan kemampuan navigasinya, atau terpisah dari kawanan, yang menyebabkan mereka lebih rentan terdampar di pantai,” tambahnya.

    Menurut Icha, kejadian ini perlu mendapatkan perhatian serius karena paus merupakan spesies yang dilindungi.

    Baca: KLHK dan Pertamina identifikasi individu baru hiu paus

    Untuk itulah jejaring penanganan mamalia laut terdampar di Indonesia yang beranggotakan pegiat lingkungan, pemerintah pusat dan daerah, organisasi non-pemerintah, serta komunitas masyarakat di seluruh pesisir Indonesia terus bekerja sama melakukan tindakan penanganan dengan cara yang tepat.

    Langkah yang dilakukan seperti upaya pengembalian paus ke laut bagi biota yang masih hidup, atau penguburan bagi biota yang sudah mati.

    Upaya penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab spesifik terdamparnya paus juga perlu dilakukan melalui nekropsi (bedah bangkai hewan).

    Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Achmad Sahri menambahkan dari sisi pola distribusi kejadian paus terdampar di Indonesia.

    BRIN juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Peneliti dari College of Science and Engineering, James Cook University, Australia, untuk melakukan riset terkait ekologi paus dan kejadian terdampar, guna memahami lebih jauh tentang tingkah laku biota ini dan mencegah terulangnya kejadian serupa.

    Riset yang dikerjakannya bersama Icha-Ketua Tim Peneliti dan beberapa peneliti dari Indonesia dan Amerika Serikat menelaah data kejadian terdampar selama 26 tahun dari tahun 1995-2021.

    Hasilnya akan dikupas dalam tulisan selanjutnya.

  • KLHK Bakal Mewajibkan Penyelenggara Acara untuk Memastikan Pengelolaan Sampah yang Ditimbulkannya

    KLHK Bakal Mewajibkan Penyelenggara Acara untuk Memastikan Pengelolaan Sampah yang Ditimbulkannya

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sedang menyiapkan surat edaran yang mewajibkan penyelenggara acara untuk memastikan pengelolaan sampah yang timbul akibat kegiatan.

    Langkah KLHK tersebut untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih bertanggung-jawab sekaligus mewujudkan minimnya sampah yang dihasilkan dari sebuah kegiatan maupun penyelenggaraan acara besar.

    Hal ini, diungkapkan Direktur Penanganan Sampah Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) KLHK Novrizal Tahar saat ditemui di sela acara diseminasi studi tentang off-taker pengelolaan sampah refuse derived fuel (RDF) di Jakarta, Selasa (1/10/2024).

    Baca: Saat Luna Maya menyoroti pengelolaan sampah di kota-kota Indonesia

    Dilansir Antaranews.com, Novrizal menyebut surat edaran tersebut menyasar pengelolaan sampah yang timbul secara tidak periodik atau bukan hasil dari kegiatan rutin.

    “Jadi kegiatan musik, kegiatan sport yang besar termasuk juga kegiatan keagamaan seperti kedatangan Paus, itu sekarang kita akan mengeluarkan surat edaran di mana si penyelenggara wajib melakukan less waste event,” kata Novrizal.

    Dia mengatakan pengelolaan sampah oleh penyelenggara acara itu harus dilakukan sesuai dengan standar dan pengaturan yang berlaku untuk mewujudkan kegiatan minim sampah.

    “Itu sudah ada standarnya. Jadi tidak boleh lagi sampahnya habis acara ditinggal, habis kegiatan maraton ditinggal. Jadi itu nanti intinya,” kata Novrizal.

    Baca: Pemkot Jakarta Pusat dorong warga memilah sampah dari rumah

    Dia mengatakan masih belum dapat mengonfirmasi kapan edaran tersebut akan dikeluarkan yang mewajibkan pengelolaan sampah oleh penyelenggara acara tersebut.

    Edaran itu dari KLHK itu sendiri akan ditujukan kepada kepala daerah serta kementerian/lembaga untuk memastikan penyelenggaraan acara yang minim sampah.

    Edaran minim sampah itu merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi timbulan sampah di Tanah Air. Selama ini, penyelnggaraan kegiatan sering menghasilkan timbulan sampah yang tak terkelola dengan baik.

    Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, pada 2023 terdapat 38,7 juta ton sampah yang dihasilkan di seluruh Indonesia. Sebesar 37,87 persen di antaranya masih belum terkelola dengan baik.

  • Ekonomi Restoratif: Ketika Ekonomi dan Lingkungan Saling Berkelindan

    Ekonomi Restoratif: Ketika Ekonomi dan Lingkungan Saling Berkelindan

    7cloud.asia – Kemajuan peradaban manusia telah mendorong eksploitasi besar-besaran terhadap lingkungan. United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat sejak revolusi industri 1.0 pada abad ke-18, sebanyak 87 persen lahan basah global hilang.

    Padahal, lahan basah merupakan habitat alami flora dan fauna, sumber air bersih, dan sumber resapan air pencegah banjir.

    Puncak akselerasi kehancuran ekosistem terjadi sejak 50 tahun terakhir. Dalam kurun waktu ini, manusia mendegradasi lebih dari 2 miliar hektare (ha) lahan.

    Fenomena ini membawa dunia kepada dua wawasan kritis. Pertama, dunia masih bergerak lamban dalam menghadapi krisis iklim dan agenda transisi energi.

    Kedua, misi berkelanjutan seakan berlawanan dengan pertumbuhan dan kegiatan ekonomi, terutama sektor ekstraktif yang dinilai lebih praktis dan menguntungkan secara ekonomis.

    Baca: Mengenal apa itu ekonomi sirkular

    Mengenal ekonomi restoratif
    Kerusakan lingkungan yang kian parah memicu keresahan bagi para pemerhati lingkungan untuk menggagas model ekonomi yang lebih progresif dan ramah lingkungan, yaitu ekonomi restoratif.

    Istilah ini dipopulerkan oleh pengusaha dan pakar lingkungan asal Amerika, Paul Hawken, pada 1993. Dalam bukunya The Ecology of Commerce, Hawken mengatakan “restorasi adalah mengembalikan sesuatu ke kondisi semula”.

    Semangat ide ini disambut baik oleh Ekonom Oxford Kate Raworth pada 2012 melalui bukunya Doughtnut Economics: Seven Ways to Think Like a 21st-Century Economist. Raworth sepakat bahwa manusia modern tidak bisa lagi berpikir jika pertumbuhan ekonomi dapat dipacu ugal-ugalan karena batasan dan beban ekologi.

    Keserakahan ekonomi ini berujung pada kerusakan alam yang fatal seperti perubahan iklim, degradasi lahan, hingga penipisan lapisan ozon.

    Pandangan ini secara umum turut mengkritisi model ekonomi arus utama yang hanya mengukur pertumbuhan ekonomi dari Produk Domestik Bruto (PDB), tanpa mempertimbangkan dampaknya secara menyeluruh terhadap keberlanjutan alam dan komunitas sosial.

    Baca: Potensi pengembangan ekonomi hijau di Indonesia

    Gagasan dan model ekonomi prolingkungan ini memang menjadi perdebatan dan menimbulkan pertanyaan mengenai sampai sejauh apa restorasi yang dimaksud.

    Sebab, tidak mungkin mengembalikan pencapaian peradaban manusia yang sudah sangat modern ini kembali ke era berburu dan bercocok tanam.

    Untuk menjawab hal ini, kita bisa menengok kembali kebijakan normalisasi kali Ciliwung di Jakarta yang bisa dijadikan contoh populer kebijakan ekonomi restoratif.

    Program ini mengatasi banjir tahunan yang berdampak terhadap aktivitas ekonomi nasional dengan membenahi aspek lingkungan.

    Beda ekonomi restoratif dengan ekonomi sirkular dan regeneratif?
    Dalam forum akademis, ekonomi restoratif kerap dipertentangkan dengan ekonomi regeneratif.

    Sedangkan dalam media massa, istilah ini kalah populer dibandingkan ekonomi sirkular. Meskipun sama-sama menekankan pada keberlanjutan, ketiganya memiliki karakteristiknya tersendiri.

    Ekonomi restoratif fokus pada perbaikan dan pengembalian alam ke kondisi semula. Adapun ekonomi regeneratif adalah membuat sesuatu lebih baik lagi. Artinya, regenerasi merupakan bentuk peningkatan dari restorasi atau pemulihan.

    Baca: Manfaat jika Indonesia serius terapkan ekonomi hijau

    Dua pengertian ini melahirkan implikasi bahwa praktik restoratif lebih mudah digapai. Kewajiban para pemangku kepentingan hanya sebatas mengembalikan kerusakan lingkungan ke kondisi semula akibat dari kegiatan mereka.

    Sementara itu, orientasi utama ekonomi sirkular adalah meminimalkan limbah dan memaksimalkan efisiensi sumber daya dengan menciptakan sistem siklus tertutup. Ini terinspirasi dari proses siklus alam agar produk dan material dapat terus digunakan kembali.

    Tabel di atas menunjukkan bahwa ketiga model ekonomi memiliki karakteristik dan pendekatannya tersendiri.

    Perbedaan ini tidak dimaknai sebagai hal yang bertentangan, tetapi sebagai hal yang saling melengkapi dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.

    Bagaimana penerapan ekonomi restoratif berhasil menghasilkan pembangunan yang berkelanjutan bahkan keuntungan ekonomi, akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis: Achmad Hanif Imaduddin
    Researcher, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)

  • Tak Hanya Bagus untuk Lingkungan, Lockdown Saat Pandemi Covid-19 Juga Turunkan Suhu Bulan

    Tak Hanya Bagus untuk Lingkungan, Lockdown Saat Pandemi Covid-19 Juga Turunkan Suhu Bulan

    7cloud.asia – Pembatasan kegiatan masyarakat atau lockdown secara global saat pandemi Covid-19 yang melanda dunia awal 2020 membawa banyak pengaruh pada lingkungan dan kehidupan manusia.

    Lockdown global saat pandemi Covid-19 ternyata mampu memperbaiki kualitas udara dan berdampak positif bagi lingkungan.

    Ternyata dampak positif lockdown global saat pandemi Covid-19 tak hanya dirasakan penghuni planet Bumi, tetapi juga berimbas pada kondisi Bulan.

    Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society pada 2024, mengungkap lockdown global membawa perubahan signifikan pada suhu malam hari di Bulan.

    Hal ini diakibatkan berkurangnya radiasi yang dipancarkan dari Bumi. Mungkin pembaca bertanya, kenapa bisa demikian?

    Baca: WFH menjadi salah satu opsi atasi polusi udara

    Simak penjelasan berikut ini. Lockdown global telah mengakibatkan pengurangan aktivitas manusia secara besar-besaran, sehingga emisi gas buang sehingga polusi udara menurun.

    Akibatnya, radiasi yang biasanya dipancarkan Bumi ke Bulan, terutama pada malam hari, berkurang drastis. Ini menyebabkan Bulan yang menerima sebagian radiasi dari Bumi juga mengalami penurunan suhu.

    Penurunan suhu di Bulan
    Studi yang diterbitkan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society pada 2024 ini dilakukan tim peneliti yang menganalisis suhu malam di enam lokasi di sisi dekat Bulan antara tahun 2017 hingga 2023.

    Penelitian itu menemukan adanya penurunan signifikan suhu permukaan malam hari di Bulan selama periode lockdown global pada April–Mei 2020.

    Tim peneliti menemukan adanya “anomali” dalam bentuk penurunan suhu yang tidak biasa selama lockdown, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

    Baca: Lubang ozon mencapai 10 juta kilometer persegi

    Para peneliti menegaskan bahwa penurunan ini terkait langsung dengan pengurangan radiasi yang dipancarkan dari Bumi atau terrestrial radiation (TR). Tapi, bagaimana lockdown di Bumi mempengaruhi suhu Bulan?

    Untuk memahami bagaimana radiasi dari Bumi memengaruhi Bulan, penting untuk memahami hubungan antara keduanya.

    Karena Bulan tidak memiliki atmosfer, ia menerima panas secara langsung dari Matahari di siang hari dan sebagian radiasi dari Bumi pada malam hari.

    Radiasi dari Bumi, yang disebut Earthshine, adalah pancaran sinar yang memantulkan kembali energi ke luar angkasa. Nah, radiasi dari Bumi ini sebagian dipengaruhi oleh aktivitas manusia seperti industri dan transportasi.

    Selama pandemi, dengan berkurangnya aktivitas manusia, terjadi pengurangan polusi dan emisi gas rumah kaca. Hal ini berkontribusi pada penurunan radiasi Bumi.

    Baca: Lubang ozon dan dampaknya pada lingkungan

    Dilansir Kompas.com, data studi menunjukkan bahwa pengurangan radiasi bisa mencapai 32 persen untuk aerosol dan 7 persen untuk refleksi sinar dari atmosfer Bumi. Dampaknya, Bulan yang biasa mendapatkan radiasi dari Bumi di malam hari merasakan penurunan suhu.

    Suhu malam hari di Bulan bisa turun menjadi sekitar 0,37 derajat Kelvin atau sekitar minus 273 derajat Celcius sebagai respons terhadap perubahan TR.

    Penemuan ini menunjukkan betapa besarnya dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan, bahkan hingga ke luar angkasa.

    Selain itu, penelitian ini juga membuka peluang baru untuk mempelajari perubahan iklim Bumi melalui pengamatan suhu di Bulan. Seperti yang dikatakan para peneliti dalam artikel mereka,

    “Studi kami menunjukkan bahwa Bulan mungkin telah mengalami efek dari lockdown Covid-19, yang divisualisasikan sebagai penurunan anomali dalam suhu permukaan malam hari di Bulan selama periode itu.” demikian laporan tersebut.

  • Alasan Mengapa Thrifting Makin Dilirik Anak Muda: Salah Satunya Mengurangi Sampah

    Alasan Mengapa Thrifting Makin Dilirik Anak Muda: Salah Satunya Mengurangi Sampah

    7cloud.asia – Belanja pakaian second atau thrifting masih diminati warga khususnya anak muda. Bahkan, thrifting kini makin menjadi gaya hidup yang digemari para jiwa muda.

    Meski memicu polemik karena dinilai bisa mematikan industri garmen dalam negeri, thrifting tetap menjadi pilihan. Bahkan gaya hidup yang satu ini disebut lebih ramah lingkungan dibanding fast fashion.

    Bukan hanya soal harga yang lebih terjangkau, yakni mulai Rp20.000 satu potong, ada banyak alasan lain mengapa thrifting menjadi salah satu pilihan.

    Mulai dari pilihan yang unik, kualitas barang, hingga sensasi menemukan “harta karun”, membuat thrifting semakin digandrungi oleh anak muda.

    “Selain barangnya lumayan bagus bahannya juga nyaman,” ujar Emy kepada 7cloud.asia saat ditemui di sebuah kios thrifting di Kawasan Blok M beberapa waktu lalu.

    Emy mengaku, dalam satu bulan bisa dua hingga tiga belanja di tempat thrifting. Tak hanya dikenakan sendiri, Emy kadang juga membagikan hasil perburuannya kepada teman-temannya.

    “Biasanya saya cari baju santai untuk dikenakan sehari-hari,” ujar Emy sambil menunjukkan setumpuk pakaian yang telah dipilihnya.

    Baca: Thrifting dipilih karena mengurangi sampah tekstil

    Berikut sejumlah alasan mengapa thrifting digemari, seperti dikutip dari berbagai sumber:

    1. Harga yang relatif murah
    Salah satu daya tarik terbesar thrifting adalah barang berkualitas, dengan harga yang terjangkau.

    Dengan barang-barang berkualitas yang dijual lebih murah dibanding toko fast fashion, membuat para anak muda merasa bahwa thrifting memberikan kebebasan bergaya tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

    “Banyak baju yang masih bagus banget, tapi harganya murah,” ucap Gerald, seorang mahasiswa yang sedang thrifting di Blok M Square, Senin (7/10/2024) dikutip Kompas.com

    Tak hanya mahasiswa, harga thrifting yang sangat terjangkau, juga membuatnya banyak dilakukan anak SMA, seperti Azizah, Naya, Azahra, dan Sabrina.

    “Harganya lebih terjangkau, kaya ini aja rok (di toko retail) harusnya Rp 150.000 tapi disini harganya cuma Rp 35.000,” ucap Naya yang sedang melihat-lihat bersama tiga temannya di toko Blok M Thrift, Jakarta Selatan, pada Senin (7/10/2024).

    2. Pengalaman seru
    Berburu pakaian di toko thrifting memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Pengunjung sering kali merasa seperti sedang berburu harta karun, di mana setiap rak baju menawarkan kejutan.

    Suasana mencari dan menemukan sesuatu yang istimewa, membuat kegiatan thrifting menjadi lebih menyenangkan dibandingkan belanja di mal.

    “Saat cari-cari baju itu seru, apalagi kalo tempatnya juga nyaman untuk thrifting, jadi makin betah,” ungkap Gerald.

    Baca: Era baru thrifting, mengubah pakaian bekas menjadi produk bernilai

    3. Anti Mainstream
    Tujuan lain banyak kaum muda tertarik untuk thrifting, karena ingin tampil beda. Toko thrift menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengekspresikan gaya personal yang anti-mainstream.

    Di sini, pengunjung bisa menemukan pakaian dengan desain unik yang tidak bisa ditemukan di pusat perbelanjaan modern.

    “Kita bisa nemuin baju-baju dari zaman dulu di toko thrift,” lontar Azizah.

    Menggabungkan hasil thrifting ke dalam outfit sehari-hari, akan memberikan kesan autentik dan kreatif.

    “Untuk outfit kuliah, aku biasanya gabungin baju bloke core yang aku dapat dari thrift dengan celana matching yang aku punya, jadi outfit tetap trendi namun formal,” jelas Gerald.

    4. Lebih ramah lingkungan
    Membeli pakaian thrifting berarti membeli pakaian yang tak lagi dipakai orang lain sehingga tidak dibuang sia-sia menjadi sampah.

    Beralih ke thrifting juga bisa mengalahkan fast fashion, yang terus-menerus memproduksi pakaian-pakaian baru dan orang hanya pakai sekali dan beli lagi beli lagi.

    ”Jadi mengurangi waste dengan melakukan thrifting,” kata Zaid dikutip VOA Indonesia Mei 2023 lalu.

    Baca: ControlNew mengenalkan sustainable fashion

  • Coldplay Olah Sampah Platik Kali Cisadane untuk Vynil Album Terbarunya, Moon Music

    Coldplay Olah Sampah Platik Kali Cisadane untuk Vynil Album Terbarunya, Moon Music

    7cloud.asia – Band legendaris asal Inggris, Coldplay seolah tak pernah kehabisan akal untuk menginspirasi dunia untuk membuat aksi keren bagi lingkungan.

    Baru-baru ini Coldplay merilis album terbaru bertajuk Moon Music dalam format vinyl atau piringan hitam yang terbuat dari sampah plastik dari Sungai Cisadane, Jawa Barat, Indonesia.

    Selain dari Indonesia, material vynil dalam album ke-10 Coldplay yang diberi tajuk “Moon Music” tersebut berasal dari sampah plastik di Sungai Klang, Selangor, Malaysia.

    Uniknya, vinyl khusus “Moon Music” yang terbuat dari plastik daur ulang itu dapat menembus cahaya saat terkena sinar.

    Tidak hanya itu, Coldplay juga merilis “Moon Music” dalam bentuk CD. Album tersebut dikatakan sebagai album CD pertama di dunia yang dirilis dalam bentuk EcoCD dan dibuat dari 90 persen bahan polikarbonat daur ulang.

    Baca: Coldplay sumbang kapal pemungut sampah di Sungai Cisadane

    Dilansir dari Malay Mail, Sabtu (5/10/2024), vokalis Coldplay Chris Martin mengatakan, setiap keping vinyl dari album seberat 140 gram tersebut berasal dari sembilan sampah botol plastik PET.

    Bahan baku sampah plastik untuk dijadikan viny Coldplay disuplai dari gerakan The Ocean Cleanup yang menerjunkan kapal pembersih sampah di Sungai Klang dan Sungai Cisadane.

    The Ocean Cleanup merupakan lembaga nirlaba yang didirikan oleh warga negara Belanda, Boyan Slat, pada 2013 dengan tujuan untuk mengatasi polusi plastik di sungai.

    The Ocean Cleanup kemudian menyebar ke Malaysia, Indonesia, Republik Dominika, Vietnam, Thailand, dan Amerika Serikat

    Coldplay sendiri sebelumnya sudah bekerja sama dengan The Ocean Cleanup untuk menerjunkan kapal pembersih sungai, antara lain ke Indonesia dan Malaysia.

    Baca: Konser ramah lingkungan ala Coldplay

    Rencana Coldplay untuk merilis album fisik dalam format vinyl yang terbuat dari sampah plastik ternyata sudah diumumkan dari jauh-jauh hari.

    Melansir Euronews pada 19 Juni 2024, Kompas.com menulis Coldplay menyatakan vinyl tersebut akan menjadi album pertama di dunia yang terbuat dari sampah plastik.

    Vinyl yang terbuat dari sampah plastik diklaim dapat mereduksi emisi karbon sampai 85 persen dalam proses produksinya dibandingkan vinyl pada umumnya.

    Selain itu, daur ulang sampah plastik untuk dijadikan vinyl dapat mencegah lebih dari 25 metrik ton bahan baku plastik.

    Slat menyampaikan, Coldplay merupakan mitra yang luar biasa bagi The Ocean Cleanup. Dia mengaku gembira bahwa sampah plastik yang berhasil mereka kumpulkan dapat menjadi material rilisan fisik dari band ternama.

    Baca: Sneaker vokalis Coldplay dibuat dari 70 sepatu tua

    Dalam wawancara itu Slat menegaskan, pihaknya selalu memastikan plastik yang dikumpulkan tidak akan pernah kembali lagi ke laut adalah hal yang penting bagi misi The Ocean Cleanup.

    “Dan saya sangat antusias untuk melihat bagaimana kami akan terus berinovasi dengan Coldplay dan mitra kami lainnya untuk membersihkan lautan dari plastik bersama-sama,” tutur Slat.

    Dikutip dari Billboard, Jumat (4/10/2024), album “Moon Music” berisikan 20 lagu pilihan (termasuk pertunjukan langsung) dengan tajuk utama “feelslikeimfallinginlove”.

    Tidak sendiri, Coldplay juga berkolaborasi dengan musisi lainnya untuk beberapa judul lagu, salah satunya “We Pray” bersama Little Simz, Burna Boy, Elyanna, dan TINI.

  • Dua Aktivis Lingkungan Just Stop Oil Dihukum Penjara Karena Siram Lukisan Van Gogh dengan Sup

    Dua Aktivis Lingkungan Just Stop Oil Dihukum Penjara Karena Siram Lukisan Van Gogh dengan Sup

    7cloud.asia – Dua aktivis Just Stop Oil (organisasi lingkungan yang mengampanyekan penghentian bahan bakar minyak di Inggris), pada jumat (4/10/2024) dijatuhi hukuman penjara karena menyerang lukisan terkenal di Galeri Nasional London pada tahun 2022.

    Aktivis Just Stop Oil, Phoebe Plummer, 23, dan Anna Holland, 22, masing-masing dijatuhi hukuman selama dua tahun dan 20 bulan, karena menuangkan sup ke atas lukisan Bunga Matahari karya pelukis terkenal, Vincent van Gogh.

    Meskipun lukisan yang dilindungi kaca itu tidak rusak, aksi dua aktvis Just Stop Oil ini merusak bingkai antik Italia abad ke-17.

    “Bingkai foto itu dengan tepat digambarkan oleh jaksa di persidangan sebagai sebuah karya seni tersendiri. Dan sayangnya pelanggaran tersebut rusak secara permanen karena tindakan bodoh dan kriminal Anda,” kata Hakim Christopher Hehir saat menjatuhkan hukuman atas aksi aktivis Just Stop Oil ini.

    Atas hukuman yang diterimanya, Plummer mewakili dirinya sendiri, mengatakan pada sidang: “Pilihan saya hari ini adalah menerima hukuman apa pun yang saya terima dengan senyuman. Bukan hanya saya sendiri yang dijatuhi hukuman hari ini, atau rekan-rekan terdakwa saya, namun ini hukuman pada landasan demokrasi”

    Baca: WALHI sebut 1.131 orang dikriminalisasi karena perjuangkan lingkungan

    Menanggapi vonis ini, Just Stop Oil juga bereaksi keras.

    “Ketika banjir menyebabkan kesengsaraan di seluruh Eropa, Phoebe dan Anna menghadapi hukuman gabungan 3 tahun 11 bulan di balik jeruji besi karena menyiramkan sup ke kaca yang menutupi lukisan dan berjalan di jalan selama 20 menit,” tulis Just Stop Oil dalam petisi online yang diluncurkan setelah hukuman.

    “Ratusan lainnya menghadapi tuduhan serupa – dan hukuman penjara. Kecuali jika sistem hukum mulai melindungi kita dari industri minyak dan berhenti memenjarakan orang-orang biasa yang melakukan aksi non-kekerasan, maka ketidakadilan akan terulang kembali. Lagi dan lagi.”

    Satu jam setelah vonis dijatuhkan, tiga pendukung Just Stop Oil kembali menuangkan sup tomat ke atas dua lukisan Bunga Matahari karya van Gogh – salah satunya adalah karya seni yang menjadi target Plummer dan Holland dua tahun sebelumnya.

    Kali ini, kedua lukisan itu juga tidak rusak. Ketiga aktivis tersebut ditangkap. Mereka mengaku tidak bersalah atas kerugian pidana di Pengadilan Westminster Magistrates dan kemudian diberikan jaminan.

    Ludi Simpson, 71 tahun, yang merupakan bagian dari ketiganya, mengatakan: “Kami akan bertanggung jawab atas tindakan kami hari ini, dan kami akan menghadapi kekuatan hukum penuh. Kapan para eksekutif sektor bahan bakar fosil dan politisi yang mereka beli akan dimintai pertanggungjawaban atas kerugian kriminal yang mereka timbulkan pada setiap makhluk hidup?”

    Baca: Permen LHK Nomor 10/2024 lindungi pejuang lingkungan dari gugatan perdata dan pidana

    Phil Green, yang juga ikut serta dalam aksi pada Jumat (4/10/202) mengatakan kepada pengunjung galeri: “Generasi mendatang akan menganggap para tahanan hati nurani ini berada di pihak yang benar dalam sejarah.”

    Vonis terhadap Phoebe dan Anna ini menjadikan jumlah total aktivis Just Stop Oil yang dipenjara menjadi 26 orang, dan beberapa di antaranya menghadapi hukuman tertinggi karena protes tanpa kekerasan.

    Pada bulan Mei, Plummer bersama dengan dua aktivis Just Stop Oil lainnya divonis bersalah atas “intervensi terhadap infrastruktur utama nasional” setelah mengambil bagian dalam protes lambat di London.

    Hukuman tersebut merupakan hukuman pertama berdasarkan pasal 7 Undang-Undang Ketertiban Umum 2023 yang baru dan kontroversial, yang melarang tindakan apa pun yang mencegah pelabuhan, bandara, kereta api atau jalan raya “untuk digunakan atau dioperasikan sampai batas tertentu.”

    Para pengunjuk rasa menyerukan pemerintah Inggris untuk melarang izin baru untuk eksploitasi minyak dan gas di negara tersebut.

    Pada bulan Juli, lima pendukung kampanye iklim kelompok tersebut dijatuhi hukuman 21 tahun penjara karena berkonspirasi menyebabkan kemacetan di M25 London, jalan raya tersibuk di Inggris, selama empat hari pada bulan November 2022.

    Baca: Perjuangkan kelestarian lingkungannya, ketua adat ini justru dikriminalisasi

     

    Ini adalah hukuman terlama yang pernah dijatuhkan bagi mereka. protes damai di Inggris. Saat menjatuhkan hukuman kepada para terdakwa, Hakim Hehir mengatakan para aktivis tersebut “melewati batas dari aktivis yang peduli menjadi fanatik.”

    Komisaris Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk menggambarkan hukuman tersebut “sangat meresahkan.”

    Sementara itu, lebih dari 1.200 seniman, atlet, dan akademisi, termasuk musisi Chris Martin dan Annie Lennox, serta penulis Philip Pullman, mengutuk kalimat “ketidakadilan” dalam surat terbuka kepada Jaksa Agung Inggris Richard Hermer.

    Para penandatangan berpendapat bahwa para pengunjuk rasa tanpa kekerasan “memenuhi layanan yang diperlukan” dengan “memperingatkan negara akan risiko besar yang kita semua hadapi.”

    Dalam sebuah opini yang diterbitkan oleh The Guardian pada bulan Juli, aktivis Chris Packham dan Dale Vince menggambarkan hukuman baru-baru ini sebagai “kegilaan total”.

    Mereka mengatakan bahwa “sebuah aib dan noda bagi negara kita bahwa pengadilan kita telah dikooptasi untuk melakukan hal tersebut. “Pekerjaan kotor industri bahan bakar fosil.”

    Sumber: earth.org

  • Taktik Disrutif Menjadi Cara Aktivis untuk Mendorong Urgensi Isu Lingkungan

    Taktik Disrutif Menjadi Cara Aktivis untuk Mendorong Urgensi Isu Lingkungan

    7cloud.asia – Satu jam setelah dua aktivis Just Stop Oil dijatuhi vonis penjara oleh pengadilan Westminster Magistrates, London, pada Jumat (4/10/2024) tiga pendukung Just Stop Oil melakukan aksi serupa.

    Mereka menuangkan sup tomat ke atas dua lukisan Bunga Matahari karya van Gogh – salah satunya adalah karya seni yang menjadi target Phoebe Plummer dan Anna Holland dua tahun sebelumnya.

    Dilansir earth.org, kali ini, kedua lukisan karya Van Gogh itu juga tidak rusak. Namun, seperti dua rekan mereka sebelumnya, ketiga aktivis Just Stop Oil tersebut juga ditangkap.

    Mereka mengaku tidak bersalah atas kerugian pidana di Pengadilan Westminster Magistrates, London dan kemudian diberikan jaminan.

    Ludi Simpson, 71 tahun, yang merupakan bagian dari ketiganya menegaskan dia akan bertanggung jawab atas tindakannya ini, dan kami akan menghadapi kekuatan hukum penuh.

    Baca: Terdamparnya puluhan ikan paus hiu pendek bisa jadi pertanda kerusakan ekosistem 

    ”Kapan para eksekutif sektor bahan bakar fosil dan politisi yang mereka beli akan dimintai pertanggungjawaban atas kerugian kriminal yang mereka timbulkan pada setiap makhluk hidup?”ujarnya.

    Phil Green, yang juga ikut serta dalam aksi pada Jumat (4/10/202) mengatakan kepada pengunjung galeri: “Generasi mendatang akan menganggap para tahanan hati nurani ini berada di pihak yang benar dalam sejarah.”

    Taktik disrutif atau mengganggu sering digunakan para aktivis lingkungan di sejumlah negara di dunia.

    Meningkatnya taktik-taktik disruptif atau mengganggu dalam lingkup aktivisme iklim telah berperan penting dalam memperkuat urgensi isu-isu lingkungan hidup agar mendapat perhatian publik,

    Dengan taktik ini, para aktivis lingkungan menggunakan metode-metode inovatif untuk menuntut tindakan segera guna mengatasi krisis iklim yang memburuk dengan cepat.

