7cloud.asia – Data dari UNEP pada tahun 2019 menunjukkan bahwa Jepang, China, dan Prancis merupakan tiga negara yang paling banyak memiliki fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/WtE)
Saat ini, Jepang tengah memperbanyak proses gasifikasi untuk mengubah sampah menjadi energi gas. Sementara, negara-negara lainnya masih mengandalkan teknik insinerasi konvensional.
Dilansir Waste4Change, Nippon Steel Engineering, salah satu perusahaan Jepang yang telah membangun kurang lebih 50 fasilitas WtE menggunakan gasifikasi bahkan telah mengimplementasikan teknik Direct Melting System (DMS).
Direct Melting System adalah teknologi gasifikasi limbah. Teknologi ini telah terbukti dan memiliki referensi komersial terbesar di dunia, memungkinkan pemulihan energi dan material dalam satu sistem.
Dengan teknologi ini, mereka berhasil mengurangi jumlah material residu fasilitas pengolahan sampah menjadi energi Jepang dari 15 persen menjadi 3 persen.
Perkembangan fasilitas Waste to Energy yang cukup pesat di Jepang ini tidak lepas dari dukungan regulasi.
Baca: Pemerintah segera bangun 33 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah
Jepang menjadi negara yang cukup keras perihal pengelolaan sampah. Pemerintah daerah diwajibkan untuk memberikan rencana manajemen sampah selama 20 tahun ke depan.
Pemerintah Jepang juga mewajibkan daerah untuk mengelola sampahnya secara mandiri. Pengangkutan sampah dengan rute panjang dilarang keras.
Selain Jepang, Singapura adalah contoh negara yang cukup maju dalam pengadaan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (WtE)
Meski luas wilayahnya lebih kecil dibanding Jakarta, menurut data, timbulan sampah Singapura naik 7 kali lipat dari 1.260 ton di 1970 hingga 8.741 di 2021. Singapura hanya memiliki satu tempat pembuangan akhir (TPA), yakni Semakau Landfill.
Untuk dapat mengatasi hal tersebut, pemerintah Singapura membangun 4 fasilitas pengolahan sampah menjadi energi yang akan membantu mengkonversi 90 persen sampah padat menjadi 2 persen energi listrik nasional.
Minimnya lokasi TPA merupakan salah satu alasan mengapa fasilitas WtE dibutuhkan untuk mengendalikan dampak negatif dari timbulan sampah di Singapura.
Baca: PLTSa, solusi atau masalah baru dalam pengelolaan sampah
Penerapan di Indonesia
Kesuksesan negara-negara pengguna fasilitas pengolahan sampah menjadi energi dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Indonesia.
Akan tetapi, dalam praktiknya pengolahan sampah menjadi energi di negara-negara tersebut tidak bisa begitu saja diterapkan untuk mengatasi permasalahan sampah di Indonesia.
Perlu ada edukasi agar masyarakat lebih bertanggung-jawab dalam mengolah sampah yang mereka hasilkan, salah satunya adalah dengan memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya.
Hal mendasar lain yang harus diperhatikan pemerintah adalah, pengurangan sampah menjadi hal mendasar dalam pengelolaan sampah. Sedangkan pengolahan sampah menjadi energi berada di tahapan ke-4 dalam hierarki pengelolaan sampah yaitu atau tahap recovery.
Meski manfaatnya besar, namun ada banyak proses yang perlu dilakukan dalam tahap recovery. Oleh karena itu upaya mengurangi sampah (reduce) lebih penting digaungkan dibanding dengan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.
Selain melihat hierarki pengelolaan sampah, tantangan pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia cukup besar terutama dari sumber pembiayaan sampai human resources atau sumber daya manusia. Karena itu pembangunan PLTSa perlu diperhatikan dengan matang.

Leave a Reply