Tag: ramah lingkungan

  • Survei: Wisatawan Indonesia Makin Minati Akomodasi yang Ramah Lingkungan

    Survei: Wisatawan Indonesia Makin Minati Akomodasi yang Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Wisatawan yang berasal dan ​​​datang ke Indonesia lebih menyukai akomodasi yang ramah lingkungan.

    Demikian hasil survei pengelola aplikasi manajemen hotel SiteMinder bersama Kantar yang melibatkan sekitar 12 ribu wisatawan dari 14 negara pada 2024.

    Menurut laporan survei bertajuk “SiteMinder’s Changing Traveller Report 2025”, sebanyak 95 persen dari 878 wisatawan asal Indonesia yang disurvei bersedia membayar lebih untuk akomodasi ramah lingkungan saat berlibur.​​​

    Country Manager Indonesia SiteMinder, Rio Ricardo mengatakan bahwa wisatawan Indonesia semakin memilih akomodasi yang ramah lingkungan dan merencanakan anggaran yang lebih besar.

    “Hal ini mencerminkan pergeseran ke arah perjalanan yang lebih bijaksana dan eksploratif,” katanya dalam acara pertemuan media di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2024)

    Baca: Ekowisata di Indonesia: melindungi atau justru mengancam satwa liar?

    Di antara wisatawan Indonesia, menurut hasil survei ada 36 persen yang bersedia membayar hingga 10 persen lebih mahal dan 35 persen yang bersedia membayar hingga 25 persen lebih mahal untuk akomodasi ramah lingkungan pada 2025.

    Selain itu, ada 18 persen yang bersedia membayar hingga 50 persen lebih mahal dan tujuh persen yang bersedia membayar lebih mahal dari itu untuk akomodasi ramah lingkungan pada 2025.

    Hasil survei juga menunjukkan bahwa 96 persen wisatawan Indonesia berencana untuk mempertahankan atau meningkatkan anggaran akomodasi mereka saat berwisata pada tahun 2025.

    Persentase tersebut mencakup sebagian besar Generasi Z (kelahiran 1997 sampai 2012) dan Generasi Milenial (kelahiran 1981 sampai 1996).

    Berdasarkan hasil survei, sebanyak 93 persen wisatawan Indonesia melakukan perjalanan untuk menghadiri acara, termasuk konser dan festival musik (46 persen), reuni dan perayaan keluarga (41 persen), dan acara olahraga (32 persen).

    Baca: Pulau Pahawang kembangkan ekowisata berkelanjutan

    Persentase wisatawan yang berencana tetap bekerja selama berlibur menurut hasil survei tahun 2024 mencapai 66 persen, meningkat hingga 13 persen dari hasil survei tahun sebelumnya.

    Peningkatan itu juga tercermin dari banyaknya wisatawan yang berniat menghabiskan waktu di hotel atau penginapan, yang mencapai 78 persen.

    Jika dirinci, sebanyak 44 persen wisatawan berniat menghabiskan sebagian besar waktu mereka di hotel dan 34 persen lainnya berencana menghabiskan cukup banyak waktu di hotel.

    Sebanyak 98 persen wisatawan Indonesia menurut survei terbuka dengan penggunaan kecerdasan buatan dalam merencanakan, memesan, dan meningkatkan pengalaman menginap di hotel.

    Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan persentase wisatawan dengan preferensi serupa dari negara seperti Kanada dan Australia (masing-masing 62 persen) serta Jerman, Prancis, dan Inggris (masing-masing 63 persen).

    “Insight berbasis data, seperti yang disediakan oleh riset ini, menjadi semakin penting bagi para pelaku bisnis perhotelan seiring dengan perubahan kebiasaan wisatawan dari waktu ke waktu,” kata Rio.

    “Dengan demikian, mereka dapat mengantisipasi kebutuhan para tamu sekaligus menawarkan pengalaman menginap yang senantiasa mereka cari,” katanya.

  • Desain Biofilik: Salah Satu Jalan Menuju Kota Rendah Emisi

    Desain Biofilik: Salah Satu Jalan Menuju Kota Rendah Emisi

    7cloud.asia – Desain biofilik dan berkelanjutan yang canggih belakangan makin mendapat perhatian apalagi saat dunia gencar mengampanyekan kebijakan ramah lingkungan dan rendah emisi.

    Para arsitek dan pengembang makin menyadari peran desain biofilik yang menentukan dalam mencapai tujuan net-zero carbon atau rendah emisi.

    Pendekatan desain biofilik lebih dari sekadar pengurangan emisi, lebih dari itu juga meningkatkan kualitas hidup sebuah kota dengan penghuninya.

    Ini karena desain biofilik menghubungkan manusia sebagai penghuni kota/bangunan dengan alam, sekaligus mengoptimalkan cahaya dan meningkatkan kualitas udara sekaligus mengurangi penggunaan energi.

    Desain biofilik yang berkelanjutan dan canggih dapat mengurangi konsumsi material berdampak tinggi seperti kaca dengan emisivitas rendah (Low-E), isolasi berkinerja tinggi, dan sistem ramah lingkungan.

    Fitur-fitur ini menjadikannya penting untuk proyek-proyek sadar iklim. Berinvestasi dalam strategi ramah lingkungan ini akan mendorong masa depan yang lebih harmonis bagi manusia dan planet ini.

    Baca: Desain Biofilik menghadirkan alam ke dalam bangunan

    Banyak pakar menyebut desain biofilik merupakan tahap tingkat lanjut dalam arsitektur modern.

    Desain biofilik berkembang jauh melampaui penambahan penghijauan pada lanskap perkotaan. Arsitek masa kini menciptakan ekosistem di dalam bangunan untuk membantu menumbuhkan manfaat penting alam di kawasan perkotaan yang padat.

    Para ahli percaya peralihan ke arsitektur biofilik dapat mendorong keberlanjutan dengan memasukkan proses alami ke dalam ruang sehari-hari, membantu mengatasi tantangan perkotaan seperti kelangkaan sumber daya dan terbatasnya akses ke kawasan hijau.

    Melalui fitur-fitur inovatif seperti dinding hidup yang sarat tanaman, taman di puncak gedung, ataupun koridor hijau, desain biofilik menghubungkan kembali manusia dengan alam.

    Hal ini menciptakan ekosistem perkotaan yang mendukung keanekaragaman hayati, mengelola air hujan, dan meningkatkan kualitas udara.

    Baca: Beda desain biofilik dan desain ramah lingkungan

    Pendekatan ini memposisikan bangunan sebagai kontributor aktif terhadap keberlanjutan perkotaan, membawa sistem alam ke dalam ruang yang sering kali terlewatkan.

    Sinergi antara biomimikri dan biofilia mendorong transformasi ini seiring dengan semakin banyaknya arsitek yang mengandalkan alam sebagai inspirasi.

    Dengan meniru proses seperti teknik pendinginan mandiri pada sarang rayap atau penangkapan energi yang efisien pada dedaunan, para arsitek dapat membuat bangunan yang mengoptimalkan penggunaan listrik dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi penghuninya.

    Desain biofilik menawarkan manfaat terukur, mulai dari peningkatan kenyamanan termal dan produktivitas hingga peningkatan kesejahteraan emosional.

    Pada ujungnya, desain biofilik akan meningkatkan tampilan ruang kota dan membangun lingkungan berkelanjutan yang mendukung planet ini dan penghuninya.

  • Kiat Memadukan Desain Biofilik dengan Material Ramah Lingkungan

    Kiat Memadukan Desain Biofilik dengan Material Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Desain biofilik dan berkelanjutan yang canggih belakangan makin mendapat perhatian apalagi saat dunia gencar mengampanyekan kebijakan ramah lingkungan dan rendah emisi.

    Para arsitek dan pengembang makin menyadari peran desain biofilik yang menentukan dalam mencapai tujuan net-zero carbon atau bangunan rendah emisi.

    Perlu diingat, pendekatan desain biofilik lebih dari sekadar pengurangan emisi, lebih dari itu desain biofilik juga akan meningkatkan kualitas hidup sebuah kota dengan penghuninya.

    Memadukan kaca rendah emisi dan material efisien lainnya ke dalam desain biofilik dan berkelanjutan dapat mengoptimalkan konsumsi energi dan menurunkan secara signifikan dampak bangunan pada lingkungan.

    Pemilihan sumber daya dan elemen desain yang cermat menciptakan ruang yang memaksimalkan cahaya alami, mengurangi kebutuhan energi, sekaligus menumbuhkan hubungan mendalam dengan lingkungan.

    Baca: Desain Biofilik membuka jalan menuju kota rendah emisi

    Para perancang dapat mengintegrasikan kaca rendah emisi dengan material ramah lingkungan lainnya ke dalam desain biofilik melalui langkah-langkah praktis berikut:

    Tentukan tujuan energi dan lingkungan:
    Tetapkan target efisiensi dan keberlanjutan yang jelas untuk memandu pilihan material dan desain berdasarkan kebutuhan proyek.

    Analisis pertimbangan iklim:
    Untuk mengoptimalkan retensi atau pantulan panas, pilih jenis kaca rendah emisi yang sesuai berdasarkan kondisi iklim setempat.

    Misalnya, kaca lembaran menutupi lebih dari 50 persen luas permukaan eksterior gedung pencakar langit modern. Namun, ia menghantarkan panas dengan cepat dan menghasilkan konsumsi yang lebih tinggi.

    Berkonsultasi dengan pakar keberlanjutan:
    Libatkan konsultan untuk melakukan penilaian siklus hidup, untuk memastikan material memiliki kandungan karbon yang rendah dan EPD yang tinggi.

    Baca: Mengenal lebih dekat konsep desain biofilik

    Mengarahkan bangunan untuk mendapatkan manfaat sinar matahari:
    Rencanakan penempatan jendela dan orientasi bangunan untuk memanfaatkan pemanasan matahari pasif di bulan-bulan dingin dan menghindari perolehan panas berlebih di bulan-bulan hangat.

    Menggabungkan sistem peneduh dinamis:
    Gunakan tirai atau kisi-kisi otomatis untuk menyesuaikan peneduh dan memungkinkan cahaya alami tanpa panas berlebihan.

    Tambahkan elemen biofilik dengan cermat:
    Padukan material alami, dinding hidup, dan atap hijau untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan dan membina hubungan yang lebih kuat dengan alam.

    Targetkan sertifikasi bangunan ramah lingkungan:
    Targetkan sertifikasi seperti LEED atau WELL, yang memberikan kerangka kerja untuk menggabungkan praktik berkelanjutan dan material yang efisien di seluruh proses desain.

    Langkah-langkah di atas akan dapat menciptakan struktur yang memenuhi standar kinerja dan memperkaya hubungan penghuni dengan lingkungan alam.

    Menjelajahi strategi canggih untuk menggabungkan kaca rendah emisi dan material ramah lingkungan memungkinkan para arsitek untuk mendorong batas-batas dari apa yang mungkin dilakukan dalam desain lingkungan.

    Dengan mengadopsi teknik-teknik ini, dimungkinkan untuk menciptakan kawasan yang hemat energi dan sangat terhubung dengan alam.

  • Lima Budaya Instan yang Sebaiknya Dihindari Demi Lingkungan yang Lestari

    Lima Budaya Instan yang Sebaiknya Dihindari Demi Lingkungan yang Lestari

    7cloud.asia – Dalam budaya instan seperti saat ini, kebiasaan atau penggunaan barang sekali pakai lalu membuangnya menjadi sampah telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Sudah saatnya budaya serba instan sekali pakai ini ditinggalkan dan mengubah cara kita berinteraksi dengan barang dan sumber daya yang tidak ramah lingkungan ini dan beralih ke kebiasaan yang lebih berkelanjutan.

    Sebelum adanya pemesanan instan, pengiriman semalam, dan produksi massal, orang menciptakan dan menggunakan pakaian dan barang lainnya yang bertahan selama bertahun-tahun.

    Saat ini, Anda dapat menemukan semua yang Anda butuhkan dalam satu klik atau ketuk pada layar. Hal ini mungkin membuat hidup lebih mudah, namun tidak ada keraguan bahwa hal ini jauh lebih buruk bagi lingkungan.

    Budaya membuang adalah praktik barang sekali pakai. Ini juga dapat mencakup barang-barang yang berakhir di tempat pembuangan sampah setelah hanya beberapa hari atau beberapa minggu digunakan.

    Baca: Fast fashion picu masalah serius pada lingkungan

    Berikut beberapa contoh bagaimana manusia secara sadar atau tidak sengaja berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

    1. Fast fashion
    Merek fesyen besar memproduksi gaya musiman, namun perusahaan fesyen konsumen menciptakan produk baru lebih cepat. Toko atau aplikasi favorit Anda kemungkinan besar memperkenalkan pakaian baru setiap minggu.

    Ini adalah bentuk budaya membuang yang disebut fast fashion, yang menghasilkan 92 juta ton sampah setiap tahunnya dalam skala global.

    Industri fast fashion adalah konsumen air terbesar kedua dan bertanggung jawab atas sekitar 10 persen emisi karbon global – lebih besar dari gabungan seluruh penerbangan internasional dan pelayaran maritim.

    Fast fashion mendorong orang untuk membeli pakaian baru hanya dengan beberapa dolar dan membuang pakaian mereka yang sudah ketinggalan zaman.

    Penampilan yang ketinggalan zaman sering kali merupakan pakaian yang dibuat beberapa minggu atau bulan yang lalu. Kain dan produk yang berlebih berada di tempat pembuangan sampah selama beberapa dekade, menyebabkan pencemaran lingkungan.

    Baca: Menerapkan infrastruktur ramah lingkungan dalam Perencanaan Kota

    2. Metode Konstruksi 
    Ketika seseorang ingin membeli properti residensial atau komersial, praktik konstruksi yang terlibat sering kali berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global.

    Mesin-mesin berat berbahan bakar fosil beroperasi selama berbulan-bulan, sementara tim konstruksi menghasilkan limbah dalam jumlah besar dalam bentuk perancah yang dibuang, beton, dan sisa bahan bangunan.

    Tingkat limbah yang mengkhawatirkan yang dihasilkan oleh industri konstruksi telah mendorong para ahli untuk merancang metode pembangunan yang lebih berkelanjutan untuk memenuhi permintaan infrastruktur yang terus meningkat.

    Munculnya teknik konstruksi ramah lingkungan tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga meningkatkan kesehatan bagi semua orang.

    Tim konstruksi yang berpikiran maju kini menggunakan material tanpa emisi dan sistem penyaringan udara mutakhir untuk meminimalkan emisi karbon dioksida dan menjaga kualitas udara.

    Baca: Saset produk FMCG menyumbang sampah plastik terbesar

    3. Cangkir plastik
    Biji kopi adalah contoh lain dari barang sehari-hari yang berkontribusi terhadap budaya membuang. Meskipun kenyamanan telah mendorong popularitas produk-produk ini, dampak lingkungannya tidak dapat disangkal.

    Sekitar 39.000 kapsul diproduksi setiap menit secara global, dan 29.000 di antaranya berakhir di tempat pembuangan sampah.

    Kantong kopi plastik telah membanjiri saluran air kita dengan polutan, sehingga membahayakan kehidupan akuatik secara global.

    Memilih alternatif yang dapat digunakan kembali atau dibuat kompos dapat mengurangi jejak ekologis Anda secara signifikan dan berkontribusi terhadap bumi yang lebih sehat.

    Baca: Tantangan Jajan Bebas Plastik ala Greenpeace

    4. Kemasan plastik
    Kemasan six-pack yang ada di mana-mana menimbulkan ancaman besar bagi ekosistem kita, karena bahan-bahan ini sering kali berakhir di tempat pembuangan sampah setelah sekali digunakan.

    Memilih minuman yang tidak menggunakan kemasan plastik dapat membantu mengurangi kerusakan lingkungan dan mengurangi jejak karbon Anda.

    5. Tisu
    Bahkan barang-barang yang tampaknya tidak berbahaya seperti tisu, yang digunakan sehari-hari di rumah, mempunyai dampak buruk terhadap lingkungan.

    Deforestasi yang diperlukan untuk memproduksi produk-produk sekali pakai ini, ditambah dengan dekomposisi yang lambat di tempat pembuangan sampah, menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan alternatif yang lebih berkelanjutan seperti handuk tangan atau kain lap.

  • Produsen Air Minum Dalam Kemasan Terus Mendorong Penggunaan Galon Berbahan PET Daur Ulang

    Produsen Air Minum Dalam Kemasan Terus Mendorong Penggunaan Galon Berbahan PET Daur Ulang

    7cloud.asia – Produsen air minum dalam kemasan Aqua, terus berupaya memperluas penggunaan kemasan berbahan plastik jenis polyethylene terephthalate (PET) daur ulang

    Penggunaan kemasan berbahan plastik jenis PET ini akan diterapkan pada produk Aqua galon guna ulangnya melalui komitmen #BijakBerplastik.

    “Kami memakai plastik sesuai kebutuhan dan momen konsumsi produk kami. Hampir 70 persen bisnis AQUA menggunakan kemasan yang digunakan ulang sebagai komitmen untuk mengurangi sampah plastik,” kata Corporate Communications Director Aqua Arif Mujahidin dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (16/1/2025).

    Arif menuturkan hal tersebut merupakan wujud komitmen Aqua dalam menerapkan penerapan ekonomi sirkular seklaigus menjadi lebih ramah lingkungan

    Galon bening guna ulang berbahan PET itu merupakan produk inovasi Aqua yang bertujuan untuk menjawab kebutuhan dan preferensi konsumen terhadap kemasan galon yang ramah lingkungan dan lebih jernih.

    Baca: Industri air minum dalam kemasan sembunyikan krisis air global

    Dengan galon berbahan PET ini, konsumen dapat melihat produk air di dalamnya dengan jelas.

    Ia mengklaim bahwa galon guna ulang PET yang sudah diperkenalkan di Manado, Sulawesi Utara dan wilayah Jabodetabek pada 2024 lalu merupakan produk resmi Aqua yang aman, dapat melindungi kualitas kandungan mineral dan ramah lingkungan.

    Galon serupa sudah didistribusikan sejak 2019 untuk para konsumen di Bali yang memiliki daya beli lebih tinggi dan lebih sadar kelestarian lingkungan.

    “Sebagian besar kemasan galon air minum masih menggunakan konsep kemasan guna ulang, salah satunya karena kesadaran akan pentingnya mengurangi sampah kemasan plastik yang bisa mengotori lingkungan,” ujar dia.

    Pemilik agen Aqua di Denpasar, Bali, Adi, mengatakan bahwa galon guna ulang berbahan PET terlihat lebih bersih, transparan dan tidak mudah pecah.

     

    Baca: Galon air minum dalam kemasan yang aman untuk kesehatan dan lingkungan

    “Penjualan galon bening guna ulang ini pun sangat menjanjikan untuk kami para agen, karena animo masyarakat untuk membelinya sangat tinggi,” ujarnya.

    Agen lainnya, Bagus dan Adhi Wijaya dari daerah yang sama, menambahkan bahwa tampilan galon yang lebih bersih dan transparan jadi salah satu alasan konsumen tertarik membeli galon itu.

    “Kelihatannya, galon bening guna ulang yang transparan ini lebih laku di Bali karena tampilannya yang terlihat lebih bersih dan transparan ini mungkin membuat masyarakat senang untuk membelinya,” ucap dia.

    Industri air minum dalam kemasan (AMDK) menyatakan mendukung dan siap bersinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan kelestarian lingkungan serta memberi dampak perekonomian bagi masyarakat.

    Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung agenda pemerintah Indonesia, yakni Target Bersih Sampah 2025 melalui pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah sebesar 70 persen.

    Baca: Kontroversi galon air minum dalam kemasan sekali pakai

    Sebelumnya, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan industri AMDK di Indonesia sudah semakin maju dan memenuhi standar nasional serta internasional.

    Kemenperin, katanya lagi, mengapresiasi komitmen kalangan industri untuk terus berinovasi pada produk-produknya agar bisa mengedepankan tanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus memberikan manfaat kebaikan bagi masyarakat.

    “Apa yang produsen AMDK dengan menghadirkan varian kemasan baru Galon Guna Ulang PET yang ramah lingkungan serta senantiasa mengikuti pedoman Standar Nasional Indonesia ini patut dicontoh oleh pelaku industri lainnya,” katanya saat mengunjungi pabrik Aqua, di Mambal, Bali, Rabu (31/7/2024) lalu.