     

    Baca: ini yang terjadi jika pemanasan global mencapai 2°C

    Kelompok-kelompok seperti Just Stop Oil di Inggris dan Letzte Generation (“Generasi Terakhir”) di Jerman mengandalkan blokade, aksi duduk, penghalangan jalan.

    Penodaan karya seni juga dilakukan untuk mengusik status quo dan mendorong perubahan iklim menjadi sorotan publik.

    Namun, tanggapan masyarakat terhadap tindakan-tindakan yang mengganggu ini masih berbeda-beda, ada yang memuji para aktivis atas keberanian dan komitmen mereka terhadap gerakan lingkungan.

    Di sisi lain, banyak anggota masyarakat yang mengkritik tindakan-tindakan yang mengganggu tersebut meski tujuannya untuk kelestarian lingkungan.

    Menghadapi kritik ini, sejumlah organisasi lingkungan mengubah cara yang mereka lakukan. Extinction Rebellion salah satunya. Tahun lalu organisasi lingkungan mengumumkan bahwa mereka akan “sementara” menjauh dari taktik yang mengganggu.

    Baca: Pemanasan global membuat cuaca makin sulit diprediksi

    Extinction Rebellion adalah sebuah organisasi lingkungan yang didirikan pada tahun 2018 dan terkenal di seluruh dunia karena penggunaan pembangkangan sipil tanpa kekerasan untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah lingkungan.

    Isu lingkungan yang diperjuangkan antara lain meliputi hilangnya keanekaragaman hayati dan keruntuhan ekologi.

    “Menjelang tahun baru, kami membuat resolusi kontroversial untuk sementara waktu mengalihkan gangguan publik sebagai taktik utama,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

    Dalam pernyataan itu, Extinction Rebellion menegaskan, apa yang paling dibutuhkan saat ini adalah menghentikan penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakseimbangan, untuk mewujudkan transisi menuju masyarakat adil yang bekerja sama untuk mengakhiri era bahan bakar fosil.

    ”Politisi kita, yang kecanduan keserakahan dan terlalu mementingkan keuntungan, tidak akan melakukan hal ini tanpa tekanan.” tandasnya.

    Sumber:earth.org

  • AS Kaitkan Nikel Indonesia dengan Kerja Paksa dan Kerusakan Lingkungan

    AS Kaitkan Nikel Indonesia dengan Kerja Paksa dan Kerusakan Lingkungan

    7cloud.asia – Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) memasukkan nikel Indonesia ke dalam daftar komoditas yang dipercaya melibatkan pekerja paksa dan/atau pekerja anak (TVPRA).

    Daftar tersebut dirilis 5 September 2024 dan diatur dalam Trafficking Victims Protection Reauthorization Act dan biasa disebut daftar TVPRA.

    Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat mengutip sejumlah laporan, bahwa fasilitas pengolahan nikel di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, yang mayoritasnya dimiliki perusahaan China, mempekerjakan warga negara China sebagai pekerja paksa.

    Dilansir VOA Indonesia, laporan tersebut menulis “para pekerja itu direkrut lewat penipuan, digaji lebih rendah dari kontrak, kerja lebih panjang, serta menerima kekerasan fisik dan verbal”.

    Pengamat menilai daftar ini menjadi pukulan besar, di saat Indonesia ingin menjual nikelnya ke pasar Amerika.

     

    Baca: Hilirisasi nikel akibatkan rating emisi Indonesia turun

    “Istilah sastranya, ibarat surat merah,” pungkas Cullen Hendrix, dari Peterson Institute for International Economics (PIIE) ketika dihubungi VOA.

    “Dengan penetapan ini, setiap diskusi mengenai perjanjian perdagangan bebas khusus mineral yang penting dengan Indonesia akan dimulai dengan latar belakang di mana pemerintah AS, khususnya Departemen Tenaga Kerja, secara khusus menuduh bahwa sektor nikel indonesia diliputi oleh kerja paksa,” tambahnya.

    Indonesia Ingin Jual Nikel ke Amerika Serikat
    Indonesia tengah berupaya menjalin kerja sama perdagangan bebas terbatas, atau limited free trade agreement, dengan Amerika Serikat, utamanya untuk nikel.

    Indonesia ingin nikel dari tanah air masuk pasar mobil listrik Amerika Serikat yang tengah mendapat insentif pajak dari UU Pengurangan Inflasi.

    Namun laporan demi laporan menguak, industri nikel indonesia dibayangi pengaruh China, masalah tenaga kerja, dan kerusakan lingkungan.

    Hal ini membuat perjanjian perdagangan nikel Indonesia mendapatkan perlawanan di Senat Amerika Serikat.

    Baca: Pertambangan nikel pinggirkan nelayan tradisional di Sulawesi Tenggara

    Laporan-laporan itu, menurut pengamat energi Energy Shift Institute Putra Adhiguna, masih direspons terbatas oleh pemerintah Indonesia. Namun masuknya nikel indonesia dalam daftar TVPRA, dianggap pengamat sebagai tekanan baru.

    “Harapannya dengan masuk ke list ini, kita sudah sampai ke pembicaraan antara government to government. Sehingga ada titik eskalasi yang lebih tinggi,” ujarnya kepada VOA.

