Mitigasi Gempa Sesar Lembang Harus Disesuaikan dengan Karakter Masing-masing Segmen Agar Tepat Sasaran

Written by

in

7cloud.asia – Sesar Lembang yang membentang sekitar 29 kilometer di utara Kota Bandung, bukanlah jalur patahan tunggal dengan risiko homogen.

Penyelidikan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terbaru mengungkap bahwa sesar ini terbagi menjadi tiga segmen dengan karakteristik geologi, aktivitas, dan potensi gempa yang berbeda.

Kondisi ini menuntut strategi mitigasi spesifik, terukur dan tepat sasaran yang disesuaikan karakter masing-masing segmen.

Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, Sukahar Eka Adi Saputra mengatakan Sesar Lembang adalah sistem yang kompleks dengan tiga karakter segmen yang berbeda dan setiap segmen punya karakter sendiri.

Dia menegaskan, memahami konsep tersebut adalah kunci mitigasi efektif. menurutnya, mitigasi bukan hanya melihat angka magnitudo.

Baca: Mengenal tiga segmen sesar Lembang yang membayangi Bandung 

Supartoyo menambahkan, bahwa dengan segmentasi sesar, pihak terkait memiliki peta risiko lebih tajam untuk melindungi Bandung Raya.

Kesiapsiagaan dan implementasi standar bangunan harus konsisten agar risiko korban jiwa dan kerugian ekonomi dapat diminimalkan.

Analisis segmentasi, integrasi data geofisika, serta pemahaman geologi lokal menjadi dasar strategi mitigasi yang tepat sasaran.

Penyelidik Bumi Utama Badan Geologi, Supartoyo menekankan pentingnya mitigasi berbasis data historis guna mencegah kerusakan akibat gempa bumi.

“Sejak 2000 hingga 2025, kejadian gempa bumi merusak berkisar lima hingga 41 per tahun, dengan tertinggi pada 2025. Pada 2026 tercatat enam kejadian gempa merusak.” jelasnya.

Dia menjelaskan gempa Yogyakarta 2006 menyebabkan kerugian Rp29,2 triliun, Aceh 2004 sekitar Rp13,4 triliun, Palu 2018 Rp8,5 triliun, dan Cianjur 2022 Rp4 triliun atau dengan kata lain nilai ini hampir setara APBD Provinsi atau Kota Bandung.

Baca: Badan Geologi ESDM selidiki sesar aktif pemicu gempa Bandung

Badan Geologi menekankan bahwa gempa berpotensi merusak umumnya memiliki intensitas IV–V MMI, sementara gempa Cianjur 2022 dengan magnitudo 5,6 mencapai VIII MMI.

“Dampak akan lebih besar jika bangunan tidak tahan gempa,” tambah Supartoyo.

Supartoyo menjelaskan, bahaya gempa terbagi tiga: guncangan permukaan, sesar permukaan, dan bahaya ikutan seperti penurunan tanah dan likuifaksi.

Apa yang terjadi saat gempa Palu 2018 menimbulkan pergeseran permukaan hingga 580 centimeter. Angka ini termasuk salah satu terbesar di dunia.

Mitigasi sendiri harus dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, melalui pendekatan struktural dan non-struktural.

“Gempa tidak bisa dicegah, tapi risikonya dapat ditekan jika kesiapsiagaan dan standar konstruksi diterapkan secara konsisten,” ujarnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *