7cloud.asia – Kabupaten Berau, Kalimantan Timur memiliki kawasan hutan bakau atau mangrove seluas 80 ribu hektare, namun 11 ribu hektare di antaranya dalam keadaan rusak.
Karena itu pemerintah Kabupaten Berau menggandeng Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berkolaborasi merestorasi hutan mangrove.
Restorasi hutan mangrove ini selain untuk mengembalikan kelestarian ekosistem juga untuk menyejahterakan nelayan dan petambak.
Hutan mangrove yang terjaga menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya plankton maupun jasad renik lain yang menjadi makanan ikan, udang, hingga kepiting.
Hutan mangrove merupakan benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari erosi, abrasi, dan serangan gelombang besar. Selain itu, kawasan hutan mangrove juga membantu manusia dalam penyediaan air bersih dan udara yang segar.
“Sehingga hal ini bisa dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan baik dari hasil tambak maupun nelayan tangkap. Kami berterima kasih karena YKAN bersedia membantu merestorasi,” kata Sekretaris Kabupaten Berau Muhammad Said di Tanjung Redeb, Minggu (12/1/2025) seperti dikutip Antaranews.com
Baca: Nilai ekonomi hutan mangrove capai 900 juta dolar
Said menambahkan, keberadaan hutan mangrove selain berfungsi untuk mencegah pemanasan global juga bisa meningkatkan produksi perikanan dan kelautan.
Diperlukan komitmen kuat dalam menjaga mangrove, karena keberadaannya sangat vital untuk menjaga ekosistem tetap lestari.
Ia juga memberikan apresiasi kepada YKAN atas berbagai program perlindungan kawasan mangrove yang telah dijalankan di Berau.
Dalam hal ini termasuk pendampingan kepada masyarakat dalam meningkatkan produksi ikan, udang, kepiting, dan lainnya dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Sebelumnya, saat membuka lokakarya penguatan lembaga pengelola mangrove yang melibatkan berbagai pihak pada empat hari lalu, dinyatakan bahwa Pemkab Berau memberikan dukungan untuk realisasi program restorasi mangrove.
Baca: Butuh waktu ratusan tahun untuk pulihkan hutan mangrove yang rusak
“Melalui lokakarya tentu diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada para kelompok pengelola mangrove, khususnya di lima kampung yang masuk dalam program pelestarian mangrove yang dilakukan secara bertahap tersebut,” katanya.
Sementara Direktur Program Kelautan YKAN, M Ilman menyatakan, ada dua program utama yang saat ini sedang dijalankan YKAN, yaitu kelautan dan kehutanan di 12 provinsi yang tersebar di Indonesia, salah satunya adalah Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.
“Dalam mengembalikan kelestarian mangrove seperti awal, perlu dilakukan kolaborasi dengan pemerintah dan pihak lain. Sedangkan pendekatan restorasi yang kami lakukan berbasis masyarakat, karena sebagian besar kerusakan mangrove berada di wilayah tambak yang menjadi sumber penghidupan masyarakat,” kata Ilman.

Leave a Reply