    Nasib Perjanjian Dagang Bebas Terbatas
    Meski begitu, kedua analis sepakat bahwa perjanjian dagang bebas terbatas Amerika Serikat-Indonesia belum sirna. Apalagi Indonesia merupakan produsen utama bijih nikel dunia.

    “Realistis saja, saat ini indonesia telah menambang sekitar separuh dari nikel dunia dan Badan Energi Internasional memperkirakan bahwa pangsa tersebut akan meningkat menjadi sekitar 62 persen pada tahun 2030,” tambah Cullen Hendrix.

    Daftar ini, menurut Putra Adhiguna, jadi kesempatan Indonesia membuktikan pembenahan dalam industri nikel tanah air, tak hanya bagi pekerja warga negara China, tapi juga pekerja Indonesia sendiri.

    “Ketika dari pihak Amerika Serikat mereka willing untuk bicara long term relation, apa hal yang harus diperbaiki dengan jangka waktu seperti apa. Dan dari pihak Indonesia harus menunjukkan dengan bukti konkret. Ini yang sudah kami lakukan selama satu tahun terakhir,” tutupnya.

  • Populasi Penduduk Dunia Menurun, Apa Dampaknya pada Lingkungan

    Populasi Penduduk Dunia Menurun, Apa Dampaknya pada Lingkungan

    7cloud.asia – Pertumbuhan populasi manusia sedang melambat. Sebuah fase yang sebelumnya dianggap mustahil. Jumlah laju pertumbuhan populasi penduduk dunia kemungkinan dapat memuncak lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan—sebanyak 10 miliar jiwa pada 2060-an—lalu mulai menurun.

    Buruk bagi perekonomian—baik untuk lingkungan? Lebih sedikit manusia berarti berkah bagi alam raya—ya, kan? Sayangnya tidak sesederhana itu.

    Tengoklah data jumlah konsumsi energi per kapita yang kita gunakan meninggi pada penduduk 35 dan 55 tahun. Untuk usia seterusnya, angka ini menurun, tapi akan naik kembali pada penduduk berusia 70 dan seterusnya.

    Kenaikan terjadi karena penduduk berusia tua cenderung berada di dalam ruangan lebih lama dan hidup sendirian di rumah yang besar.

    Pertumbuhan penduduk lansia yang luar biasa pada abad ini dapat menahan laju pengurangan konsumsi energi akibat penurunan populasi.

    Kemudian ada disparitas besar dalam penggunaan sumber daya. Jika kamu tinggal di Amerika Serikat (AS) ataupun Australia, jejak karbonmu hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan Cina sebagai negara pengemisi terbanyak.

    Baca: Populasi dunia dekati angka 10 miliar

    Negara maju mempunyai angka konsumsi energi yang lebih besar. Jadi, saat negara-negara semakin kaya dan sehat, meski dengan lebih sedikit anak, kemungkinan besar populasi global akan memiliki jejak emisi lebih tinggi.

    Kecuali, tentu saja, kita mencoba menumbuhkan ekonomi yang lebih rendah emisi, berikut dampak lingkungan lainnya, sebagaimana banyak ditempuh negara-negara saat ini. Namun, kemajuan upaya ini masih sangat lamban.

    Kemungkinan kita akan melihat lebih banyak kebijakan migrasi yang lebih terbuka untuk menggenjot jumlah angkatan kerja di suatu negara. Ini sudah dimulai—jumlah migrasi sudah melampaui—angka yang diproyeksikan pada 2050.

    Ketika orang-orang bermigrasi ke negara yang lebih maju, ekonomi negara tersebut akan menguntungkan mereka dan juga negara tujuannya.

    Namun, sebagai hasilnya, emisi per kapita akan naik dan dampak lingkungan memburuk, karena kenaikan pendapatan berbanding lurus dengan penambahan emisi.

    Selain itu, ada kekacauan yang mengintai akibat perubahan iklim. Seiring dengan pemanasan global, migrasi paksa—saat orang harus meninggalkan rumah untuk melarikan diri dari kekeringan, perang, atau bencana terkait iklim lainnya—diproyeksikan akan melonjak.

    Baca: Mungkinkah dunia mencapai emisi nol pada 2050?

    Angkanya diperkirakan mencapai 216 juta orang pada seperempat abad atau 25 tahun mendatang. Migrasi paksa mungkin mengubah pola emisi, tergantung pada tempat orang menemukan perlindungan.

    Selain faktor-faktor ini, populasi global yang menurun mungkin bisa mengurangi konsumsi secara keseluruhan dan mengurangi tekanan terhadap lingkungan.

    Para ahli lingkungan yang khawatir tentang overpopulasi telah lama berharap agar populasi global menurun. Keinginan mereka mungkin akan segera terpenuhi.

    Bukan melalui kebijakan pengendalian kelahiran yang dipaksakan, tetapi sebagian besar melalui pilihan perempuan terdidik dan lebih kaya yang memilih untuk memiliki keluarga kecil.

    Masih menjadi pertanyaan terbuka apakah populasi yang menurun akan mengurangi tekanan pada lingkungan. Hal tersebut belum bisa terjawab kecuali kita mengurangi emisi dan mengubah pola konsumsi di negara-negara maju.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Andrew Taylor (Associate Professor in Demography, Northern Institute, Charles Darwin University) dan Supriya Mathew (Associate professor, Charles Darwin University)