    Periset Ahli Madya bidang Polimer dari Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Syuhada menyatakan bahwa bahan PET aman digunakan digunakan secara berulang, selama kualitas kemasannya memenuhi standar yang berlaku, melalui proses pencucian menyeluruh dan proses sterilisasi.

    “Merupakan pilihan yang bijak bagi produsen AMDK dengan memanfaatkan Galon Guna Ulang PET sebagai varian kemasan produk mendampingi kemasan PC yang sebelumnya sudah hadir, karena bahan tersebut bisa digunakan kembali sekaligus didaur ulang,” katanya.

  • Berbagai Permasalahan dalam Transisi Energi Listrik yang Lebih Ramah Lingkungan

    Berbagai Permasalahan dalam Transisi Energi Listrik yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Istilah transisi energi ke energi yang ramah lingkungan kini makin sering disebut.

    Istilah transisi energi begitu populer di media massa, seminar, diskusi, dan perbincangan masyarakat. Transisi energi adalah usaha kita untuk beralih dari pemakaian energi fosil ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

    Sebagian besar dari kita mungkin bertanya: apa makna transisi energi ke energi yang lebih ramah lingkungan dan bagaimana melakukannya.

    Dan, tentu saja, apa untungnya transisi energi ke energi yang lebih ramah lingkungan, jika semua pihak benar-benar melakukannya.

    Tulisan Ahmad Rahma Wardhana, Peneliti dan Mahasiswa Doktoral, Universitas Gadjah Mada yang telah terbit di The Conversation ini akan menjelaskan hal terkait transisi pembangkit listrik ke energi yang lebih ramah lingkungan.

    Listrik adalah sebuah produk yang paling dicari semua orang. Lampu rumah, rice cooker dan alat dapur, lemari es, televisi, radio, AC, telepon genggam, laptop dan komputer, lift kantor, dan beberapa jenis kereta membutuhkan listrik.

    Baca: Upaya PLN wujudkan dekarbonisasi menuju net zero 2060

    Begitu pula dengan kegiatan kita sehari-hari: pendidikan, kesehatan, hiburan, usaha kecil, industri besar, semuanya menggunakan energi listrik

    Upaya transisi energi di sektor listrik yang lebih ramah lingkungan berarti bagaimana caranya mengurangi atau bahkan menghapus 54,94 persen pembangkit batu bara.

    Ada beberapa solusi yang ditawarkan, misalnya dengan co-firing. Maksudnya mengganti sebagian batu bara yang dibakar di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan pelet kayu atau bahan berbasis makhluk hidup lainnya (disebut biomassa).

    Tantangan dari solusi ini serupa dengan sawit: ada potensi penggunaan lahan yang merusak keragaman hutan, ataupun persaingan lahan antara urusan pangan dengan urusan energi.

    Sementara solusi energi terbarukan seperti air, angin, dan surya, juga menghadapi banyak persoalan.

    Energi air dinilai tidak ramah secara ekologis karena, ketika skalanya besar, pembangunan bendungannya bakal menenggelamkan beberapa ekosistem.

    Baca: Rekomendasi Koalisi Masyarakat Sipil untuk Transisi Energi Berkeadilan

    Angin dan surya diterpa persoalan pasokan yang tidak konstan (disebut intermitensi). Angin tak selalu berhembus 24 jam. Durasi sinar matahari di Indonesia hanya efektif 4-5 jam setiap harinya.

    Bahkan energi surya juga diancam oleh bayang-bayang ketergantungan impor. Pasalnya, kita tak punya industri manufaktur yang memproduksi komponen utamanya.

    Ketika industri manufaktur mencoba masuk (industri nikel dan baterai), kita tahu persis bagaimana efek lingkungannya tak diawasi dengan baik oleh otoritas Indonesia.

    Optimisme transisi energi.
    Banyak orang yang bekerja di sektor energi selama ini merasa pusing ketika mengelola kerumitan tersebut. Itu baru masalah teknis.

    Dari perspektif kebijakan pemerintah, termasuk sikap dan perilaku perusahaan energi pelat merah, daftar masalahnya tak kalah panjang.

    Namun, kita harus optimistis bahwa transisi energi itu mungkin dilakukan.

    Tantangan-tantangan tersebut seharusnya mendorong kita semua (terutama pelaku industri bahan bakar fosil!) untuk mulai peduli pada urusan transisi energi.

    Kita harus mencari solusi terbaik yang seimbang antara perspektif teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Itu memang tidak mudah, tapi mungkin.

  • Kemasan Produk Ramah Lingkungan Masih Jadi Tantangan Industri

    Kemasan Produk Ramah Lingkungan Masih Jadi Tantangan Industri

    7cloud.asia – Kemasan produk ramah lingkungan masih menjadi tantangan bagi produksi industri termasuk industri kecil dan menengah (IKM).

    Wakil Ketua Komisi VII DPR Chusnunia Chalim saat melakukan kunjungan kerja spesifik di Bandarlampung, November lalu meminta pemerintah mendorong kemasan ramah lingkungan ini.

    “Ekonomi hijau atau ekonomi berkelanjutan ini terus kita dorong akan tetapi yang masih menjadi tugas besar dan tantangan bersama mengenai kemasan produk ramah lingkungan,” ujar dia

    Ia mengatakan pengemasan produk IKM masih banyak yang menggunakan bahan belum ramah terhadap lingkungan, sehingga perlu dicari solusi melalui inovasi kemasan ramah lingkungan dengan biaya yang terjangkau.

    Tetapi memang tantangan soal kemasan ini tidak hanya menjadi tantangan industri kecil menengah akan tetapi seluruh produksi di Indonesia.

    Baca: Saset produk FMCG penyumbang terbesar sampah plastik

    “Bila bicara kemasan ramah lingkungan sebenarnya ada alternatif bahan ramah lingkungan akan tetapi ini semua masih terbentur dengan biaya,” ucap dia.

    Dia mendorong pemerintah daerah, kementerian terkait, serta pihak terkait dapat mencari solusi atas adanya tantangan tersebut.

    “Ini harus kita pikirkan bersama, untuk menjaga lingkungan, meningkatkan produksi industri kecil menengah, dan bagi keberlangsungan kehidupan generasi selanjutnya,” katanya.

    Menurut dia, meski masih terdapat tantangan dalam penggunaan kemasan ramah lingkungan bagi produksi produk IKM, sebagian besar proses produksi telah menerapkan pola ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    “Kalau produksi relatif sudah ramah lingkungan, bahkan dari pemilihan bahan baku makanannya sudah tidak mengandung gluten, dan minyak sawit lagi.

    Baca: Jakarta belum batasi kemasan saset meski jadi sumber sampah plastik

    Ini jadi bukan hanya aman bagi lingkungan tapi industri kecil menengah telah berpikir membuat produk lebih ramah untuk kesehatan juga,” ujarnya.

    Dia mengingatkan pelaku IKM agar tidak lupa menerapkan pengelolaan limbah produksi dengan tepat untuk menjaga lingkungan sekitar rumah produksi.

    “Jangan lupa pengolahan limbahnya juga, karena limbah produksi kalau tidak dikelola dengan baik akan berbahaya.

    Tapi sebenarnya kalau produksi yang bahannya dari produk pertanian ini aman karena tidak mengandung bahan kimia,

    “Akan tetapi memang ada beberapa industri kecil yang bahan mentahnya bukan dari pertanian itu yang harus diperbaiki pengelolaan limbahnya,” pungkasnya

  • Pertanian Tradisional yang Lebih Ramah Lingkungan Makin Dilirik

    Pertanian Tradisional yang Lebih Ramah Lingkungan Makin Dilirik

    7cloud.asia – Metode bercocoktanam tradisional yang ramah lingkungan mulai kembali dilirik dunia. Salah satunya dilakukan petani di negara bagian Maharashtra India, Rafik Danwade.

    Setelah bertahun-tahun tergantung pada pestisida, Danwade yang saat ini berumur 56 tahun merasakan efektifitasnya berkurang.

    Dia harus menyemprotkan lebih banyak pestisida di ladangnya seluas satu hektar di desa Jambhali, namun bahan kimia tersebut menjadi kurang efektif dalam melindungi 3.200 tanaman cabainya dari serangan hama

    Akhirnya Danwade, beralih ke praktik yang diajarkan kakeknya pada tahun 1970-an: Ia menanam 1.000 bunga marigold di perbatasan dan di baris-baris ladang secara bergantian.

    “Kadang-kadang Anda harus melihat ke masa lalu untuk menemukan solusi bagi masalah saat ini dan masa depan,” kata Danwade dilansir earth.org.

    Baca: Melawan penggurunan dengan pertanian biogeneratif

    Danwade dan petani lain di seluruh dunia mempelajari kembali kearifan kuno tentang menanam tanaman yang dikenal sebagai tanaman perangkap untuk melindungi panen mereka dari hama.

    Pelajaran harus dipelajari kembali sekarang karena perubahan iklim telah meningkatkan suhu dan kelembapan, yang menyebabkan meningkatnya serangan hama di banyak wilayah di dunia.

    Tanaman marigold menghasilkan senyawa yang dapat menekan nematoda simpul akar, sehingga dapat membunuh hama yang memasuki sistem akar atau bersentuhan dengan tanah yang mengandung senyawa bioaktif tanaman marigold.

    Bunga-bunga berwarna kuning dan oranye cerah juga mengeluarkan senyawa yang mengusir kutu daun dan lalat putih. Bagi Danwade, marigold juga berfungsi sebagai penghalang alami yang membingungkan hama yang mengincar tanaman cabainya.

    Percobaan yang dilakukan antara tahun 1990 dan 1993 di India menemukan bahwa marigold Afrika juga efektif mengendalikan hama ulat kapas pada tomat.

    Metode ramah lingkungan ini sangat mengurangi kebutuhan penggunaan pestisida pada saat beberapa wilayah di India dan dunia melaporkan peningkatan serangan hama.

    Baca: Mengenal pertanian vertikal dan manfaatnya untuk lingkungan

    Metode ini jauh lebih menyehatkan bagi petani yang bekerja di ladang, orang yang mengonsumsi hasil panen, dan kualitas tanah karena bebas dari zat kimia

    Pemanasan global dapat memperluas jangkauan geografis hama, meningkatkan jumlah generasi, dan memudahkan spesies serangga invasif bertahan hidup di musim dingin.

    Hama telah menghancurkan 20 hingga 40 persen produksi tanaman di seluruh dunia setiap tahun. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, serangan serangga menyebabkan kerugian sebesar 70 miliar dolar setiap tahunnya.

    Sementara penyakit tanaman menyebabkan kerugian yang sangat besar sebesar 220 miliar dolar setahun.

    Tanaman perangkap dapat menurunkan kerugian ini sekaligus mengurangi kebutuhan penggunaan pestisida kimia berlebihan, yang selain membahayakan kesehatan, juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.

  • IAI Jakarta Rekomendasikan 8 Langkah Cegah Banjir Besar Kembali Terulang di Jabodetabek

    IAI Jakarta Rekomendasikan 8 Langkah Cegah Banjir Besar Kembali Terulang di Jabodetabek

    7cloud.asia – Banjir besar yang melanda wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sejak Senin (3/3/2025) telah menyebabkan dampak ekonomi yang signifikan.

    Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta memperkirakan total kerugian akibat banjir selama 3 hari ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp5 triliun.

    Tak hanya merusak bangunan saja tetapi juga Ribuan toko ritel tutup, tempat usaha meliburkan pekerja, akses jalan macet, dan aktivitas bisnis lumpuh dan membahayakan nyawa warga setempat.

    Menurut Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, fenomena banjir Jabodetabek bukan sekadar bencana alam tetapi juga akibat dari permasalahan tata kota dan perilaku tak ramah lingkungan yang sudah lama terjadi dan belum terselesaikan dengan baik.

    Saat ini, kondisi lingkungan di hulu maupun di hilir telah mengalami kerusakan yang signifikan. Kawasan hulu yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air semakin berkurang akibat dari alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

    Baca: Banjir Jabodetabek jadi bukti nyata ancaman krisis iklim

    Sementara di bagian hilir, khususnya Jakarta, Bekasi dan Tangerang semakin padat oleh bangunan sehingga mengurangi daerah resapan air dan memperparah dampak banjir.

    Karena itu dibutuhkan langkah serius untuk mencegah banjir kembali terulang di masa yang akan datang.

    Ketua IAI Jakarta, Ar. Teguh Aryanto, mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, maupun pemerintah pusat untuk saling membantu menangani banjir Jabodetabek.

    Menurutnya, tanpa upaya menyeluruh dan berkelanjutan, banjir akan tetap terjadi di Jabodetabek setiap tahunnya.

    “Kami percaya bahwa dengan kolaborasi yang erat dan keseriusan dalam implementasi solusi, masalah banjir dapat diatasi secara lebih efektif demi masa depan kota yang lebih baik dan berkelanjutan,” katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (12/3/2025).

    Baca: Ribuan rumah di Jabodetabek terdampak banjir

    IAI Jakarta merekomendasikan delapan hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan banjir di Jabodetabek, yaitu:

    1. Perlindungan Daerah Hulu
    Daerah hulu harus dijaga sebagai kawasan resapan air yang efektif. Penghijauan kembali, penghentian alih fungsi lahan yang tidak sesuai, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan harus menjadi prioritas.

    2. Normalisasi Sungai dari Hulu hingga Hilir
    Penanganan sungai harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya di Jakarta tetapi juga dari sumbernya di hulu hingga ke hilir. Upaya pengerukan, pelebaran, dan perbaikan sistem drainase perlu segera dilaksanakan.

    3. Perbaikan Tata Kota
    Kesalahan dalam perencanaan tata kota yang menyebabkan penyempitan aliran air dan berkurangnya area resapan harus segera dibenahi. Penegakan aturan pembangunan harus dilakukan secara tegas untuk mencegah pelanggaran lebih lanjut.

    4. Pembangunan Waduk dan Taman Tampung Air
    Untuk mengurangi dampak banjir, perlu diperbanyak waduk dan taman yang mampu menampung air hujan dan mengurangi aliran air permukaan.

    Baca: Tren bencana banjir di Indonesia makin mengkhawatirkan

    5. Penambahan Area Resapan Air
    Pembuatan sumur resapan, penggunaan material perkerasan yang lebih ramah lingkungan, serta penerapan konsep kota hijau perlu diperbanyak agar air dapat terserap ke dalam tanah dengan optimal.

    6. Pola Hidup Vertikal dan Desain Rumah Panggung
    Kajian dan implementasi pola hidup vertikal di Jakarta harus mulai dilakukan secara serius sebagai bagian dari solusi jangka panjang.

    Selain itu, desain rumah panggung yang lebih adaptif terhadap banjir perlu diperkenalkan dan diterapkan secara lebih luas.

    7. Perbaikan Tata Laku Masyarakat
    Kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sangat penting. Masyarakat perlu lebih disiplin dalam membuang sampah, menjaga kebersihan, serta mematuhi aturan pembangunan agar tidak memperburuk kondisi tata ruang kota.

    8. Mitigasi dan Penanganan Pasca Bencana
    Pemerintah dan masyarakat harus memiliki sistem mitigasi yang baik, termasuk kesiapan dalam menghadapi banjir serta langkah-langkah pemulihan pasca bencana agar dampaknya dapat diminimalisir.

    Baca: Alih fungsi lahan di kawasan hulu disorot pasca banjir Jabodetabek

  • Survei WWF Temukan Kesadaran Masyarakat Akan Produk Ramah Lingkungan Terus Meningkat

    Survei WWF Temukan Kesadaran Masyarakat Akan Produk Ramah Lingkungan Terus Meningkat

    7cloud.asia – Tahukah kamu bahwa pola konsumsi dan produksi yang berlebihan menjadi tantangan besar bagi kehidupan, dengan dampak signifikan terhadap lingkungan?

    Lantas seberapa besar kesadaran masyarakat bahwa pola konsumsi mereka berpengaruh pada lingkungan? Dan, seberapa besar kesadaran mereka untuk mengonsumsi produk ramah lingkungan?

    Untuk mengetahui hal ini WWF Indonesia melakukan survei pada tahun 2017 dan 2020, di 8 kota besar di Indonesia mengenai kemungkinan konsumen untuk beralih menggunakan produk-produk ramah lingkungan/berkelanjutan.

    Survei tersebut menemukan ada peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola konsumsi yang bertanggung jawab.

    Dari yang tadinya hanya 63 persen responden (2017) menjadi 82 persen responden (2020) yang bersedia menggunakan/membeli produk ramah lingkungan (seperti minyak kelapa sawit berkelanjutan) walaupun harganya lebih mahal.

    Responden juga bersedia membayar kenaikan harga antara Rp. 1.200 hingga Rp. 6.700 untuk produk-produk yang menggunakan minyak sawit berkelanjutan.

    Baca: Warga kota dapat berkontribusi pada lingkungan dengan berempati dalam mengonsumsi

    Temuan ini mendorong WWF-Indonesia turut serta untuk berperan dalam transformasi pasar dan perilaku konsumen di Indonesia.

    WWF Indonesia tidak hanya mengkampanyekan produk ramah lingkungan yang tersertifikasi ke publik, tapi juga mendorong perusahaan-perusahaan pengguna minyak kelapa sawit untuk beralih menggunakan minyak kelapa sawit berkelanjutan (ekolabel).

    Berbagai kegiatan dilakukan, salah satunya adalah roadshow ke sejumlah daerah termasuk Bandung, Jawa Barat tahun lalu yang dikemas dalam format talkshow dengan tema “Kenalan Yuk dengan Produk Ramah Lingkungan”.

    Bekerja sama dengan Earth Hour Bandung, kampanye publik ini diadakan untuk mensosialisasikan kepada publik mengenai peran mereka dalam rantai pasok kelapa sawit berkelanjutan (ramah lingkungan) khususnya dalam memilih dan membeli produk-produk kelapa sawit berkelanjutan.

    Kampanye publik ini juga sekaligus memberikan informasi kepada publik bahwa produk-produk turunan kelapa sawit ramah lingkungan saat ini sudah tersedia pasaran.

    Sustainable Palm Oil Project Leader WWF-Indonesia, Angga Prathama Putra mengatakan bahwa salah satu cara untuk mengetahui produk tersebut mengandung minyak kelapa sawit ramah lingkungan adalah dengan mengidentifikasi adanya sertifikasi ekolabel di kemasan produk tersebut.

    Baca: Lima ciri produk ramah lingkungan

    Sebagai salah satu alat untuk menjamin sebuah produk tidak dibuat dengan merusak lingkungan, sertifkasi ekolabel ini juga memiliki nilai tambah lainnya, seperti ramah sosial dan profit ekonomi bagi petani kelapa sawit itu sendiri.

    Lalu sejauh apa produk ini dapat diklaim sebagai produk ramah lingkungan, sosial dan juga menghasilkan profit ekonomi?

    Menurut Angga, “Dari sisi lingkungan singkatnya produk tersebut dihasilkan harus melalui proses yang tidak merusak dan membakar hutan, tidak membunuh hewan endemik dan spesies terancam punah.

    Sementara dalam hal sosial, harus dipastikan tidak ada konflik sosial dengan masyarakat adat. Lantas dari sisi ekonominya terdapat anggaran untuk keberlanjutan dalam bisnis modelnya, seperti penjagaan hutan dan lingkungan.”

    Jika semua kriteria itu tidak terpenuhi, sertifikasi ekolabel tersebut tidak akan bisa disematkan pada produk kelapa sawit tersebut.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    Pegiat lingkungan asal Bandung, Siska Nirmala (@zerowasteadvanture) mengisahkan pengalamannya selaku pemilik Toko Nol Sampah di Bandung.

    Dia mengatakan bahwa masyarakat sebenarnya memang cenderung mau untuk pindah ke produk berkelanjutan.

    Tapi sayangnya bingung harus mulai dari mana. Menurutnya, produk yang berkelanjutan pun perlu ditelaah bukan hanya dengan kemasan dan kandungannya, tetapi juga bijak dalam penggunaannya, dan darimana produk tersebut berasal.

    Ia menambahkan, bahwa ke depannya memang perlu ditekankan lagi mengenai edukasi publik mengenai produk kelapa sawit berkelanjutan ini.

    “Jika sudah banyak produk yang diketahui masyarakat, maka otomatis masyarakat akan teredukasi.” imbuhnya.