Bak Kota Mati, Begini Kondisi Mal Blok M Sekarang

Written by

in

7cloud.asia – Siapa yang tak mengenal Mal Blok M? Pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan ini dahulu sempat berjaya dan selalu dipadati pengunjung.

Kini Mal Blok M yang merupakan salah satu mal terbesar di Jakarta Selatan itu bak kota mati.

Tak ada lagi pedagang yang menawarkan dagangannya kepada pengunjung dengan pengeras suara. Tak ada lagi dentuman musik keras untuk menghibur para pengunjung Mal Blok Mal.

Tak ada pula sales yang membagikan lembaran kertas promosi kepada para pengunjung yang berlalu lalang. Tak ada pula gemerlap lampu warna warni yang menghiasi Mal Blok M.

Yang ada kini hanya beberapa orang saja berjalan dalam lorong sepi mal tersebut. Jumlahnya pun tak seberapa, dapat dihitung dengan jari.

Baca: Membangun Jakarta menjadi kota yang lebih layak huni

Sementara sebagian besar kios tampak tertutup rapat. Beberapa diantaranya ditempel selembar kertas yang tertulis: “Disewakan” atau “Dijual”.

Kondisi ini tentu saja sangat kontras jika dibandingkan dengan 10 atau 8 tahun yang lalu. Di mana saat itu Mal Blok M bagaikan magnet bagi warga ibukota untuk berbelanja atau sekadar jalan-jalan.

Apalagi saat tahun baru, liburan sekolah atau jelang lebaran. Situasi mal sangat padat dan rawan aksi pencopetan serta anak hilang.

Para pembeli tampak sibuk memilih pakaian, sepatu yang saat itu sedang menjadi tren. Hampir semua kios menawarkan diskon untuk menarik minat pembeli.

Jika pengunjung lelah, berbagai jenis makanan dan minuman tersedia dengan harga yang terjangkau.

Baca:Hari kota sedunia, mencari cara membangun kota yang berkelanjutan

Belum lagi arena bermain anak yang menawarkan berbagai jenis permainan. Seperti perosotan, mandi bola, skuter, permainan adu ketangkasan dan lain-lain.

Kini situasi tersebut tinggallah kenangan yang entah dapat terulang kembali atau tidak, tergantung kepada kebijakan pemerintah, pengelola dan pedagang.

Harapan untuk kembali seperti dulu memang tak mudah.Terlebih dengan maraknya toko online yang menjamur saat ini dengan menawarkan harga murah.

Seperti yang diakui oleh Sandi, pedagang aksesoris ponsel yang masih bertahan. Selama hampir 20 tahun berdagang di Blok M baru beberapa tahun terakhir ini ia merasakan sepi pembeli.

Omset yang ia peroleh maksimal hanya Rp 500 ribu sehari. “Nggak tentu sih mbak. Beberapa kali malah hanya dapat 100 ribu,” kata Sandi saat ditemui 7cloud.asia beberapa waktu lalu.

Baca: Inilah 5 kota nyaman dikunjungi dan ditinggali di indonesia

Kondisi ini ia rasakan sejak pandemi Covid19 melanda Indonesia tahun 2019. Padahal dahulu, sebelum pandemi Covid19, Sandi bisa memperoleh omset hingga Rp 2 juta per hari.

“Kalau rata-rata selalu diatas Rp 1 juta, mbak. Dapat Rp 2 juta itu biasanya pas mau lebaran atau natal tuh,” jelasnya.

Selanjutnya Sandi menjelaskan kondisi Mal Blok M sebenarnya sudah mulai sepi sebelum pandemi Covid19 melanda Indonesia, sekitar tahun 2017.

Kemudian pandemi Covid19 yang membatasi orang untuk keluar rumah, membuat para pedagang yang terpaksa gulung tikar serta menutup kios mereka.

Sulitnya kondisi ekonomi saat itu memaksa para pedagang untuk menyewakan bahkan menjual kiosnya.

“Benar-benar parahnya ya pas Covid19. Beberapa kali malah nggak ada yang beli,” ungkap Sandi.

Baca: Hari kota sedunia, memotret mimpi warga marginal kota

Pasca pandemi Covid19, kondisi tak kunjung membaik. Menjamurnya toko online serta kebiasaan baru pembeli untuk belanja segala kebutuhan secara online membuat para pedagang Mal Blok M sulit bangkit.

“Kan pandemi nggak bisa kemana-mana tuh. Jadi banyak (orang) yang belanja online. Sampe sekarang juga masih belanja online. Ya kami tentu saja sulit bersaing,” keluhnya

Kondisi ini diperparah dengan adanya penataan transportasi yang menghilangkan bis metromini dan kopaja.

Sebagai mal yang letaknya di bawah terminal Blok M ini, kerap menjadi tempat tongkrongan para calon penumpang.

“Dulu (sebelum ditata) calon penumpang transitnya disini, ngumpulnya disini. Meski banyak yang lihat-lihat aja tapi ada juga yang beli. Kalau sekarang boro-boro mau beli. Yang lihat pun juga jarang,” jelas Sandi sambil tersenyum getir.

Baca: 

Namun, laki-laki berusia 46 tahun ini masih merasa beruntung karena bisa bertahan hingga kini.

Kios sederhana yang ia miliki dan ia jaga sendiri itu menjadi saksi bisu masa jaya-nya Mal Blok M.  

Reporter: Nurakhmayani

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *