Pasca Longsor di TPST Bantargebang, Komisi D DPRD Dorong Solusi Jangka Panjang

Written by

in

7cloud.asia – Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike prihatin atas musibah longsor di TPST Bantargebang yang menelan korban jiwa. Ia menilai, peristiwa tersebut sebagai tragedi memprihatinkan.

Menurut Yuke, Komisi D juga terus memantau perkembangan penanganan di lapangan melalui koordinasi dengan dinas terkait.

Lebih lanjut, Komisi D mendorong adanya penambahan area operasional di TPST Bantargebang, khususnya untuk lokasi unloading atau penurunan sampah.

Penambahan lokasi unloading ini dinilai penting mengingat kapasitas tempat pembuangan tersebut sudah sangat padat.

Penambahan lahan tersebut diharapkan dapat menjadi solusi sementara, sambil menunggu program pengolahan sampah yang tengah direncanakan bisa berjalan optimal.

Baca: Longsor di TPST Bantargebang jadi alarm serius dalam pengelolaan sampah

Program pengolahan sampah itu seperti pembangunan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF), insinerator, maupun teknologi pengolahan sampah lainnya.

“Karena sampah yang menumpuk sudah dalam kondisi darurat. Jadi perlu langkah cepat, misalnya perluasan area sementara sambil menunggu program pengolahan berjalan,” jelas Yuke, dilansir beritajakarta.id, Jumat (13/3/2026)

Yuke mendorong adanya koordinasi lintas pihak, mulai dari Pemprov DKI, Kementerian Lingkungan Hidup, hingga Pemerintah Kota Bekasi untuk mencari solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah di TPST Bantargebang.

Ia berharap, seluruh pihak dapat duduk bersama untuk merumuskan langkah terbaik dalam menangani persoalan sampah di Jakarta, termasuk melalui pemanfaatan teknologi pengolahan sampah.

“Teknologi apa pun yang mampu menyelesaikan masalah sampah tentu kami siap mendukung. Yang penting ada solusi nyata,” terangnya.

Baca: Menagih tanggung jawab produsen dalam mengurangi sampah

Komisi D juga menyoroti pentingnya aspek keselamatan kerja bagi para petugas di lapangan, termasuk pekerja PJLP dan petugas Dinas Lingkungan Hidup.

“Keselamatan pekerja harus menjadi perhatian serius karena pekerjaan mereka memiliki risiko tinggi,” tandas Yuke.

Yuke juga menekankan pentingnya percepatan operasional fasilitas RDF di Rorotan agar mampu mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang.

Ia menilai, apabila RDF Rorotan dapat mencapai target pengolahan hingga 2.000 ton sampah per hari, beban TPST Bantargebang akan berkurang secara signifikan.

“Kalau RDF Rorotan berjalan maksimal, sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang bisa berkurang. Ini sangat membantu mengurangi tekanan di sana,” katanya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *